Nilai-Nilai Kepemimpinan Ratu Balqis, Sosok Perempuan Tangguh di Masa Sulaiman

 Nilai-Nilai Kepemimpinan Ratu Balqis, Sosok Perempuan Tangguh di Masa Sulaiman

Nilai-Nilai Kepemimpinan Ratu Balqis, Sosok Perempuan Tangguh di Masa Sulaiman (Ilustrasi/Istimewa)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Al-Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah perempuan agar bisa dijadikan teladan. Salah satu di antaranya adalah kisah Ratu Balqis yang diceritakan dalam surah An-Naml.

Nama Ratu Balqis memang tidak tertulis di dalam narasi Al-Qur’an. Namun, nama Ratu Balqis banyak di sebutkan dalam berbagai kitab-kitab tafsir.

Ratu Balqis merupakan seorang pemimpin kerajaan di Negeri Saba’.

Negeri Saba’ digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai negara baldatun toyyibatun wa robbun ghafur yang menurut Quraish Shihab adalah negeri yang aman sentosa, melimpah rezekinya dapat diperoleh secara mudah oleh penduduknya, serta terjalin pula hubungan harmonis kesatuan persatuan antar anggota masyarakatnya.

Kisah Ratu Balqis Dalam Al-Qur’an

Diceritakan Nabi Sulaiman mendapatkan informasi mengenai Balqis dari burung Hud bahwa terdapat seorang perempuan memimpin Kerajaan Sabaiyah yang memiliki singgasana yang besar.

Namun Ratu dan kaumnya tersebut menyembah matahari.

Mengutip Hasan al-Bashri dalam Tafsir Ibn katsir “Ratu Balqis binti Syurahi, merupakan seorang ratu di negeri Saba’.

”Qatadah berkata “Ibunya adalah jin perempuan.”

Ia berasal dari keluarga kerajaan dan memilki 312 pemimpin dewan musyawarah. Di mana satu orang pemimpin memiiki anggota 10.00 orang.

Kerjaan yang dipimpin Ratu Balqis berada di daerah Ma-rib yang berjarak 3 mil dari kota Shan’a.

Dia memiliki singgasana yang besar serta dihiasi emas dan berbagai macam mutiara dan berlian. Di dalamnya terdapat 360 jendela di arah timur dan barat.

Kerajaan itu dibuat sedemikian rupa agar matahari dapat masuk setiap hari dari jendela dan terbenam dari bagian jendela yang lain, agar mereka dapat bersujud kepadanya di waktu pagi dan petang.

Sehingga burung hud-hud berkata bahwa mereka menyembah matahari.

Untuk itu Nabi Sulaiman kemudian menulis pesan berupa sepucuk surat kepada Ratu Balqis yang bertuliskan bismillahirrohmanirrohim.

Menurut satu pendapat Hud hud membawa surat dengan diletakkan di sayapnya sebagaimana burung pada biasanya.

Menurut pendapat lain Hud hud meletakkan surat di paruhnya. Hud hud kemudian menjatuhkan surat tersebut di celah yang berada di hadapannya.

Mendapat surat dari Nabi Sulaiman, Ratu Balqis kemudian mengumpulkan para pembesar kerajaan kemudian bercerita pada mereka bahwa telah mendapat surat dari Nabi Sulaiman.

Dia berkata kepada para pembesarnya,

“Wahai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelisku ini.” (Q.S. An-Naml ayat 32)

Para pembesar kerjaan menyarankan Ratu Balqis untuk berperang bersama Sulaiman, namun Ratu Balqis menolak saran tersebut karena menurutnya apabila raja-raja telah menaklukkan sebuah negeri, mereka akan membinasakan dan menjadikan penduduknya hina.

Kemudian Balqis memutuskan untuk mengirimkan seorang utusan kepada Sulaiman dengan membawa hadiah.

Namun Sulaiman menolak hadiah yang diberikan dengan menyuruh utusan tersebut untuk kembali kepada negeri Saba’.

Nabi Sulaiman memerintahkan para pembesar kerajannya untuk memindahkan singgasana Balqis dari negeri Saba’ ke Palestina.

Ifrit berkata kepada Sulaiman,

“Aku akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu.”

Kemudian ahlul kitab berkata kepada Sulaiman,

“Aku akan membawa singgawana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

Maka seketika Sulaiman melihat Singgasana Balqis sudah berada di hadapannya.

Di akhir kisah dalam Al-Qur’an Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis akhirnya bertemu dan diakhiri dengan Ratu Balqis yang memeluk Islam.

Nilai-nilai Kepemimpinan Ratu Balqis

Dari kisah Ratu Balqis dapat diambil beberapa hikmah yang kemudian dapat dijadikan teladan oleh kita saat ini terutama oleh para pemimpin di antaranya.

Pertama, seorang pemimpin perempuan. Kisah Ratu Balqis tersebut seakan-akan mematahkan stigma masyarakat saat ini bahwa perempuan tidak pantas menjadi pemimpin.

Kata “pemimpin” bukanlah sebuah teks yang menunjukan identitas seseorang, sehingga siapa saja bisa menjadi pemimpin karena syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin adalah  bersikap positif, pandai berkomunikasi, sikap teladan, tegas dan yang terakhir adalah bijaksana.

Kedua, pandai berdiplomasi. Ketika para pembesarnya menyarankan untuk berperang, Balqis justru mengirimkan hadiah kepada Sulaiman hal itu menunjukan bahwa Balqis berkeinginan untuk berhubungan baik dengan Sulaiman.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengatakan bahwa pengiriman tersebut bertujuan untuk mengulur waktu melihat tanggapan Sulaiman dan berfikir lebih jauh tentang langkah yang akan diambil, apakah memerangi mereka atau justru berdamai.

Ketiga, mementingkan kehidupan rakyat. Upaya perdamaian yang dilakukan Ratu Bilqis juga dalam upaya agar tidak terjadi perang. Upaya tersebut berbentuk hadiah yang dia kirim kepada Nabi Sulaiman.

Menurutnya peperangan pasti akan mengakibatkan kehancuran bangunan, pengungsian penduduk, atau pembunuhan.

Kemudian pemerintah yang telah dikalahkan akan dihina dan dipermalukan.

Keempat, Tidak otoriter. Sikap ini terlihat saat Ratu Balqis meminta saran kepada pembesar kerajaannya ketika dia menerima surat dari Sulaiman dengan berkata,

Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelisku ini.”

Namun setelah bermusyawarah Ratu Balqis tetap menggunakan hak Prerogratifnya sebagai seorang pemimpun.

Ini menunjukan bahwa Ratu Balqis sangat menjunjung tinggi sikap demokratis dan lebih mengutamakan musyawarah.

Wallahu a’lam bish-shawab. []

Khairun Niam

Khairun Niam adalah seorang mahasiswa dan santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta. Dapat disapan melalui Instagram @khn.niam10.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *