Muslim Boleh Masuk Gereja?

 Muslim Boleh Masuk Gereja?
Digiqole ad

Pada dasarnya tidak ada larangan secara eksplisit dalam Al-Qu’an dan Hadits mengenai masuk gereja atau tempat ibadah agama lain bagi seorang muslim. Perlu kita pahami bahwa masalah ini merupakan ranah interpreatsi atau penafsiran ulama sehingga wajar jika kemudian ada perbedaan.

Jumhur ulama dari Syafi’i, Maliki dan Hanbali tidak melarang muslim untuk masuk ke dalam gereja, sinagog dan tempat ibadah agama lain. Namun sebagian ulama Syafi’i yang dipelopori oleh Imam ‘Izz Al-Din bin Abdis-Salam yang kemudian diikuti ulama lainnya memberi catatan bila hal itu dilakukan atas izin, sebagaimana diterangkan dalam kitab

Hasyiah al-Jamal berikut:
لَيْسَ لِلْمُسْلِمِ دُخُولُ كَنِيسَةٍ بِغَيْرِ إذْنِ أَهْلِهَا

Artinya : “Tidak boleh bagi seorang muslim memasuki gereja dengan tanpa izin ahlinya”.

Lebih lanjut mengenai pendapat sebagian ulama Syafi’i melarang memasuki gereja bila ada patungnya. Dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Hantami dalam kitabnya Tuhfatul-Muhtaaj, menjelaskan bahwa yang dimaksud patung oleh Imam ‘Izz Al-Diin ialah patung yang Mu’adzdzomah [معظمة] “diagungkan” yaitu yang disembah.

Nadirsyah Hosen dalam laman pribadinya mengutip kitab kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah. dalam kitab ini Ibn Qudamah memaparkan kisah menarik:

‎وَرَوَى ابْنُ عَائِذٍ فِي ” فُتُوحِ الشَّامِ “، أَنَّ النَّصَارَى صَنَعُوا لَعُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، حِينَ قَدِمَ الشَّامَ، طَعَامًا، فَدَعَوْهُ، فَقَالَ: أَيْنَ هُوَ؟ قَالُوا: فِي الْكَنِيسَةِ، فَأَبَى أَنْ يَذْهَبَ، وَقَالَ لَعَلِيٍّ: امْضِ بِالنَّاسِ، فَلِيَتَغَدَّوْا. فَذَهَبَ عَلِيٌّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – بِالنَّاسِ، فَدَخَلَ الْكَنِيسَةَ، وَتَغَدَّى هُوَ وَالْمُسْلِمُونَ، وَجَعَلَ عَلِيٌّ يَنْظُرُ إلَى الصُّوَرِ، وَقَالَ: مَا عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ دَخَلَ فَأَكَلَ،
‎وَهَذَا اتِّفَاقٌ مِنْهُمْ عَلَى إبَاحَةِ دُخُولِهَا وَفِيهَا الصُّورُ، وَلِأَنَّ دُخُولَ الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ غَيْرُ مُحَرَّمٍ

Ketika Umar bin Khattab memasuki negeri Syam dan itu diketahui oleh kaum Nasrani negeri tersebut, mereka berinisiatif untuk menyambut Umar dengan menyajikannya makanan. Namun jamuannya itu disajikan di dalam gereja mereka. Lalu Umar menolak hadir dan memrintahkan ‘Ali untuk menggantikannya. Datanglah ‘Ali ke undangan tersebut lalu masuk ke dalamnya dan menyantap hidangan yang disediakan. Kemudian Ali berkata: “aku tidak tahu kenapa Umar menolak datang?” Kata Ibn Qudamah, ini bukti kesepakatan mereka para sahabat bahwa memasuki gereja atau sinagog tidaklah haram.

Jikalau masuk gereja haram jelas Umar tidak akan menyuruh Ali dan para sahabat untuk menghadiri jamuan makan tersebut. Umar tidak mau menghadiri jamuan di gereja adalah karena khawatir umat Islam akan memahami bahwa boleh merebut gereja itu dan mengubahnya dijadikan masjid. Ini juga yang dilakukan Umar saat menolak masuk ke gereja di Palestina.

Berbeda dengan pendapat diatas Ulama Hanafi menghukumi makruh bagi seorang muslim untuk masuk gereja. Manshur bin Yunus al-Bahuti (w. 1051), pakar fikih dari madzhab Hanbali, dalam karyanya, Kasysyafu al-Qina’ ‘an Matni al-Iqna’, mengatakan:
وَيُبَاحُ دُخُولُ الْبِيَعِ وَ دُخُولُ الْكَنَائِسِ الَّتِي لَا صُوَرَ فِيهَا، وَ تُبَاحُ الصَّلَاةُ فِيهَا إذَا كَانَتْ نَظِيفَةً

Artinya: “(Seorang muslim) diperbolehkan masuk ke dalam sinagog dan gereja yang di dalamnya tidak ada gambar. Juga (seorang muslim) diperbolehkan shalat di dalamnya apabila tempatnya suci.”

Oleh karena demikian artinya secara umum tidak ada yang melarang seorang muslim untuk masuk gereja, sinagog atau tembat ibdah nonmuslim lainnya. Memang tentu ada catatan dari para ulama sebagiaman dikutip dari Islami.co diantaranya apabila di dalam gerejanya tidak ada gambar, ada yang melarang apabila tujuannya untuk shalat di dalamnya karena gereja dianggap sebagai tempat najis, ada juga yang tidak memperbolehkan apabila tujuannya untuk makan karena makanan gereja dianggap haram, dan sejumlah catatan lainnya yang bersifat sekunder, yakni bukan hukum asal dari masuk ke gereja itu sendiri.

Perlu dipahami bahwa dengan masuk gereja tidaklah seorang muslim secara otomatis menjadi kristen. Tidak meyakini keyakian orang lain bukan berarti kita harus memusuhi dan menjauhi mereka. Bukankan sebagai muslim kita diajarakan untuk menjaga ukhuwah (persaudaraan) yang salah satunya adalah ukhuwah insaniah (persaudaraan sesama manusia). Demikian penjelasan yang dapat kami sajikan. Wallu a’lam.

Sumber:
1. Sulaiman al-Jamal, Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Juz. III, Hal. 572

2. Baihaqi, Sunan al-Kubra, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 234, No. hadits : 18640

3. Ibn Qudamah, al-Mughni juz 7, halaman 283

4. Al-Qurthubi, Al-Bayan wa at-Tahshil, 1988: I, 225, 464.

5. Al-Bahuti al-Hanbali, tt: I, 293.

6. Nardiansyah Husein

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − 6 =