Menziarahi Masjid Bersejarah Peninggalan Dinasti Thuluniyah

 Menziarahi Masjid Bersejarah Peninggalan Dinasti Thuluniyah

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Salah satu bangunan bersejarah peninggalan yang banyak diwariskan penguasa Islam adalah masjid. Hal ini sebagaimana dengan keberadaan masjid bersejarah Ahmad Ibn Thulun yang merupakan peninggalan Dinasti Thuluniyah.

Ahmad Rofi’ Usmani dalam bukunya berjudul “Jejak Jeka Islam: Kamus Sejarah dan Peradaban Islam dari Masa ke Masa” menjelaskan bahwa Masjid Ahmad Ibn Thulun merupakan masjid tertua kedua di Mesir setelah masjid ‘Amr ibn Al-‘Ash.

“Masjid Ahmad Ibn Thulun dibangun oleh Ahmad ibn Thulun, pendiri Dinasti Thuluniyah. Pembangunan masjid dimulai pada 263 H/876 M,” ungkap Ahmad Rofi’ dilansir Selasa (5/1/2021).

Ia mengungkapkan bahwa masjid bersejarah tersebut dirancang oleh arsitektur asal Irak dan memiliki model arsitektur yang berbeda dari model arsitektur masjid yang ada di Mesir sebelumnya.

“Masjid ini secara resmi dipakai untik shalat berjamaah pada Ramadhan 265 H/ April 879 M. Bangunan dengan luas sekitar 6,5 feddan dan berbentuk persegi panjang (panjang 138 meter dan lebar 118 meter) ini mengikuti model arsitektur Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah,” jelasnya.

Ia menambahkan Masjid ini dulu pada masa pemerintahan Ibrahim Pasya pernah dijadikan sebagai rumah sakit militer. Masjid tersebut dilengkapi dengan sebuah menara berbentuk spiral yang mengikuti model menara Masjid Samarra’ di Irak, tempat kelahiran sang pendiri masjid ini.

“Masjid yang terletak di antara Medan Sayyidah Zainab dan Medan Qal’ah, Kairo ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Di antaranya, pemugaran yang dilakukan oleh Sultan Hisyamuddin Lacin (w. 698 H/1299) dan Raja Fuad (w. 1355 H/ 1936 M),” katanya.

Berdasarkan lokasinya, bangunan bersejarah peninggalan Dinasti Thuluniyah berada di sebelah timur Distrik Sayyidah Zainab, Kairo Selatan. Tepatnya di lokasi Kota Al-Qatha’i yang dibangun Ahmad ibn Thulun sebagai lokasi barak militer pasukannya dan ibu kota pemerintahannya.

“Ahmad ibn Thulun memulai membangun masjid ini pada tahun 879 M. Masjid ini dirancang seperti rancangan perbentengan seperti pada Masjid Samarra’,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

sixteen + four =