Cancel Preloader

Menjadi Muslimah Merdeka

 Menjadi Muslimah Merdeka

Muslimah Merdeka

Digiqole ad
Judul buku : Sister Fillah, You’ll Never be Alone
Penulis : Kalis Mardiasih
Penerbit : Qanita
ISBN : 978-602402177-1
Tahun terbit : April, 2020
Jumlah halaman : 126 hlm
Peresensi : Muallifah

HIDAYATUNA.COM – Menjadi muslimah merdeka adalah hak setiap perempuan. Terlebih melihat realita yang ada sekarang. Masih ada saja yang melihat perempuan sebagai manusia kelas kedua. Perempuan masih saja berkutat dengan masalah pribadi.

Berangkat dari pengalaman pribadi, keterlibatan dengan beragam cerita dari lingkungan serta kejadian-kejadian sekitar yang memang perlu dikritisi. Buku ini pun hadir untuk mengisi kehausan bacaan yang selama ini dibutuhkan oleh pembaca. Khususnya oleh perempuan.

Diawali dengan masalah perempuan dan kemanusiaan, pembaca akan menemukan perspektif segar. Perspektif yang selama ini ada berkenaan dengan masalah-masalah perempuan dan kemanusiaan (hlm.1).

Selayaknya manusia pada umumnya, anggapan perempuan sebagai manusia kelas kedua sangat merugikan perempuan serta kemerdekaan dirinya sebagai manusia.

Barangkali kita harus melihat sejarah di masa silam bahwa Siti Khadijah, sebagai perempuan sosial yang aktif di bidang perdagangan untuk meningkatkan ekonomi.

Hal yang naïf sekali apabila kedudukan perempuan hanya dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat domestik. Pun, keshalihannya yang hanya diukur ketika dirinya berada di rumah saja.

Tidak hanya itu, tinggal di daerah yang memiliki populasi muslim yang besar dengan pemahaman yang beragam, namun masih tetap menganut patriarki. Pemahaman agama serta simbol-simbol agama masih erat kaitannya dengan sifat kasat mata.

Penggunaan jilbab, misalnya. Selama ini, konstruk pemikiran dan penafsiran soal jilbab sangat kontras dengan budaya yang dimiliki oleh perempuan Indonesia. Beragam tafsir soal pemakaian jilbab sejauh ini menimbulkan kontroversi bagi kalangan masyarakat.

Padahal, jika ditilik dari sejarah perkembangan jilbab di Indonesia. Bentuk jilbab yang bukan kerudung mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an.

Tidak hanya itu, penggunaan jilbab di masa lampau yang dikenakan oleh para ulama-ulama perempuan, seperti Syaikah Rahman El-Yunisiah. Ialah berupa kain renda yang tipis, dikenakan sebagi penutup kepala (hlm.17).

Itu tidak mengurangi kebangaan kita sebagai muslimah. Bahwa ia merupakan salah satu sosok perempuan panutan yang mengenyam pendidikan di Al-Azhar. Ia juga menjadi ulama perempuan yang mengajarkan ilmu agam kepada masyarakat.

Potret perempuan ditampilkan secara apik dari sosok Syaikkhah Rahmah. Bahwa perempuan mampu berfikir merdeka dengan ragam keilmuan yang harus terus diasah. Agar bisa keluar dari kejumudan berfikir yang dimiliki oleh kebanyakan orang (hlm.20).

Meski pada akhirnya, penggunaan jilbab ini masih menjadi topik yang selalu diperdebatkan oleh beberapa kaum perempuan. Namun, bisa kita bayangkan dengan berbagai ragam realitas sosial perempuan di Indonesia.

Seperti perempuan petani, nelayan, pedagang pasar, ASN, penjual ikan, jika harus menggunakan abaya hitam dengan niqab yang lebar. Seyogyanya ajaran Islam tidak pernah memberatkan bagi pemeluknya. Islam hadir di tengah-tengah keberagaman yang dimiliki pemeluknya.

Melalui pengalaman-pengalaman bertemu dengan perempuan serta melihat berbagai masalah perempuan, Kalis, sapaan akrab penulis memaparkan tulisan ini begitu ringan. Tulisannya juga mudah dipahami oleh semua kalangan.

Ketertarikan pada masalah-masalah perempuan membuat penulis memahami bahwa persoalan kesetaraan selalu menjadi hal yang wajib diperjuangkan. Ini dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Namun, persoalan yang melekat hingga saat ini bahwa masih banyak yang menafikkan kesadaran soal kesetaraan dengan berbagai alasan. Kehadiran perempuan sebagai sosok manusia yang sama dengan laki-laki belum disadari.

Kurangnya kesadaran tersebut dari ruang lingkup masyarakat secara luas, dengan berbagai pengalaman negatif yang dimiliki oleh masyarakat.
Marginalisasi, subordinasi, beban ganda masih menjadi masalah perempuan di tengah masyarakat dengan berbagai kondisi yang dialami sebuah keluarga (hlm.54).

Beberapa masyarakat masih kurang menyadari pentingnya kesetaraan dikarenakan belum melihat aspek kehidupan yang tidak sama dengan apa yang sebenarnya ada.

Tidak semua laki-laki bertanggung jawab memberikan nafkah pada istrinya. Tidak semua perempuan dilahirkan dengan ekonomi yang cukup dan maju sehingga ia berdiam di rumah. Berdiam dengan shalihah yang diinterpretasikan selalu di rumah.

Tidak sedikit kita mengetahui betapa banyak kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual dialami oleh perempuan. Apalagi kekerasan seksual terhadap anak.

Beberapa kasus bisa menjadi contoh bersama kasus Yuyun. Anak usia 10 tahun yang diperkosa ramai-ramai, dibunuh lalu dimasukkan ke jurang di Bengkulu (hlm.64). Ini menjadi bukti bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kepada sispa saja, tanpa melihat usia apalagi pakaian yang dikenakan.

Berdasarkan hal tersebut, maka pendidikan seks sangat dibutuhkan bagi seorang anak semata-mata untuk mempelajari tentang dirinya sendiri. Untuk mencegah perilaku HIV/AIDS dan menghindari dari seks bebas. Sekaligus memberian kesadaran untuk melawan ketika ada orang yang berusaha untuk melakukan pelecehan seksual (hlm.70).

Pada akhirnya, pemahaman soal perempuan dengan segala gerak yang dimiliki harus menjadi kesadaran kita bersama. Bahwa perempuan juga manusia yang memiliki hak untuk berfikir dan berkreasi mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki. Apalagi membatasi makna “dimuliakan” dengan arti berdiam di rumah.

Sebab kita masih banyak menemukan perempuan yang harus berjualan di trotoar, bekerja ke pasar. Pun, menjadi ASN yang setiap hari harus ke kantor mengajar, sedang ia masih menjadi orang tua versi terbaik kepada anaknya.

Seyogyanya hal ini mejadi refleksi kita bersama. Bahwa kita belajar banyak hal dari orang tua dalam mengasuh, membimbing dan mendidik anak-anaknya dengan kebebasan berfikir, dan berkreasi. Sesuai dengan apa yang mereka geluti.

Terakhir, sebagai bahan penutup untuk pembaca. Bahwa anak-anak perempuan dari ulama besar di pelosok negeri yakni Gus Dur, Quraish Shihah dan Gus Mus menjadi perempuan yang dibesarkan oleh ulama.

Mereka diberikan kebebasan untuk mengembangkan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Mereka menjadi berdaya dengan segala kemampuan serta menjadi versi terbaik menurut dirinya.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 5 =