Cancel Preloader

Moderatlah dalam Ucapan dan Tindakan!

 Moderatlah dalam Ucapan dan Tindakan!

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Jika ditelaah secara mendalam ihwal posisi tengah-tengah memang sukar dicapai karena berdiri di tengah bukan sekadar menempati posisi tengah lalu selesai. Melainkan harus mengimbangi antara dua titik agar keseimbangannya tetap terjaga. Sedikit saja gerak bisa jadi mengalami ketidakseimbangan yang berakibat berat sebelah.

Apalagi dalam laku kehidupan manusia yang begitu dinamis, yang secara naluriah manusia selalu saja mengalami inkonsistensi dan susah ditebak. Sekarang mau A boleh jadi besok menginginkan B, bahkan di hari-hari berikutnya akan berubah lagi jadi C.

Pantas saja Rasul mengingatkan kita begini “khairu al-umuri awsaatuhaa”. Sebaik-baik perkara atau urusan adalah yang tengah-tengah.

Secara tidak langsung, Rasul ingin menyampaikan untuk mencapai yang tengah-tengah itu harus ada pola keseimbangan dan perlu upaya lebih. Sebab manusia memiliki kecenderungan ke arah yang terkadang ekstrem kanan dan terkadang ekstrem kiri. Makanya tengah-tengah disebut sebaik-baik perkara karena jalannya begitu terjal nan sukar.

Alquran juga memuat redaksi “tengah-tengah” dalam Surah al-Baqarah ayat 143

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi/teladan atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi/teladan atas (perbuatan) kamu. […]”

Dalam Kitab Tafsir Jalalain karya duo-jalal, yaitu Jalaluddin al-Mahally dan Jalaluddin as-Suyuthy menyatakan bahwa tengah-tengah tersebut adalah “pilihan yang adil”  (terbaik lagi adil). Dari situ dapat ditarik bahwa Islam menyiratkan untuk tidak menuruti kecenderungan yang berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan akan membuahkan keburukan.

Ambiguitas Arah Moderasi Beragama

Dari Alquran dan Hadis di atas dan mungkin beberapa dalil lainnya merupakan menjadi cikal bakal konsep moderasi beragama. Konsep ini yang menitik-tekankan pada prinsip keseimbangan di antara dua kutub ekstem kanan dan kiri dan menjaga jarak dalam setiap persoalan. Tidak tergesa-gesa dalam bersikap sebelum mengatahui akar persoalannya secara komprehensif-holistik.

Sebegitu penting dan berharganya sampai-sampai konsep moderat terus digegap-gempitakan. Bahkan dalam konsep etika Aristoteles juga menekankan prinsip moderasi/keseimbangan.

Keberanian misalnya; akan menjadi suatu hal yang baik ketika tidak terlalu berlebihan. Maksudnya jika saja berlebih takaran keberaniannya akan berujung nekat anarkis begitupun yang ekstrem kurang (dosis keberaniannya minim) akan melahirkan sifat pengecut.

Dengan demikian, keberanian adalah sifat yang memang terletak di tengah atau antara sifat nekat dan sifat pengecut. Abu Bakar ar-Razi menyebut hal ini sebagai ta’dil al-af’al al-nufus.

Narasi Dakwah di Media Sosial

Dalam hal keberagamaan (religiousity), arah tengah-tengah tadi jika disematkan dalam laku tindakan moderasi beragama atau beragama secara moderat juga mengalami hal pelik. Tidak semudah dalam ucapan, boleh dikata dalam pengaplikasiannya sangat sukar dan penuh aneka ujian.

Terkadang orang yang dengan lantang mendaku diri sebagai sosok yang moderat, tapi dalam laku tindakannya tidak mencerminkan kemoderatan bahkan diam-diam mencederainya.

Sebab begini, fenomena penggiringan narasi di media sosial sangat masif digalakkan. Dalam hal penyebaran dakwah, walau masih banyak kita temukan nada-nada dakwahnya agak ngegas, berkata kasar, sering men-judge liyan kafir, tudingan ahli bid’ah, dan aneka sebutan lainnya.

Dalam lingkar bahasa dakwah yang seperti itu, memang sangat tidak elok untuk dilihat dan didengar karena berpotensi memicu pertikaian. Nah selanjutnya, beberapa orang lainnya mendakukan diri sebagai sosok yang paling moderat.

Eh, giliran ada persoalan yang sama sekali berbeda dari apa yang dipahami sebelumnya. Dalam menanggapi fenomena tudingan-tudingan kafir, munafik, dan perkataan kasar lainnya, tidak menggambarkan laku kemoderatan

Anehnya pendaku moderat malah mengkonter dengan narasi yang sama kasarnya dan sama-sama mencacinya. Tiada lain faktornya hanya satu, “berbeda paham”.

Jika terus demikian, jika keras dibalas keras, cacian diberi cacian, maka akan terkungkung dalam lingkaran kebencian yang tiada henti. Lantas apa bedanya antara yang mendaku diri seorang moderat dan mereka yang terlibat dalam ujaran maki dan cacian?

3 Syarat Mengaplikasikan Moderasi Islam

Tidak semudah itu, kan berlaku moderat. Makanya Prof Quraish Shihab memberi tiga syarat yang harus melekat jika kita ingin mengaplikasikan Moderasi Islam.

Pertama, “mempunyai pengetahuan”, hal mendasar yang harus melekat dalam moderasi Islam, seseorang tidak akan pernah mencapai maqam moderasi Islam yang kaffah tanpa adanya pengetahuan.

Kedua, “mengendalikan emosi”, hal yang sering diabaikan dalam pengaplikasian sikap moderasi adalah pengendalian emosi. Mendaku diri sebagai seorang moderat dengan menampilkan emosi keagamaan yang meledak-ledak.

Secara tidak langsung menggugurkan klaim moderat itu sendiri sehingga menghasilkan sikap kecenderungan menyalahkan yang lain. Merasa paling benar mengganggap yang lain salah, hal itu merupakan bentuk pengingkaran atas klaim moderat hingga menyeret pada laku ekslusif.

Ketiga, “terus berhati-hati, tidak cepat memberi putusan” tahap ini merupakan level berikutnya. Ketika sikap ekslusif telah mendominasi, lahirlah putusan demi putusan atas yang lain berupa upaya takfir, pem-bid’ah-an, dan lainnya lantaran berseberang paham.

Padahal laku moderat adalah bersabar atas kebenaran, senantiasa mencari kebenaran, dan menyadari relativitasnya. Paling tidak dari ketiganya-lah yang harus dipegang erat-erat.

Bukan sekadar lantang dalam pengucapan tapi harus juga terpatri dalam tindak-tanduk kehidupan. Bahkan jika bisa moderat-lah sejak dalam pikiran. Wallahu ‘Alam bi al-Shawab.

Ali Yazid Hamdani

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen + one =