Mujassim vs Ateis dalam Kajian Nalar

 Mujassim vs Ateis dalam Kajian Nalar

HIDAYATUNA.COM – Saya tak habis pikir pada komunitas mujassim dan ateis ini. Saya menyebut komunitas sebab sudah tak terhitung berapa kali muncul pernyataan aneh semacam ini dari mereka.

Bagaimana bisa ada yang mengakui bahwa makna jisim adalah fisik, tetapi tidak mau disebut sebagai mujassim ketika menyakini bahwa Allah berupa fisik? Secara harfiyah, arti mujassim adalah orang yang menjisimkan Allah alias menganggap Allah berupa sosok fisik.

Kalau mau belajar dengan benar, banyak referensi yang menjelaskan bahwa mujassim adalah mereka yang meyakini Tuhannya sebagai sosok fisik. Ajaran mujassimah ini ada dalam berbagai agama.

Bila Anda melihat penggambaran Tuhan atau Dewa di film-film, maka itu adalah paham mujassimah. Bagi mereka Tuhan juga sosok fisikal yang mempunyai tubuh dengan dimensi panjang, lebar dan tinggi. Non-mujassim tentu tidak mungkin memfilmkan Tuhan mereka sebab wujud yang bukan jisim tidak dapat dikhayalkan apalagi divisualisasi.

Tuhan Tidak Berbentuk Fisik

Mujassim muslim seluruhnya sepakat bahwa jisim Allah tidak sama dengan jisim lain berdasarkan ayat “Laisa kamitslihi syaiun”. Tidak pernah ada mujassim muslim yang berkata bahwa, jisim Allah sama dengan makhluk karena itulah mereka masih disebut muslim. Bila ada yang berkata demikian, maka dia murtad.

Jadi, semua yang meyakini bahwa Allah berbentuk fisik (jisim) adalah mujassim. Meski tidak mengaku atau merasa dituduh pun tetap mujassim. Meskipun merasa bahwa jisim Allah tidak sama dengan makhluk juga tetap 100% mujassim karena poinnya adalah keyakinan pada unsur jisimnya, bukan soal kemiripannya.

Tetapi wajar juga sih. Saking menjijikkannya paham mujassimah ini, maka mujassim pun biasanya malu mengaku mujassim. Cuma mujassimah klasik masih lebih pede dari mujassim sekarang.

Efek paham ini juga tidak main-main sebab dapat membuat orang menjadi ateis. Ateis nyaris seluruhnya adalah orang yang mempersepsikan tuhan sebagai sosok fisik.

Bagi mereka, kalau bukan fisik maka artinya tidak wujud. Dalam bahasa modern, mujassimah adalah paham materialisme. Oleh karena itu mereka sering menantang kaum beriman agar bisa menunjukkan di mana lokasi Tuhan dan di mana wujud fisiknya.

Hal ini jelas karena tentu saja itu tidak dapat dilakukan, maka mereka menganggap Tuhan tidak lebih dari sekedar sosok imaginer yang dibuat hanya sebagai “penenang” saat manusia susah. Lagian, apa pula alasan manusia menyembah jisim?

Tidak Ada Alasan Apa pun untuk Menyembah Jisim

Sehebat dan sebesar apa pun jisim, tidak ada alasan untuk menjadikannya sebagai sesembahan. Sebab seluruh jisim tidak lebih dari sekadar objek penelitian yang menarik di depan manusia-manusia cerdas.

Kalau bicara kecerdasan, ateis biasanya lebih cerdas dari mujassim. Cuma bedanya ateis pasti kafir sedangkan mujassim ada yang muslim.

Coba Anda pikir saja apa alasannya menyembah sosok jisim yang super gede dan super hebat? Perbedaan antara manusia dan sesembahan yang berbentuk fisik hanya soal skala saja.

Kita, manusia, juga hebat kok. Tentu ada jisim yang skala kehebatannya jauh di bawah kita, semisal amuba. Namun itu tak menjadikan amuba layak menyembah kita.

Ada juga jisim yang jauh lebih hebat dari kita seperti Galaksi, Black hole atau apa pun itu di langit sana, tetapi itu tidak menjadikan kita layak menyembahnya. Kalau dalam daftar ini ditambahkan jisim yang namanya Arasy, yang dalam keyakinan kaum muslimin merupakan makhluk terbesar di semesta, maka tetap tidak menjadikannya alasan yang cukup untuk disembah.

Andai di atas Arasy tinggal sosok jisim lain yang lebih besar lagi dan lebih hebat lagi, tetap saja kita tidak menemukan alasan yang tepat untuk menyembahnya. Semua perbedaan ini cuma soal skala, dan orang cerdas tentu paham bahwa perbedaan skala bukanlah alasan untuk menyembah.

Pentingnya IQ Supaya Tidak Sesat Pikir

Bagaimana kalau ada jisim yang mengaku menciptakan kita? Itu juga bukan alasan untuk menyembahnya. Seandainya manusia betul-betul berhasil membuat robot cerdas seperti di film-film, robot tersebut tentu tidak punya alasan menyembah kita.

Kasusnya sama seperti kita yang tidak mempunyai alasan untuk menyembah ayah dan ibu kita. Meskipun kita tahu betul bahwa asal muasal kita dari bahan “yang diproduksi” mereka berdua.

Intinya ateis itu lebih cerdas dari mujassim, sebab secara logis tidak ada alasan untuk menyembah jisim. Jisim hebat pantasnya diteliti kehebatannya, diobservasi, dieksplorasi dan kalau bisa ditaklukkan dengan sains, bukan malah disembah.

Hanya orang ber-IQ jongkok seperti kaum jahiliyah yang mau menyembah jisim karena takut pada jisim tersebut. Wajar bukan, kalau mujassim sekarang tidak pede mengaku sebagai mujassim?

Sedangkan bagi Aswaja (Asy’ariyah-Maturidiyah), Allah bukan jisim. Sebab itulah maka pembahasan tentang Allah sama sekali tidak bisa dilakukan dengan paradigma jismiyah/fisikal.

Bahasannya bukan soal skala lagi tetapi soal sesuatu yang memang di luar batasan pemahaman manusia sebab perbedaannya mutlak. Ia adalah satu-satunya dan tidak ada duanya. Ia adalah satu-satunya yang layak disembah dan dianggap Tuhan semesta alam.

Mau sejauh apa pun manusia mengeksplorasi ruang angkasa, tidak ada Aswaja yang akan bertanya konyol seperti ateis: “Eh, ternyata Tuhan memang benar gak ada ya?” Sebaik apa pun sains mampu menyingkap sunnatullah (hukum alam), tidak akan ada Aswaja yang akan berkesimpulan konyol bahwa: Tuhan yang non-jisim itu tidak terlibat dalam gerak materi di alam semesta seperti dalam pikiran materialisme.

Pun tidak akan ada Aswaja yang mengkhayal konyol bahwa tempat fisikal Tuhan itu sangat jauuuh di luar batas alam semesta. Seperti keyakinan mujassimah muslim sebab apa hebatnya cuma berada sendirian di tempat jauh?

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × 3 =