Nabi Muhammad pun Pernah Ditegur Allah, Begini Teguran-Nya!

 Nabi Muhammad pun Pernah Ditegur Allah, Begini  Teguran-Nya!

Teladan Kesabaran dari Para Utusan Tuhan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Nabi Muhammad adalah sosok paling penting dalam dunia Islam, dia adalah orang yang dijaga oleh Allah. Semua tindakannya senantiasa dijaga oleh Tuhan agar sang Nabi senantiasa di jalan kebenaran, tetapi meskipun begitu bukan berarti Nabi tidak pernah berbuat salah.

Dalam riwayat, Nabi beberapa kali mendapatkan teguran dari Allah karena telah berbuat salah. Namun teguran yang didapatkan beliau tersebut adalah salah satu pelajaran yang patut untuk kita renungkan.

Salah satu teguran yang didapatkan Nabi adalah ketika bersama sahabat Abdullah. Abdullah adalah sepupu Siti Khadijah, kisah tersebut terjadi pada masa awal-awal penyebaran agama Islam. Saat itu Nabi Muhammad sedang mengumpulkan para pembesar Quraisy untuk keperluan penyebaran agama Islam.

Di tengah-tengah Nabi dan pembesar sedang berdiskusi, kemudian muncullah Abdullah yang kemudian langsung bertanya pada Nabi Muhammad, “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku ayat-ayat yang telah Tuhan ajarkan kepada Engkau. Berilah aku petunjuk.”

Tetapi nabi Muhammad tidak menghiraukannya, bahkan malah berpaling dari Abdullah. Akibatnya ketika Nabi Muhammad menyelesaikan urusannya dengan para pembesar kaum Quraisy, Allah menegurnya.

Teguran Allah pada Nabi Muhammad tersebut berbentuk kebutaan dari sang Nabi. Nabi Muhammad menjadi buta, setelahnya turunlah surah Abasa.

Teguran Nabi Saw Diabadikan dalam Alquran

Nabi Muhammad Saw tidak hanya mendapatkan satu kali teguran saja, tetapi beberapa kali teguran. Selain di atas tadi, masih banyak teguran lainnya. Diriwayatkan ketika Nabi pernah mendoakan hal-hal yang buruk pada kaum musyrik.

Peristiwa tersebut terjadi ketika perang Uhud terjadi, pada saat itu paman yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh. Jenazahnya kemudian diperlakukan dengan tidak baik oleh Hindun (istri dari Abu Sufyan). Hindun mengeluarkan jantung Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian di makanlah jantung tersebut.

Akibatnya Nabi SAW merasa berduka, merasa sedih. Pada waktu itu nabi juga terluka, sehingga beberapa gigi nabi patah.

Kemudian Nabi Muhammad berkata, “Bagaimana mungkin suatu kaum akan meraih kebahagiaan sedang mereka melumuri wajah nabi mereka dengan darah.”

Inilah yang kemudian ditegur oleh Allah dengan menurunkan ayat 128 surat Ali Imran. Tidak hanya itu saja, ada beberapa lagi teguran Allah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Tetapi dari dua contoh di atas, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat penting sekali.

Hikmah

Dari kisah di atas maka dapat kita ambil beberapa pelajaran. Kisah pertama adalah menceritakan tentang nabi Muhammad bermuka masam ketika ada salah satu sahabatnya yang datang, dikarenakan nabi lebih mementingkan pertemuan dengan kaum Quraisy. Hal ini menimbulkan teguran pada Nabi.

Maka yang bisa kita ambil dari kisah tersebut adalah, jangan pernah memandang rendah seseorang. Melihat orang itu tidak boleh membeda-bedakan, baik itu orang kaya, orang miskin dan lainnya. Sebab semua orang dihadapan Allah itu sama saja, yang paling penting di hadapan Allah adalah ketakwaannya dan rasa baktinya pada Allah.

Kisah yang kedua memberikan pelajaran pada kita bahwa mendoakan yang jelek-jelek pada kaum musyrik. Hal ini karena urusan tenang kesalahan orang lain itu adalah urusan Allah. Ketika seorang dikatakan sebagai musyrik maka kita tidak boleh mengatakan dia sudah terlaknat.

Jika saja orang tersebut bertaubat, itu adalah perkara Allah dengan orang tersebut. Perkara Allah menerima taubatnya atau tidak, maka itu adalah urusan Allah. Dengan melihat kisah tersebut, maka kita bisa hidup damai, tidak memperolok manusia lainnya.

Kita bisa menjadi manusia yang santun, sebagaimana teguran Allah pada nabi Muhammad. Pada intinya teguran tersebut mengharuskan manusia untuk selalu bersikap baik pada sesama manusia, tidak perduli apa itu agamanya.

Pun, mengajarkan kita untuk selalu melihat manusia itu sama, tidak peduli apa pangkat dan derajatnya. Baik itu pejabat atau orang biasa, manusia tetaplah manusia. Dan harus kita perlakukan semestinya.

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *