Menolak Perjodohan Orangtua Bukan Berarti Anak Durhaka

 Menolak Perjodohan Orangtua Bukan Berarti Anak Durhaka

perjodohan

HIDAYATUNA.COM – Ketika mendengar kata “perjodohan”, apa yang terbesit di pikiran Anda?

Di zaman modern ini, perjodohan tidaklah lagi relevan untuk dilakukan. Meskipun masih ada keluarga yang melakukan praktik perjodohan ini.

Sering kali kita mendengar bahwa saat orangtua menjodohkan dengan orang lain, kemudian kita menolaknya karena alasan tidak saling suka dan sebagainya. Hal ini dianggap sebagai sikap yang durhaka.

Tidak jarang orangtua juga masih bersikeras untuk meyakinkan kepada anaknya bahwa melalui perjodohan, maka bisa mendapatkan hidup yang lebih layak.

Ini sebagai tanda bahwa seorang anak hormat dan patuh kepada orangtuanya. Orangtua juga meyakinkan bahwa rasa cinta itu akan muncul dengan sendirinya ketika sudah menikah dan terbiasa hidup bersama.

Namun, bagaimana jika rasa cinta tidak juga bertumbuh, tetapi justru hal ini membuat tertekan?

Tentu saja ini akan berisiko pada kondisi rumah tangga yang tidak sehat. Bahkan jika sudah memiliki anak, maka juga akan berdampak kepada sang anak.

Tradisi Bibit, Bebet, Dan Bobot Yang Memberatkan

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa tradisi di Indonesia ini sangatlah kuat. Salah satunya di Jawa yang sangat mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot ketika mencari pasangan.

Untuk mencari pasangan dengan kriteria bibit, bebet, dan bobot tersebut, sebagian besar adalah dengan melibatkan orangtua. Orangtua akan mencarikan jodoh yang tepat sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Dalam hal ini anak sering kali haruslah patuh dengan pilihan orangtuanya, terutama anak perempuan. Meskipun terkadang di hati tidaklah merasa cocok, namun rasa patuh dan hormat kepada orangtua menjadi alasan tersendiri untuk tidak bisa menolak.

Menolak Perjodohan dalam Islam

Dalam perjodohan menurut Islam, sangatlah penting untuk mendapatkan persetujuan di kedua belah pihak. Dimana pihak laki-laki dan perempuan sama-sama setuju sehingga pernikahan bisa dilangsungkan atas dasar sama-sama suka.

Namun, jika salah satu atau bahkan kedua belah pihak tidak saling menyetujui dan hanya karena dorongan orangtua, maka inilah yang menjadi permasalahan.

Sebagaimana Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab, “Dengan ia diam”.

Melalui hadis tersebut menjelaskan bahwa di dalam menjodohkan, maka penting untuk menanyakannya terlebih dahulu. Jika antara laki-laki dan perempuan saling setuju, maka perjodohan ini tidak akan dipermasalahkan.

Sedangkan jika ada unsur paksaan di dalam perjodohan, maka pernikahan tersebut bisa dikatakan tidak sah.

Diketahui bahwa sebelum Islam datang, posisi perempuan sangatlah sulit. Khususnya dalam urusan perjodohan. Para perempuan tidak bisa memilih jodohnya apalagi sampai menolaknya.

Tetapi kondisi berbeda ketika Islam datang. Perempuan berhak untuk memilih dan bahkan menolak perjodohan yang diajukan. Ini menjadi bukti betapa Allah SWT sangat menyayangi dan memuliakan para perempuan.

Kebahagiaan Ditentukan Oleh Diri Sendiri

Dalam suatu pernikahan tentunya bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah SWT, bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.

Untuk mewujudkannya, maka penting mendapatkan jodoh yang mampu dan siap berkomitmen dan mendukung satu sama lain dalam mewujudkan impian masing-masing. Meski sudah menikah karena tentu saja pernikahan tersebut nantinya Anda yang menjalani.

Harus ada kerelaan antara pihak laki-laki dan pihak perempuan. Jika tidak ada unsur kerelaan, maka dikhawatirkan rumah tangga yang terbangun tidak bisa berjalan dengan baik.

Dengan begitu, kebahagiaan kita adalah kita sendiri yang menciptakannya. Ketika orangtua menjodohkan dan hal tersebut tidak membuat kita cocok, maka menolak bukanlah hal yang berdosa besar.

Karena kepatuhan kita kepada orangtua juga memiliki batasan. Di saat keputusan orangtua tidak membuat kita bahagia, tidak membuat hati kita nyaman, dan memiliki risiko di kemudian hari, maka kita bisa memberikan penolakan dengan cara yang baik.

Dengan begitu diharapkan semuanya bisa menerima tanpa memunculkan konflik. Orangtua bisa menerima alasan dari penolakan kita, begitu pun dengan kita yang tidak merasa terpaksa.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 − two =