Cancel Preloader

Natal 2020: Gebrakan Gus Dur Pada Toleransi Di Indonesia

 Natal 2020: Gebrakan Gus Dur Pada Toleransi Di Indonesia

Natal 2020 Gebrakan Gusdur

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Perayaan Natal tiap tahunnya yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah bagian dari peristiwa teologis umat Kristen. Setiap tahunnya saudara kita yang beragama Kristen melalui hari keagamaan tersebut dengan penuh suka cita, berkumpul bersama orang-orang tercinta, dan sarat akan harapan tulus mereka.

Keberadaan umat Kristen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia tentunya adalah bagian dari bangsa ini. Sebagai masyarakat Indonesia, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencintai dan menjaganya. Tidak terkecuali saling menjaga antar umat beragama yang ada di Indonesia.

Perbedaan agama bukanlah suatu alasan untuk tidak saling menghargai dan menghormati karena setiap warga negara Indonesia memiliki hak memeluk agama secara bebas. Kita juga tidak memiliki hak untuk mengganggu atau mengusik umat agama lain. Baik dalam beribadah hingga kegiatan keagamaan yang diselenggarakan.

Seolah telah menjadi suatu kebiasaan ketika menuju hari Natal akan bermunculan pro dan kontra mengenai ucapan Selamat Natal. Mulai banyak artikel-artikel yang diangkat mengenai hukum boleh tidaknya mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristen.

Setiap orang tentu memiliki perspektif yang berbeda-beda di dalam memutuskan akan memberikan ucapan tersebut atau tidak. Namun, bukan berarti kita bisa men-judge secara langsung bahwa orang yang memutuskan untuk memberi ucapan Selamat Natal adalah haram.

Toleransi Ala Gus Dur dalam Perayaan Natal

Jika membicarakan tentang toleransi, hal ini akan mengingatkan kita kepada sosok humanis Gus Dur yang semasa hidupnya berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kebhinekaan di Indonesia.

Seorang yang sejak kecil berada dalam lingkungan pondok pesantren, namun tidak membuatnya alergi dengan keberadaan umat agama lain. Beliau tidak merasa dirinya berbeda dengan yang lain. Beliau sangat yakin bahwa untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di Indonesia haruslah melibatkan semua umat beragama.

Hal ini dibuktikan dengan peran Gus Dur ketika masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Di mana beliau turun langsung untuk mengamankan malam hari Natal di berbagai gereja. Bahkan beliau juga memerintahkan pada Barisan Serbaguna Gerakan Pemuda Ansor atau lebih kerap disapa Banser untuk menjaga gereja di malam Natal.

Tidak hanya itu saja, track record seorang Gus Dur akan cintanya pada toleransi juga dibuktikan melalui kehadiran beliau dalam Perayaan Natal tingkat Nasional di Balai Sidang Senayan, pada Senin 27 Desember 1999. Kehadirannya ini terjadi setelah beberapa bulan beliau dilantik menjadi presiden.

Gus Dur Ucapkan Salam Islam saat Natal

Hal menarik dari kehadiran beliau adalah pemberian pidato yang dibuka dengan ucapan “Assalamu’alaikum”. Sebuah ucapan yang biasanya hanya ditujukan kepada sesama umat Islam saja. Namun kali ini, beliau mengucapkannya di depan umat Kristen yang tentu saja ditujukan kepada saudara kita yang sedang merayakan Natal.

Sebagaimana dikutip melalui Tirto, Gus Dur memberikan alasannya,

Saya sengaja tidak mengucapkan selamat malam, karena ‘Assalamu’alaikum’ berarti kedamaian atas kalian”.

Kemudian pernyataan beliau dilanjutkan melalui kutipan di dalam harian Kompas pada tahun 1999 yang menyatakan,

Saya adalah seorang yang meyakini kebenaran agama saya. Tetapi ini tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesama umat manusia.

Gus Dur juga pernah menyampaikan di dalam sebuah artikel dengan judul “Harlah, Natal, dan Maulid” bahwa dirinya tidak memikirkan terlalu dalam tentang diharamkannya bagi umat Islam yang turut serta di dalam upacara Natal. Bahkan untuk mengucapkannya pun juga dianggap haram.

Kemerdekaan Menghormati Natal atau Tidak

Umat Islam, bagi beliau, hendaknya memiliki kemerdekaan untuk bisa menghormati perayaan Natal atau tidak. Bahkan beliau juga mengungkapkan, jika perlu umat Islam ikut serta di dalam perayaan Natal.

Gus Dur meyakini bahwa umat Islam yang turut serta di dalam perayaan Natal adalah untuk menghormati lahirnya seorang utusan dari Allah yang di dalam Al-Quran pun turut disebutkan. Kita sebagai umat Islam mengenalnya sebagai Nabi Isa, sedangkan di dalam Kristen adalah Yesus.

Ada banyak hal tentang toleransi yang bisa kita gali dari sosok Gus Dur. Kyai bersahaja yang cinta akan negeri ini dan seluruh masyarakat di dalamnya. Salah satunya adalah sikap toleransi beliau kepada umat Kristen yang sedang merayakan Natal.

Setiap orang memiliki hak masing-masing untuk mengucapkannya atau tidak. Bagi yang mengucapkan, maka itu adalah sebentuk sikap menghargai akan saudara sebangsanya yang tengah merayakan.

Jika pun tidak mengucapkan, maka jangan sampai merasa hatinya terusik ketika mendengar umat Islam lainnya mengucapkan Natal lalu memberinya label haram. Tetaplah menjaga perdamaian dan ketenangan di bumi pertiwi ini.

Widya Resti Oktaviana

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − seventeen =