Munasabah Alquran Menurut Prof. Nasaruddin Umar

 Munasabah Alquran Menurut Prof. Nasaruddin Umar

Prof Nasaruddin, menjelaskan tentang Munasabah Alquran (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA menulis dalam Jurnal Pemikiran Keislamannya mengenai munasabah Alquran. Ia menjelaskan bahwa munasabah ialah sebuah konsep di dalam Ulum Alquran yang membahas tentang pemahaman makna ayat secara komprehensif dengan menghubungkan antara ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Yakni antara pembuka ayat dan penutup ayatnya, dan antara ayat dengan nama surah yang menjadi tema sentralnya. Konsep munasabah menurut Prof. Nasaruddin sangat penting bagi para mufassir karena orang yang yang tidak memahami munasabah sebuah ayat lalu fokus hanya memahami ayat itu.

Hal itu memberikan peluang terjadinya salah penerapan (miscontext). Misalnya pada ayat: “…bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (Q.S. at-Taubah/9:5)

Potongan ayat tersebut sering diperkenalkan oleh kelompok radikal, seperti teroris. Sebagaimana yang sering ditemukan di dalam buku-buku doktrin mereka. Ayat ini terkesan sangat menyeramkan apabila hanya dimaknai selintas, apalagi kata al-musyrikun diartikan dengan non-muslim.

Jika benar demikian, berarti ada izin membunuh non muslim di mana pun dan kapan pun. Tidak perlu ada rasa bersalah dan berdosa karena ayat ini menjadi dasar bolehnya membunuh dengan cara apa pun mereka yang non-Islam.

Apalagi yang nyata-nyata memerangi Islam. Padahal, ayat tersebut hanyalah potongan tengah ayat, sedangkan ayat seutuhnya artinya berbunyi sebagai berikut ini:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. at-Taubah/9:5).

Ayat Tentang Kasih Sayang dan Toleransi

Pemahaman yang bisa diperoleh melalui potongan tengah ayat itu, dipisahkan dengan kata yang mengawali dan kata yang mengakhiri ayat itu. Ditambah lagi tidak dihubungkan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut.

Parahnya lagi, lanjut Prof Nassarudin pada artikel yang tayang di Detik itu, tidak menyebut atau memahami sabab nuzul ayat tersebut. Pemahaman ayat dengan cara itu bisa membuat orang, bisa melakukan berbagai tindakan nekat, radikal, dan terorisme. Apalagi mereka yang sudah melewati proses doktrin.

Akan tetapi, jika dibaca ayat tersebut secara utuh, lalu dihubungkan dengan konteks ayat sebelum dan sesudahnya. Kemudian menyimak sabab nuzul ayatnya, maka pemahaman dan sikap yang bisa muncul sangat berbeda dengan sebelumnya. Ayat tersebut di atas sesungguhnya lebih menonjol sebagai ayat dakwah ketimbang sebagai ayat jihad atau peperangan.

Perhatikan permulaan ayatnya diawali dengan kata idza (apabila), berarti bersifat kondisional. Bagian penutup ayatnya diakhiri dengan penekanan sifat Allah yang paling dominan di dalam Alquran, yaitu: Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

***

Kata al-Rahim (Maha Penyayang) adalah sifat Allah paling dominan di dalam Alquran, terulang sebanyak 114 kali. Bandingkan dengan kata al-Muntaqim (Maha Pendendam) dan al-Mutakabbir (Maha Angkuh) hanya terulang masing-masing sekali di dalam Alquran.

Perhatikan juga dengan ayat sebelumnya (ayat 4) ada syarat yang menetapkan jenis musyrik pengkhianat perjanjian yang disasar ayat 5 di atas. Selanjutnya ayat sesudahnya (ayat 6) ada jenis musyrik yang justru harus dilindungi dan dikasihani.

Sedangkan sabab nuzul ayat tersebut di atas menurut Al-Sayuthi berkenaan dengan pelanggaran perjanjian damai yang dilakukan kaum musyrikin di Madinah pada saat bulah Muharam (umat Islam dilarang berperang). Setelah bulan haram lewat, maka turun ayat ini mengizinkan umat Islam untuk berperang jika mereka dikhianati.

Dengan demikian, ayat yang dijadikan contoh di atas justru untuk menekankan Islam sebagai agama kasih sayang dan penuh toleransi. Bukannya agama yang menakutkan dan menebarkan rasa takut dengan ancaman pembunuhan dan kekerasan. Pemahaman munasabah ayat bisa mengeliminasi pemahaman radikal terhadap ayat.

 

 

Sumberi : uinjkt.ac.id/id/memahami-munasabah-ayat Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − four =