Cancel Preloader

Begini Ibu Menyusui dalam Syariat Islam

 Begini Ibu Menyusui dalam Syariat Islam

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Umumnya seorang ibu akan menemui fase menyusui seusai melahirkan anak-anaknya. Dalam Islam, perkara ini juga merupakan hal yang diatur oleh agama dan perlu diperhatikan bagi kaum Muslimah.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 233: “Para ibu (hendaklah)menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”

Dijelaskan bahwa kata menyusui adalah kalimat berita yang bermakna perintah. Dalam penggalan ayat selanjutnya, Allah SWT berfirman: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” Lalu bagaimana jika si ibu kandung meninggal sementara anak bayinya masih dalam masa persusuan?

Maka, si bayi anak ibu tersebut dapat menyusu susu buatan atau menyusu kepada wanita lain. Wanita lain yang menyusui ini diperbolehkan dalam syariat sebagai bentuk penyelamatan terhadap anak yang tidak berdosa.

Meminta wanita lain atau bukan ibu kandung si anak dalam menyusui diperbolehkan berdasarkan syariat. Namun, Islam juga menganjurkan agar dalam hal persusuan kepada wanita selain ibu kandung adalah melihat kriteria orang yang bersangkutan. Yakni, harus diupayakan menghindari wanita bodoh serta wanita yang buruk perilakunya.

Bahkan, jika dapat memilih secara selektif, dianjurkan untuk memilih wanita yang paling baik akhlaknya. Hal itu agar perilaku dan akhlak si wanita tersebut dapat memengaruhi si anak lantaran telah mengisap susunya.

Syarat-syarat penyusuan mahram

Dilansir dari Republika, hal pertama yang menjadi penyusuan mahram adalah harus dari manusia. Seandainya dua anak manusia menyusu pada domba, keduanya tidak dapat dinyatakan sebagai dua saudara sepersusuan.Berbeda halnya dengan menyusu kepada manusia.

Lantas, apakah disyaratkan si anak menyusu langsung melalui puting si wanita? Bolehkah menggunakan medium lain dalam menyusu kepada si wanita yang bukan ibu kandung ini?

Dijelaskan bahwa seandainya dia memeras susunya dalam satu wadah kemudian anak itu minum dari wadah tersebut, hal itu diperbolehkan. Sebab, maksud dari persusuan yang dilakukan memiliki nilai manfaat yang sama.

Yakni si anak mendapatkan asupan yang baik dari ASI yang diberikan si wanita, baik mengisapnya melalui medium lain ataupun melalui puting.

Kedua, susuan itu terjadi sebelum dipisah (dihentikan persusuannya). Inilah pendapat yang paling shahih terkait bahwa yang dijadikan acuan adalah keadaan anak dan bukan usianya. Maksudnya adalah masa persusuan kepada si anak masih dilakukan sebab belum menyentuh masa penyapihan.

Avatar

redaksihidayatuna

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − 14 =