Mustafa Akyol dan Toleransi Berbasis Teologi

 Mustafa Akyol dan Toleransi Berbasis Teologi

Mustafa Akyol dan Toleransi Berbasis Teologi (Foto/mustafaakyol.org)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Jika disuruh memilih satu buku dengan genre Islami, maka saya tidak ragu untuk menyebut Reopening Muslim Minds (2023). Sebuah buku yang mendeklarasikan slogan kembali ke nalar, kebebasan, serta toleransi.

Penulisnya seorang jurnalis berdarah Turki yang memang mempunyai fokus pada isu Islam dan modernitas. Pada tahun 2017, ia berurusan dengan sekelompok orang yang menamai dirinya polisi agama di Malaysia. Bukan tanpa sebab yang jelas mengapa harus berurusan dengan mereka.

Anda pasti bisa menerka-nerka apa sebabnya. Tidak lain karena pikiran-pikirannya yang dianggap bersebarangan dengan mereka. Ceramah Mustafa Akyol perihal orang murtad yang tidak wajib dibunuh menjadi pemicunya.

Sebagaimana ia sendiri katakan bahwa banyak orang Islam yang paham terkait kebebasan memeluk agama, sebagaimana juga banyak yang menganggap bahwa orang murtad harus dihukum mati apabila agama yang ditinggalkannya adalah Islam.

Pemikiran Akyol tentu sangat kompleks dan saya hanya akan menukilnya sebagian. Hemat saya, ini hal yang paling mungkin untuk kita aplikasikan dalam konteks keindonesiaan.

Apalagi melihat realita negara kita sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan perihal toleransi. Kita akan melihat bagaimana percik pemikiran penulis buku Islam Without Extremes ini.

Sebelum jauh mengalangkah pada bangunan toleransi ala Akyol, maka penting untuk mendiskusikan perihal isu kebebasan.

Sejauh apa kebebasan—dalam beragam bentuknya—mendapat tempat dalam Islam. Entah bebas dalam memilih agama, berbicara, hingga bebas menggunakan kapasitas akal.

Perihal yang terakhir ini, sejujurnya Islam mempunyai preseden tersendiri. Ketika golongan Mu’tazilah muncul dengan rasionalismenya.

Kemudian bermesraan dengan kekuasan untuk menekan lawan teologisnya. Suatu peristiwa yang biasa kita sebut sebagai mihnah.

Hal serupa juga terjadi jauh sebelumnya. Orang-orang yang bersebarangan dengan Mu’tazilah melakukan hal yang sama.

Akibatnya, kelompok rasionalis muslim ini mula-mula mengalami peminggiran dan hidup di bawah tekanan.

Sayangnya, apa yang beredar selama ini justru memperlihatkan bahwa Mu’tazilah dalang inkuisisi. Padahal, di sisi lain mereka juga korban.

Inilah catatan mula-mula terkait bagaimana kebebasan menggunakan akal mendapat pantangan.

Umat Islam mempunyai konsepsi tersendiri dengan term kebebasan ini. Tidak sebagaimana yang dimaksud Barat perihal kebebasan.

Kebebasan hakiki dalam Islam tatkala seseorang berserah diri penuh kepada Allah. Karena dengan begitu, seseorang akan terlepas dari ketakutan-ketakutan duniawi dan ukhrawi.

Bermula dari ini pula Akyol mengklasifikasikan kebebasan ke dalam dua kelas: kebebasan lahiriah dan batiniah. Kebebasan ala Islam itu masuk ke dalam kebebasan batiniah.

Sementara, ia lebih condong pada kebebasan lahiriah karena berupa nilai universal. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh polisi agama Malaysia tersebut merupakan batu sandung kebebasan.

Kecelakaan-kecelakaan semacam itu bukan hal yang baru di dalam Islam. Bahkan dalam konteks keindonesiaan hal tersebut menemukan relevansinya.

Pemaksaan menjadi implikasi yang logis ketika kebebasan ditekan sedemikian rupa. Tidak terkecuali pemaksaan penafsiran dan kepercayaannya sendiri yang diklaim paling sahih.

Persoalan  inilah yang membuat satu lubang besar dan potensi intoleransi. Pemaksaan untuk menerapkan keyakinan tungga; justru mengeksklusi keyakinan lain.

Sederhananya, seolah-olah keyakinan lain tidak ada benarnya. Satu-satunya yang benar adalah interpretasi dan apa yang diyakini sendiri. Di titik inilah bangunan teologi toleransi Mustafa Akyol menjadi sangat erotis.

Pertanyaannya kemudian, mengapa harus dengan teologi? Musbab diskursus ini terpinggirkan, dibandingkan dengan yurispurdensi Islam.

Sehingga, upaya Akyol bergerak dari yurisprudensi ke arah teologi sebagai upaya mengangkat kembali. Sebab hanya di ranah inilah peluang-peluang dan pertanyaan kritis itu dapat dibangun.

Dengan berpijak pada teologi ini pula, hal-hal lain dengan sendirinya akan mengikuti.

Teologi Penangguhan

Salah satu sekte yang sering kita dengar namanya namun sedikit asing dengan gagasannya adalah Murji’ah.

Ketika orang-orang Khawarij menghakimi orang yang berdosa besar sebagai murtad dan harus dibunuh, Murjiah mempunyai sikap berbeda.

Alih-alih mengahakimi orang yang berdosa besar sebagai murtad, golongan ini malah memisahkan antara iman dan perbuatan. Dengan demikian, dosa besar tidak pernah merusak keimanan.

Sebagaimana catatan Akyol, mereka diisi sekelompok muslim perkotaan yang terpelajar. Di dalamnya termasuk juga teolog, ahli hukum, serta orang yang mempunyai kecenderungan rasionalis.

Kendati irja’ (gagasan Murjiah) timbul karena sikap politis yang menolak untuk memberikan vonis pada Ali dan Muawiyah pada waktu, namun applicable dalam bingkai toleransi.

Musabab, inti dari pemahaman ini adalah penolakan untuk memvonis apa-apa yang bukan ranahnya.

Dalam berkeyakinan, hal ini merupakan sumbangan yang besar. Jika selama ini banyak orang terburu-buru memberikan vonis terhadap keyakinan orang lain, maka hadirnya teologi penangguhan ini bak angin segar.

Siapapun orangnya tidak boleh untuk kemudian dihakimi. Musabab penghakiman berada di luar kendali manusia dan merupakan hak prerogatif Tuhan.

Apa yang diutaran Akyol barangkali memang tidak baru. Namun, seminim-minimnya hal tersebut memberi tamparan bahwa toleransi hanya bisa dimulai ketika kita penunda penghakiman.[]

M Rofqil Bazikh

Mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis di berbagai media cetak dan online. Bisa dijumpai di surel mohrofqilbazikh@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *