Nawal El Sadawi: Novelis Pejuang Hak-Hak Perempuan

 Nawal El Sadawi: Novelis Pejuang Hak-Hak Perempuan

Nawal El Sadawi (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Perempuan pasca datangnya Islam, amat sangat dimuliakan oleh Allah.  Saat ini perempuan mempunyai  peran yang sangat urgen di masyarakat. Stigma perempuan di kasur, sumur, dan dapur sudah mulai terkikis, meskipun hal ini tidak mudah bagi masyarakat pedesaan sehingga masih ada dan melekat bahkan mengakar.

Namun bias gender di kalangan masyarakat itu ditepis oleh Novelis perempuan asal Mesir, Nawal El Sadawi. Ia merupakan penulis buku fenomenal “Perempuan di Titik Nol”.

Selain seorang novelis, ia juga seorang dokter, serta pejuang hak-hak perempuan dan pekerja miskin. Nawal El Sadawi juga produktif, terbukti dengan kegemarannya menulis sejak umur 13 tahun hingga kini melahirkan banyak karya.

Nawal lahir di sebuah Desa bernama Kafr Tahia di tepi sungai Nil. Ia juga menikah dengan seorang dokter bernama Sherif  Yousseff Hetata, kemudian ia di karuniai dua orang anak. Nawal El Sadawi di kenal dengan sosok feminis pembela harkat dan martabat lewat tulisan dan karya-karyanya yang pedas.

Memperjuangkan Hak Perempuan dan Menentang Pemerintahan

Perjuangan Nawal El Sadawi dalam memperjuangkan hak-hak perempuan Mesir pada saat itu sangatlah partut di apresisasi. Sebab sebagai seorang dokter, ia juga dikenal sebagai perempuan yang menulis kritikan pedas dengan praktik medisnya.

Pada tahun, 1972 ia menerbitkan buku dengan judul Women and sex yang kemudian dilarang oleh pemerintahan Mesir. Buku ini membela hak-hak perempuan yang dikaitkan dengan kesehatan, seperti khitan alat kelamin perempuan.

Nawal juga dikenal bukan hanya sebagai sosok intelaktual, bahkan pemikirannya pun mampu menghipnotis perempuan-perempuan agar tidak terbelenggu dalam budaya patriaki. Tetapi aksinya tersebut ternyata cukup mengguncang Jazirah Arab karena ia menginginkan keadilan bagi perempuan.

Selain memperjuangkan hak-hak perempuan, Nawal El Sadawi terbuka mengkritik kebijakan presiden Anwar Sadat. Akibat dari perbuatan tersebut Nawal dimasukkan ke sel tahanan karena dipandang berbahaya dan kontra terhadap pemerintahan sekaligus membantu penerbitan majalah perempuan.

Novel perempuan di Titik Nol

Novel perempuan di Titik Nol merupakan salah satu tulisan karya sastra Nawal El Sadawi yang keras dan pedas. Novel ini bermaksud mengkritik pemerintah di Mesir. Salah satu  isi novel ini menjelaskan bagaimana perempuan mengalami ketertindasan, tidak boleh mengenyam pendidikan dan tunduk terhadap aturan.

Sekilas tentang novel ini adalah kisah dari Nawal El-Sadawi itu sendiri. Nawal yang berprofesi sebagai dokter tengah melakukan suatu penelitian mengenai kepribadian suatu kelompok perempuan yang terpenjara karena di tuduh melakukan pelanggaran (membunuh dan mencuri).

Sama seperti hal di atas, novel ini bercerita tentang tokoh yang bernama Firdaus, seorang perempuan yang cantik, cerdas. Ia adalah anak seorang petani yang miskin. Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, Firdus mengalami penderitaan dan selalu di keliling oleh budaya patriaki yang mendominan pada masa itu, baik dalam pendidikan atau ruang publik yang lain.

Novel Berkelas yang Mengagungkan Islam dalam Memandang Perempuan

Sosok Firdaus dalam novel digambarkan sebagai perempuan yang pemberani. Meski perempuan pada saat itu mengalami diskriminasi, penyiksaan, pemukulan, makan lebih sedikit dan sebagainya.

Nyatanya hal itu tidak menyulutkan semangat Firdaus yang terus mendongkrak budaya patriaki yang mengakar pada saat itu. Hingga ia pada akhirnya divonis dihukum gantung karena di tuduh melakukan pembunuhan.

Novel “Perempuan di Titik Nol” ini juga menggambarkan betapa Islam sangat memuliakan kaum perempuan karena ia adalah mahkluk yang istimewa. Salah satunya adalah kedudukan antara laki-laki dan perempun di mata Allah adalah sama, yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya.

Kehadiran novel Nawal El Sadawi menunjukkan bahwa perjuangan perempuan Mesir untuk merebut kedudukan dan hak-hak yang sama, sangatlah berat. Lebih penting lagi untuk mendapatkan perubahan nilai dan Sikap kaum laki-laki Mesir terhadap perempuan masih belum tercapai sepenuhnya.

Nafilah Sulfa

https://hidayatuna.com/

Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa Pamekasan Madura, dan Mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir semester akhir di IAIN Madura. Pegiat kajian Feminisme.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ten − 2 =