Nafsumu Sangat Kuat Ketika Lapang dan Tidak Berdaya Ketika Sempit

 Nafsumu Sangat Kuat Ketika Lapang dan Tidak Berdaya Ketika Sempit

Nafsumu Sangat Kuat Ketika Lapang dan Tidak Berdaya Ketika Sempit

Oleh: Prof. Dr. Ahmad Thib Raya

HIDAYATUNA.COM – Sangat terasa dan disadari oleh kita ketika Ibn Atha’illah berkata dalam untaian kalimat hikmahnya: “Semasa lapang, nafsu bisa memainkan perannya melalui gembira. Semasa sempit, nafsu tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kalimat Hikmah ini diungkapkan oleh Ibn Atha’illah dalam kalimat hikmahnya yang ke-84 di dalam bukunya Terjemah al-Hikam, hal. 121.

Dari kalimat Ibn ‘Atha’illah itu saya dapat berkata seperti ini: “Semasa lapang, nafsu sangat kuat perannya melalui gembira. Semasa sempit, nafsu sangat lemah perannya melalui sedih. Saat lapang nafsumu kuat, saat sempit nafsumu lemah. Kegembiraanmu dalam kelapangan menambah kuat energi nafsumu. Kesedihanmu dalam kesempitan melemahkan enegi nafsumu.”

Ibn Atha’illah mengingatkan kita agar berhati-hati pada saat lapang, pada saat senang, dan pada saat gembira. Karena pada saat itu nafsu yang ada di dalam dirimu sangat kuat memainkan perannya untuk mendorong engkau melakukan apa saja. Saat lapang itu nafsumu dengan leluasa bergerak, leluasa untuk memerintah dirimu, dan mudah mendorongmu untuk berbuat. Pada saat lapang, orang mudah lupa, lupa dirinya, lupa orang lain, lupa nikmat Tuhan, dan lupa Tuhannya.

Pada masa sempit, kata Ibn ‘Atah’illah, tidak usah Anda khawatir. Karena pada saat itu nafsu yang ada di dalam dirimu sangat lemah bahkan tidak berdaya memainkan perannya untuk mendorong engkau melakukan apa saja yang engkau inginkan. Saat sempit nafsumu tidak leluasa bergerak, tidak leluasa memerintah dirimu, dan tidak kuat mendorongmu untuk berbuat. Pada saat sempit, orang mudah mengingat, mudah mengingat dirinya, menyadari dirinya, mudah mengingat orang lain, mudah mengingat nikmat Tuhan, dan mudah mengingat Tuhannya.

Terkait dengan pesan Ibn Atha’illah di atas, ingatlah kata Allah di dalam Al-Qur’an:

  1. “Apabila kami memberi nikmat (kebaikan, kesenangan, kelapangan, dan kegembiraan) kepada manusia, mereka berpaling dan menyimpang dari Allah. Ketika mereka mendapat keburukan (kesempitan, kesulitan, dan kesusahan), mereka mengeluh.” (Al-Isra’ [17]: 83).
  2. ““Apabila kami memberi nikmat (kebaikan, kesenangan, kelapangan, dan kegembiraan) kepada manusia, mereka berpaling dan menyimpang dari Allah. Ketika mereka mendapat keburukan (kesempitan, kesulitan, dan kesusahan), doa mereka mereka sangat panjang.” (Fushshilat [41]: 51)

*Dikutip dan diuraikan oleh Ahmad Thib Raya, dari Buku Terjemah al-Hikam, oleh Ibn Atha’illah al-Iskandary

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × 4 =