Nabi-Nabi Palsu di Masa Abu Bakar al-Shiddiq

 Nabi-Nabi Palsu di Masa Abu Bakar al-Shiddiq

Aiman Abul Barakat, “Gandrung (Perindu) Nabi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Problem pertama yang dihadapi Abu Bakar setelah dilantik menjadi kepala negara (khalifah) adalah pemberontakan, pemurtadan. Demikian juga untuk melurusan akidah masyarakat yang melenceng pasca Nabi wafat, dan memerangi nabi-nabi palsu.

Pada saat itu, masyarakat terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama yang murtad dan mengaku-ngaku jadi Nabi setelah Nabi Muhammad wafat. Meskipun sebenarnya ketika Nabi Muhammad masih hidup, sudah banyak juga yang mengaku menjadi Nabi.

Kemudian terulang kembali pada masa pemerintahan Abu Bakar. Mereka adalah Bani Thayyi’, Bani Asad dan orang-orang dari Ghatafan yang dipimpin oleh Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi dan Bani Hanifah yang dipimpin oleh Musailamah bin Tsamamah (Musailamah Al-Kaddzab), serta penduduk Yaman yang dipimpin oleh Al-Aswad Al-‘Ansi.

Golongan kedua adalah mereka yang membangkang untuk mengeluarkan zakat. Mereka adalah sebagian penduduk bani Tamim yang dipimpin oleh Malik bin Nuwairah, Bani Hawazin dan yang lain.

Mereka beranggapan bahwa zakat adalah suatu bentuk upeti terhadap Rasullullah sehingga mereka menolaknya. Setelah pemberontakan dan berbagai masalah internal telah teratasi, ia melanjutkan misi Rasulullah untuk menyiarkan syi’ar Islam ke seluruh pelosok negeri. (Syaikh Khudhari Bik, Itmam Al-Wafa’ fi Sirah Al-Khulafa’, hlm. 19)

Berikut nama-nama palsu yang cukup meresahkan Abu Bakar di masa pemerintahannya:

Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi

Pada saat Nabi masih hidup, Thulaihah pernah mengaku bahwa dirinya mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Jibril memerintahkannya untuk memerangi orang-orang yang membangkang, menyombongkan diri, dan mengganti serta merubah sebagian syari’at Islam yang benar.

Bani Thayyi’, Bani Asad dan orang-orang dari Ghatafan memberikan aplaus (dukungan penuh) kepadanya. Mereka yang disesatkan oleh ulah Thulaihah sehingga ketika melaksanakan salat hanya dengan berdiri saja.

Tidak perlu sujud karena Allah tidak akan memaafkan orang yang menggulingkan wajahnya (sujud). (Mahmud ‘Abdul Fattah, Abu Bakar al-Shiddiq wa Banuhu, hlm. 80)

Pendakwaan Thulaihah bahwa dirinya menerima wahyu adalah kata-katanya dalam bentuk syair:

“والحمام واليمام، والضرد الوام، قج صمن قبلكم بأعوام، ليتلغن ملكنا العراق والشام”

Demi burung dara dan burung tekukur, demi burung pemangsa yang kelaparan, yang sudah diburu sebelummu beberapa tahun, raja kita pasti mengalahkan Irak dan Syam. (Husain Haekal, Abu Bakar, hlm. 109)

Musailamah al-Kaddzab

Musailamah berasal dari keturunan Bani Hanifah yang tinggal di Yaman. Ketika berada di Madinah, ia mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah teman Nabi Muhammad; sama-sama seorang nabi.

Ia juga mengaku bahwa seorang nabi memiliki hak separoh dari bumi ini dan separohnya lagi miliki orang Quraisy. Namun mereka tidak bertindak adil.

Tidak hanya itu, Musailamah juga menyesatkan orang dengan mengatakan bahwa salat yang wajib hanya tiga kali. Dengan menghilangkan salat subuh dan salat isya’, dan menghilangkan hukum potong tangan dan potong kaki.

Di antara karya Musailamah untuk menandingi Alquran adalah:

والمبذرات زرعا. والحاصدات حصدا. والذاريات قمحا. والطاحنات طحنا. والخابزات خبزا. والثاردات ثردا. واللاقمات لقما. إهالة وسمنا. لقد فضلتم على أهل الوبر. وما سبقكم أهل المدر. ريفكم فامنعوه. والباغي فناوؤوه

Wahai penyemai benih, dan demi pemanen tanaman, dan demi penabur gandum dan demi penggiling gandum. Dan demi pembuat roti, dan demi pembuat bubur, dan demi yang menelan makanan, Ihalah dan minyak samin. Kalian telah dilebihkan atas penduduk Wabar, dan penduduk Wabar tidak akan menandingi kalian, maka pertahankanlah kota kalian. Dan orang yang meminta maka lindungilah dia, orang yang sesat jauh maka tolonglah dia”.

Musailamah mati di rumahnya. Ia dibunuh oleh Washyi bin Harb, pembunuh Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib dibantu oleh Abu Dujanah Samak bin Kharsyah. (Lihat sya’ir-sya’ir Musailamah dalam Muhammad Ridah, Abu Bakar Awwal Al-Khulafa’ Al-Rasyidin, hlm. 93-94)

Al-Aswad

Nama aslinya adalah ‘Aihalah bin Ka’ab. Dijuluki Al-Aswad karena ia orang berkulit hitam. Dia berasal dari kabilah Mudzhaj. Ia sudah mengaku menjadi nabi sejak nabi masih hidup.

Ketika Abu Bakar dilantik, ia muncul kembali dan mendapat banyak pengikut. Ia adalah seorang paranormal yang tinggal di Yaman bagian selatan, seorang tukang sihir yang mampu membuat berbagai cara tpu muslihat dan memengaruhi penduduk dengan kata-katanya.

Al-Aswad mengaku menjadi nabi dan menamakn dirinya dengan Rahman al-Yaman. Ia mengaku bahwa dirinya memelihara setan yang dapat mengalahkan siapa saja, dan juga dapat mengalahkan segala bentuk rencana musuh.

Ia tinggal di goa Khabban di Mazhij. Banyak orang-orang yang menjadi pengikutnya karena tertarik dengan kata-katanya dan terpesona dengan apa yang katanya adalah perkataan setan.

Al-Aswad juga mengaku bahwa dirinya didatangi oleh dua malaikat yang bernama Sahiq dan Syaqiq dengan membawa wahyu. Ia mati di tangan Fairuz Al-Dailami dan Qais bin Maksyuh Al-Muradi yang memasuki rumahnya dan mendapatinya sedang mabuk. (Husain Haekal, Abu Bakar, hlm. 64)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × three =