MUI Minta Publik Dewasa Soal Perbedaan Pandangan Politik

 MUI Minta Publik Dewasa Soal Perbedaan Pandangan Politik

Hukumi Haram, MUI Tegaskan Uang Serangan Fajar Tidak Berkah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Abdullah Jaidi mengingatkan bahwa sebesar apapun perbedaan dalam pandangan politik, tidak sepantasnya untuk saling menghujat.

“Tidak ideal jika kita saling menghujat dan menjatuhkan,” ujar KH. Abdullah Jaidi di Jakarta dikutip Jumat (24/2/2023).

Untuk itu, ia meminta dalam perhelatan pemilu 2024 nanti, perbedaan dalam prefensi politik tidak lantas membuat satu sama lain saling mencaci maki.

Sebaliknya, dalam momentum tersebut, sebaiknya dimanfaatkan untuk merajut persatuan dan kebersamaan.

“Saya berpesan agar pemilu tahun depan jangan dijadikan ajang perseteruan tapi kita manfaatkan pemilu untuk merajut kebersamaan dan persatuan bangsa,” jelasnya.

Menurutnya, Pemilu bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk menunjukkan kesantunan dan saling menghargai dalam menyikapi perbedaan pandangan politik.

“Kita harus merajut kebersamaan itu sehingga even politik lima tahunan ini tidak menjadi pemicu permusuhan di antara kita,” sambungnya.

Selain semua pihak harus bisa sportif dengan cara bersama-sama memberikan dukungan penuh kepada siapa saja yang terpilih.

Pada prinsipnya para pihak yang berkompetisi harus memperhatikan adab atau kesantunan dalam bertindak serta bertutur kata. Ia menjelaskan, peradaban berasal dari kata adab atau kesantunan.

“Dalam konteks bernegara dan bermasyarakat, kesantunan itu harus diwujudkan dalam persamaan,” tandasnya. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *