Menjaga Akidah atau Keutuhan Masyaraka? BAGIAN II

 Menjaga Akidah atau Keutuhan Masyaraka? BAGIAN II

Benarkah Berteman dengan Non-muslim Itu Dilarang? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Saya pribadi tidak berani memberikan penilaian. Namun sekilas, setelah menyampaikan alasan dan pembelaan tersebut, Nabi Musa as –atau lebih tepatnya Allah SWT- tidak mengomentari apapun. Ini bisa dikatakan iqrar.

Imam Thahir bin ‘Asyur, karena ia seorang yang sangat pakar dalam Tafsir, Lughah, Maqashid dan sederet keilmuan pokok lainnya, ia memberikan penilaian:

وَكَانَ اجْتِهَادُهُ ذَلِكَ مَرْجُوحًا لِأَنَّ حِفْظَ الْأَصْلِ الْأَصِيلِ لِلشَّرِيعَةِ أَهَمُّ مِنْ حِفْظِ الْأُصُولِ الْمُتَفَرِّعَةِ عَلَيْهِ، لِأَنَّ مَصْلَحَةَ صَلَاحِ الِاعْتِقَادِ هِيَ أُمُّ الْمَصَالِحِ الَّتِي بِهَا صَلَاحُ الِاجْتِمَاعِ

“Ijtihad Nabi Harun ini marjuh (lemah) karena menjaga sesuatu yang sangat pokok dalam syariat (yaitu akidah) jauh lebih penting daripada menjaga pokok-pokok yang menjadi cabang darinya, karena kemaslahatan akidah adalah induk segala kemaslahatan yang dengannya masyarakat akan baik.”

Sementara Imam Fakhr ar-Razi lebih menempuh cara yang lebih moderat. Ia tidak mengatakan bahwa ijtihad Nabi Harun adalah marjuh (lemah).

***

Menurutnya, para Nabi bisa saja meninggalkan sesuatu yang lebih utama

(جَوَازِ تَرْكِ الْأَوْلَى).

Beliau berkata:

فَالْفِعْلُ الَّذِي يَفْعَلُهُ أَحَدُهُمَا وَيَمْنَعُهُ الْآخَرُ أَعْنِي بِهِمَا مُوسَى وَهَارُونَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ لَعَلَّهُ كَانَ أَحَدُهُمَا أَوْلَى وَالْآخَرُ كَانَ تَرْكَ الْأَوْلَى فَلِذَلِكَ فَعَلَهُ أَحَدُهُمَا وَتَرَكَهُ الْآخَرُ

“Apa yang dilakukan oleh satu dari kedua Nabi mulia ini (maksudnya Musa dan Harun), dan tidak dilakukan oleh yang lain. Boleh jadi salah satunya lebih utama sementara yang lain meninggalkan yang lebih utama. Oleh karena itulah, salah satu melakukannya sementara yang lain meninggalkannya.”

Pandangan beberapa ahli tafsir kontemporer seperti Imam Musthafa al-Maraghi, Imam Abu Zuhrah, Imam al-Qasimi dan lain-lain. Spertinya cenderung menyetujui langkah yang diambil oleh Nabi Harun as.

***

Apa yang bisa disimpulkan dari uraian ini? Pertama, masalah akidah adalah masalah pokok, bahkan induk dari segala masalah yang pokok. Kedua, marah ketika akidah dinodai adalah tanda keimanan seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Musa as.

Ketiga, ada saatnya -dalam beberapa kondisi dan situasi- menjaga keutuhan masyarakat lebih diutamakan daripada masalah akidah. Setidaknya untuk sementara waktu sampai ada tindakan pencegahan yang lebih solutif.

Keempat, meskipun seorang Nabi, tapi Harun lebih memilih untuk menunggu kepulangan saudaranya ; Musa, yang lebih kredibel dan berkompeten untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.

Kelima, untuk kasus yang sudah jelas, pasti, terang-benderang. Tidak diragukan lagi bertentangan dengan akidah yang benar, Nabi Harun as masih memilih sikap yang hati-hati. Apalagi untuk sesuatu yang belum pasti, ada beragam sudut pandang yang argumentatif. Juba bagi sesuatu yang terjadi karena kebodohan (ketidaktahuan) dan sebagainya. Tentu semestinya lebih berhati-hati lagi.

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *