Nahi Mungkar dan Gerakan Dakwah yang Progresif

 Nahi Mungkar dan Gerakan Dakwah yang Progresif

Khotbah Jumat (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kemajuan zaman setidaknya telah menjadikan alam dan segenap isinya menjadi lebih kompleks. Bahkan, segala sesuatu yang mungkin oleh manusia beberapa abad lalu dianggap mustahil sama sekali, hari ini menjadi hal yang bahkan biasa dan mudah untuk diwujudkan.

Ya, melalui teknologi yang terus dikembangkan manusia dengan begitu pesatnya tidak ada yang tidak mungkin hari ini. Namun, tanpa perlu dipungkiri, kemajuan ini juga telah menjadikan kehidupan manusia mengalami pergeseran dari segala sisi. Mulai dari pergeseran budaya, cara pikir, tindakan, dan seterusnya, yang ujungnya adalah pola hidup yang semakin pragmatis.

Lepas dari hal itu, setidaknya kita dapat beranggapan bahwa saat ini kita sedang berada pada situasi degradasi moral. Dalam konteks di negeri ini, sudah selayaknya problem ini menjadi tantangan bagi setiap elemen warga negara. Dimulai dari kesadaran individual untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian bersama-sama memperbaiki krisis di lingkungan sekitar dan masyarakat luas.

Semua dapat kita lakukan dengan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan yang mungkin paling populer: agama. Namun pendekatan ini tidak selalu harus digunakan, sebab terkadang―maaf―tidak laku pada sebagian masyarakat tertentu.

Pentingnya Penyesuaian Metode Dakwah

Dakwah yang dilakukan oleh para Da’i dengan maksud menyadarkan masyarakat dari perilaku tertentu misalnya, kadang malah membuat masyarakat jengkel dan justru menjauh. Sebab mungkin metode dakwah yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut. Di sinilah kemudian pentingnya paham situasi dan kebutuhan.

Bagi saya, persoalan moral individual dan yang berimbas pada dunia sosial yang sifatnya teologis, seperti pelanggaran terhadap syariat agama dan sejenisnya yang bagi masyarakat dikategorikan sebagai perilaku mungkar, mungkin cukup diselesaikan dengan pendekatan agama. Akan tetapi, tidak untuk problem sosial atau yang bahkan menjadi isu krusial di ranah global, seperti halnya terorisme, praktik-praktik kapitalisme yang menindas rakyat kecil, rasisme dan ketidakadilan bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Selain kurang komprehensif, kekuatan agama juga rentan pada subjektivitas. Ujung-ujungnya hanya akan mental. Sebab itu, perlulah ditempuh melalui metode-metode lain yang lebih akomodatif. Namun, bukan berarti meninggalkan peran agama sama sekali.

Pentingnya membangun kesadaran dan ikut mengambil peran dalam menangani problem sosial yang sering terjadi di masyarakat sudah menjadi keharusan setiap warga negara. Dalam agama Islam sendiri, perintah untuk mencegah dan melawan perbuatan buruk (nahi mungkar) bahkan banyak disebutkan dalam Alquran.

Namun, tak jarang juga sebagian kecil umat Islam menyalahtafsirkan perintah dalam ayat-ayat itu dengan praktik-praktik yang tanpa disadari juga mengandung kemungkaran. Akhirnya malah nahi munkar bil munkar. Padahal, dalam melawan kemungkaran seharusnya ditempuh dengan jalan yang sebaliknya, bil ma’ruf; dengan kelembutan, sopan santun, dan keramahan.

Dakwah di Era Kiwari

Mendefinisikan kemungkaran hari ini tidak cukup sebatas yang menyangkut persoalan moral-teologis. Kemungkaran dalam kehidupan saat ini jelas lebih kompleks dan menyangkut hal-hal yang berdampak besar bagi kehidupan sosial secara luas.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, seperti praktik-praktik kapitalisme yang tidak senafas dengan jiwa Pancasila, konflik agraria yang tak ada habisnya, korupsi yang merajalela, dan problem-problem lain yang menimbulkan ketidakadilan bagi rakyat, adalah kemungkaran paling nyata dan harus kita carikan solusi dan selesaikan bersama-sama.

Tentu mengatasinya harus dengan cara-cara yang baik dan bijak. Kekerasan tidak perlu digunakan sebab hanya akan menimbulkan permasalahan yang semakin rumit bahkan tak ada ujungnya. Cara terbaik adalah melalui gerakan-gerakan yang akomodatif, terstruktur, sekaligus edukatif sehingga dapat menyugesti masyarakat untuk minimal bersimpati.

Sebenarnya tidak sedikit yang sudah memulainya melalui organisasi atau komunitas yang bergerak dalam isu-isu agraria, gender, pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil, gerakan anti korupsi, dan lain sebaginya. Hanya saja, seperti yang kita ketahui, meskipun sudah cukup masif, gerakan mereka seolah terlunta-lunta. Mereka masih kurang mendapatkan perhatian dari segenap kalangan. Terutama dari kita yang (ngakunya) kaum terpelajar.

Saya mengartikan gerakan-gerakan semacam itu sebagai bagian dari dakwah yang membumikan nilai-nilai agama. Gerakan dakwah yang mencoba melakukan perbaikan dalam segala aspek kehidupan sosial untuk kemajuan.

Bukan sebatas dakwah yang mengampanyekan pembumian ajaran-ajaran agama yang bersifat ubudiah-spiritual. Oleh karena itu, saya menyebutnya sebagai gerakan dakwah yang humanis, sekaligus progresif. Dakwah yang bisa dilakukan siapa saja.

Nahi Mungkar Zaman Kini

Inilah nahi mungkar dalam wujud nyata pada zaman sekarang. Kita yang terlibat dalam gerakan-gerakan seperti di atas, secara implisit sudah terlibat dalam memerangi kemungkaran.

Secara esensial, sebenarnya sedang mendakwahkan pembumian nilai-nilai Islam untuk perbaikan dan kemajuan peradaban. Bukankah Islam adalah agama yang sarat nilai?

Bukankah Islam lahir membawa spirit kemajuan? Adalah prihatin bila memaknai Islam sebatas sebagai agama yang mengurusi persoalan ibadah transendental, sementara itu abai terhadap kewajiban sebagai makhluk sosial.

Sebagai pungkasan, hal inti yang sebenarnya ingin saya tegaskan: bahwa hari ini, kita perlu melakukan restorasi makna dan reorientasi gerakan dakwah. Meloncat dari satu dimensi menuju dimensi lain yang lebih lebar.

Melalui beberapa contoh gerakan yang saya sebutkan sebelumnya, keterlibatan kita akan begitu bermakna meskipun dalam bentuk yang paling sederhana, tulisan misalnya. Hanya perlu menumbuhkan kesadaran untuk ikut terlibat, sesuai minat dan kemampuan.

Semoga bermanfaat.

Rofiki Asral

Penikmat kopi hitam, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − fifteen =