Motif Pembuat Hadis Palsu: Taqarrub, Ekonomi, sampai Menjilat Penguasa

 Motif Pembuat Hadis Palsu: Taqarrub, Ekonomi, sampai Menjilat Penguasa

Hadis Palsu, Hoaks, dan Momen Diperbolehkannya Berbohong (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di era digital, kita kerapkali kebanjiran informasi. Berbagai informasi dengan mudah kita dapatkan dari genggaman smarthphone kita yang sumbernya bisa macam-macam. Mulai dari berita online yang informatif dan mendalam, sampai berita online yang hanya mengejar clikcbait atau berita hasil kutipan cuitan infuencer di medsos semata.

Lalu dari cuitan tokoh yang memang punya kapasitas pada bidang tertentu, sampai cuitan para buzzer yang tidak jelas riwayat karya mereka sebelumnya. Semua informasi itu membanjiri kita yang haus akan fakta-fakta unik nan mengejutkan.

Namun terkadang, kebutuhan akan informasi itu tidak dibarengi dengan kemampuan literasi yang cukup sehingga kita tidak bisa memilah mana informasi yang benar dan bohong. Apalagi sampai pada taraf mana informasi yang kita butuhkan dengan yang tidak. Maka, wajar saja bila berkembang dan semakin canggihnya internet, justru dibarengi dengan semakin masifnya penyebaran berita hoax lewat sosial media.

Salah satu korban penyebaran hoax di media sosial adalah ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah, KH. Mustofa Bisri atau Simbah Gus Mus. Berkali-kali, beliau dan puter-puterinya mesti mengklarifikasi gambar-gambar berisi quote atau kata-kata yang tidak pernah diucapkan atau ditulis beliau, yang disandingkan dengan gambar beliau. Seolah-olah, kalimat tersebut berasal dari beliau. Tidak jarang, kalimat-kalimat tersebut berisi provokasi yang bisa memecahbelah umat.

Hoax atau berita bohong sebenarnya bukanlah fenomena baru. Sejak dulu, kita diberi kabar tentang cerita-cerita bagaimana umat manusia membuat informasi palsu dan banyak orang yang termakan olehnya. Bahkan, para sahabat Nabi SAW. yang merupakan generasi terbaik manusia pun tidak luput dari kesalahan ini.

***

Hal ini bisa dilihat dalam kisah difitnahnya Sayidah Aisyah RA. berselingkuh dengan seorang pemuda, yang menjadi asbabun nuzul QS. An-Nur ayat 11-20. Banyak sahabat yang termakan fitnah yang disebarkan orang-orang munafik ini.

Pada era selanjutnya, dalam khazanah keilmuan Islam, muncul fenomena pembuatan hadis-hadis palsu yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad SAW. Dalam terminologi ilmu hadis, hadis palsu atau hadis maudhu’ merupakan tingkatan paling jelek dan buruk dari hadis dho’if.

Bahkan, ada ulama yang menolak memasukkanya dalam kategori hadis dhoif karena itu bukanlah hadis. Jadi, bahkan Nabi Muhammad SAW. pun menjadi korban pembuatan hoax pada zaman itu.

Hadis maudhu’ didefinisikan ulama’ ilmu hadis sebagai kebohongan yang dibuat-buat dan direkayasa, untuk kemudian dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Kebohongan tersebut dikemas sebagai hadis, sehingga muncul kesan seolah-olah Rasulullah SAW. mengatakanya.

Pratik pemalsuan hadis merupakan hal yang sangat tercela. Bahkan, Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini sampai mengkafirkan orang yang memalsukan hadis.

Para pemalsu hadis, memiliki berbagai motif mengapa mereka membuat hadis palsu. Hal ini dirangkum oleh Dr. Mahmud ath-Thohan dalam kitabnya Taisir Mustholah Hadits dalam sub-bab ‘ad-Dawa’i al-wadh’i wa ashnafu al-wadhdho’in (Motivasi membuat hadis palsu dan golongan-golongan pembuatnya).

Penjelasan itu perlu diutarakan di sini dan dielaborasikan dengan maraknya berita hoax. Untuk memberi gambaran kepada kita semua alasan dan latar belakang pembuatan hoax atas nama Nabi SAW. pada zaman itu. Dengan demikian bisa menjadi pembelajaran pada kita tentang apa yang terjadi hari ini. Motif-motif pembuat hadis palsu dalam kitab itu yaitu:

Mendekatkan Diri pada Allah SWT.

Hadis palsu jenis ini biasanya berisi perintah untuk berbuat kebijakan dan larangan menjauhi kemungkaran, sebagaimana hadis pada umumnya. Sumber hadis ini biasanya berasal dari perkataan ahli hikmah, yang kemudian dinisbatkan pada Nabi SAW.

Pembuat hadis palsu ini berniat agar semakin banyak orang mengamalkan perkataan ahli hikmah tersebut. Bukanya mendapat apresiasi, pembuat hadis palsu jenis ini bahkan diberi cap seburuk-buruk pembuat hadis palsu oleh ahli hadis karena masyarakat menerima hadis itu, sebab punya kepercayaan pada mereka. Sehingga, kepalsuan hadis yang mereka buat menjadi semu dan ini berbahaya bagi masyarakat.

