Ekonomi dan SosialKabar Nasional

Merayakan Ulang Tahun Ala Nabi

HIDAYATUNA.COM – Bagi sebagian orang memperingati hari kelahiran atau sering disebut dengan istilah ulang tahun menjadi hal istimewa, banyak orang juga merayakan hari kelahiran dengan berbagai cara. Tradisi merayakan ulang tahun juga popular di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Sejarah tentang perayaan hari lahir atau ulang tahun telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Melansir Huffington Post Online perayaan ulang tahun bermula dari bangsa Mesir yang merayakan kelahiran Firaun sebagai ‘dewa’. Bangsa mesir kuno merayakan hari dimana Firaun memakai mahkota untuk bangsa Mesir kuno.

Sumber lain menyebutkan, semula bangsa Eropa pada ribuan tahun lalu mempercayai kekuatan jahat yang dapat menyerang mereka. Sehingga mereka mengundang kerabat dekat mereka untuk mendoakan keselamatan penghuni rumah bersama-sama. Saat itu juga belum mengenal kue, lilin serta hadiah-hadiah yang popular sebagaimana tradisi ulang tahun yang sering dilihat saat ini.

Namun tahukah kamu, bahwa Rasulullah SAW juga memperingati hari kelahirannya? Bagaimana cara Rasul merayakan kelahirannya?

Rasulullah SAW selalu menjadikan hari kelahirannya dengan penuh rasa syukur. Cara Nabi Muhammad SAW memperingati hari lahir adalah dengan berpuasa. Hal tersebut sebagaimana sabdanya dalam sebuah Hadits Riwayat Muslim sebagai berikut:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقَال
“فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ”:

“Dari Abu Qatadah Al-Anshar bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “(Karena) saat itu aku dilahirkan dan saat itu aku dituruni wahyu.” (HR. Muslim).”

Sebagaimana hadits di atas, dapat diketahui bahwa ulang tahun ala Nabi SAW adalah dengan cara melaksanakan puasa.

Selain bersyukur kepada Allah dengan senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. dalam perayaan ulang tahun dapat dilakukan dengan beramal saleh, berbagi kebahagiaan dan memanjatkan doa.

Baca Juga :  Hidayatuna Berbagi APD dan Makanan untuk Tenaga Medis

Adapun bentuknya dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib pernah bermimpi melihat Abu Lahab dalam keadaan disiksa habis-habisan di neraka.

Abbas pun bertanya kepada Abu Lahab, “Bagaimana kabarmu wahai Abu Lahab?”

Abu Lahab menjawab, “Kabarku sebagaimana yang kau lihat saat ini dihajar habis-habisan kecuali setiap hari Senin, aku diberi minum melalui jari-jariku ini.”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Abbas.

“Karena dulu aku pernah memerdekakan budakku yang bernama Tsuwaibah sebab dia memberiku berita gembira bahwa nabi Muhammad dilahirkan,” jawab Abu Lahab.

Dari sanalah kita dapat pelajari, bahwa rasa syukur atas kelahiran dapat pula diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, salah satunya meringanken beban orang lain misalnya dengan bersedekah, bersilaturrahim, membagikan makanan bagi yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close