Salah satu pembuat hadis palsu ini adalah Maisaroh bin Abd Rabbih. Ibnu Mahdi pernah menanyainya. “Dari mana kamu mendapatkan hadis-hadis seperti: ‘Barang siapa membaca ini akan mendapatkan ini’?“

Ia menjawab, “Aku membuatnya untuk memberi dorongan pada manusia (untuk beribadah).” Dengan membuat banyak orang beribadah, tentu diharapkan ia bisa mendapatkan pahala dari Allah. Namun, justru apa yang dilakukan Maisaroh ini sangat fatal dan berbahaya.

Mendukung Madzhab/Aliran Politik Tertentu

Hadis palsu jenis ini dilatarbelakangi terpecahnya madzhab/aliran politik pada masa-masa fitnah setelah terbunuhnya Khalifah Utman bin Affan RA., seperti Khawarij dan Syi’ah. Masing-masing aliran membuat hadis palsu untuk memperkuat posisi mereka. Seperti ada hadis palsu, “Ali merupakan sebaik-baik manusia. Barangsiapa meragukanya, maka ia telah kafir.”

Merusak Ajaran Islam

Salah satu golongan pembuat hadis palsu untuk tujuan ini berasal dari golongan zindiq/munafik. Mereka mencoba membuat sejumlah hadis yang dimaksudkan untuk mengaburkan dan merusak ajaran Islam.

Contohnya, seperti hadisnya Muhammad bin Sa’id asy-Syami. “Aku adalah Nabi terakhir, tidak ada Nabi setelahku, kecuali bila Allah menghendaki.” Padahal, dalam ajaran Islam sudah jelas, bahwa Nabi Muhammad SAW. merupakan nabi terakhir, dan tidak ada nabi setelah beliau.

Menjilat Penguasa

Motif ini datang dari mereka yang lemah iman dan mencoba mendekati penguasa. Mereka dikatakan lemah iman karena tega memalsukan hadis atas nama Nabi SAW. hanya demi kepentingan sesaat nan hina belaka. Misalnya, hadis yang dibuat Ghiyats bin Ibrahim an-Nakha’I al-Kufi saat melihat Khalifah al-Mahdi yang berkuasa kala itu, sedang bermain dengan burung merpati di kamarnya.

Ghiyats kemudian meriwayatkan hadis yang disandarkan pada Nabi SAW., “Tidak ada perlombaan (yang baik), kecuali bermain pedang, pacuan, menggali, atau sayap.” Ia menambahkan kata ‘atau sayap’ karena melihat Khalifah memainkan burung merpatinya. Khalifah al-Mahdi mengetahui kelakuan tercela Ghiyats itu dan memerintahkan untuk menyembelih burung merpatinya.

Mencari Penghidupan dan Rizki

Motif ini datang misalnya dari sebagian tukang dongeng yang mencari makan dengan mengkisahkan cerita-cerita pada manusia. Oleh karena orang-orang lebih menyukai cerita-cerita yang menghibur dan membuat takjub, sebagian mereka akhirnya membuat hadis palsu untuk kepentingan itu.

Salah satu dari mereka adalah Abi Sa’id al-Madainy, atau ada juga yang membuat hadis palsu untuk kepentingan ekonomis. Agar usaha mereka semakin laris dan diburu manusia, seperti ada ungkapan “Terong itu obat dari segala macam penyakit.”

Mencari Popularitas

Mereka adalah orang yang membolak-balikkan sanad hadis, agar muncul hadis gharib (asing) yang sebelumnya tidak pernah pun diriwayatkan oleh imam hadis. Hal ini dilakukan, untuk membuat orang-orang terperangah pada mereka karena dapat meriwayatkan hadis yang bahkan imam hadis pun tidak meriwayatkanya.

Dengan begitu, mereka bisa meraih popularitas. Termasuk dari pembuat hadis palsu dengan motif ini yaitu Ibnu Abi Dahyah dan Hammad an-Nashibi.

Dari uraian tentang motif-motif pembuat palsu di atas, kita bisa melihat bagaimana latar belakang dibuatnya hoax dalam sejarah. Bahkan, mereka para pembuat hadis palsu itu tidak segan berbohong atas nama Nabi Muhammad SAW., hanya untuk kepentingan sesaat dan pribadi mereka.

Hal ini memberi pelajaran pada kita, bahwa motif dan latar belakang dibuatnya hoax itu bermacam-macam. Sehingga, kita mesti hati-hati dalam menerima informasi di era digital ini. Utamanya, pada informasi-informasi yang mengatasnamakan ulama untuk memecah belah umat.

Wallahu a’lam bish showab.

 

 

Sumber : Dr. Mahmud Thohhan. (tanpa tahun). Taisir Mustholah Hadits. Maktabah Imarotullah.

Nuzula Nailul Faiz

Alumni Perguruan Islam Matholi'ul Falah dan PMH Pusat Kajen Pati, santri di PP Nurul Ummah Yogyakarta dan mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 + 7 =