Menilik Pesan Al-Qur’an dalam Surah Quraisy

 Menilik Pesan Al-Qur’an dalam Surah Quraisy

Spirit Nuzulul Qur’an: Al-Qur’an Ajarkan Nilai-Nilai Persatuan dan Kerukunan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Dalam Al-Qur’an ada surat bernama Quraisy. Hanya empat ayat tidak terlalu panjang. Isinya menceritakan beberapa hal terkait karakteristik suku Quraisy.

Salah satunya kemampuan mereka dalam urusan berdagang. Lantas kenapa Al-Qur’an secara khusus membahas tema suku Quraisy ini, tentunya ada hal yang menarik untuk dikaji.

Bangsa Arab itu tidak semua pandai berdagang. Tapi kalau khusus suku Quraisy memang sudah dari sononya keturunan pedagang.

Tidak usah didebat. Surat Quraisy ini menceritakan bahwa sudah jadi kebiasaan alias tradisi suku Quraisy untuk berdagang sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim.

Musim panas mereka dagang, mereka ke Utara yaitu ke negeri Syam. Di musim dingin pun dagang juga, mereka ke selatan yaitu ke Yaman.

Dan di luar itu, orang-orang Arab dari berbagai penjuru mendatangi mereka, yaitu di musim haji yang waktunya bisa mereka atur-atur sendiri, tidak harus di bulan Dzulhijjah.

Jadi kehidupan mereka adalah dagang, dagang dan dagang. Tiada hari tanpa dagang. Berdagang seperti sudah jadi ruh bagi mereka.

Dan di mana-mana bangsa pedagang lah yang memegang kekuatan ekonomi. Kalau zaman sekarang kira-kira jadi negara super powernya lah.

Bangsa Arab tidak bisa mengelak fakta bahwa urat nadi ekonomi mereka ada di tangan suku Quraisy.

Tapi itu baru satu kekuatan. Dan ternyata suku Quraisy masih punya satu kekuatan lain, yaitu kekuatan religius dan keagamaan.

Salah satu keuntungan jadi suku Quraisy di luar urusan dagang bahwa mereka itu suku yang disepakati sebagai penjaga Ka’bah secara turun temurun.

Mereka diyakini sebagai keturunan darah biru dari Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam.

Dua tokoh leluhur yang sangat dipuja oleh bangsa Arab sebagai tokoh yang membangun Ka’bah.

Maka lengkap sudah berapa tingginya posisi suku Quraisy di tengah bangsa Arab. Selain menguasai perdagangan, di tangan mereka juga urusan ritual, agama, peribadatan dan religusitas semua bangsa Arab.

Quraisy-lah yang bertsnggung-jawab mengadakan patung-patung di dalam Ka’bah untuk disucikan bahkan pada akhirnya disembah.

Karena sudah tidak muat di dalam Ka’bah, akhirnya ratusan patung itu pun diletakkan di luar,di pelataran Ka’bah.

Jumlahnya tidak kira-kira, sampai 360 berjalan dari berbagai model.

Tentunya semua berhala itu harus bayar pajak alias bayar ongkos parkir. Keberadaannya tidak gratis.

Uangnya dari suku-suku Arab, setornya kemana lagi kalau bukan ke ormas setempat, eh kepada pemuka Quraisy.

Memang kebangetan mereka, bahkan urusan agama pun jadi duit juga. Prinsipnya makin banyak patung sesembahan di parkir dekat Ka’bah, makin banyak pendapatan mereka.

Maka dimana-dimana suku Quraisy itu sangat disegani, dihormati dan dimuliakan. Kemana saja kafilah dagang suku Quraisy lewat, tidak ada yang berani mengganggu. Seolah mereka adalah suku yang punya privilese khusus.

Para perampok, kawanan maling, kelompok begal, jaringan pencoleng dan kolega-koleganya langsung berlarian kocar-kacir kalau sampai bertemu kafilah dagang Quraisy.

Mereka bukan hanya takut kualat sama Quraisy, tapi juga rada gemetar melihat sekutu dan pendukung suku Quraisy banyak banget.

Boleh dibilang seluruh suku di gurun pasir Arabia adalah sekutu Quraisy. Pokoknya jangan sekali-kali bikin perkara dengan suku Quraisy.

Itu adalah fatsoen politik bangsa Arab kala itu. Semua orang tahu masalah itu dan mafhum. Penjahat gurun pasir dan preman-preman kampungnya pun juga sudah tahu.

Nabi SAW adalah bagian dari suku Quraisy. Beliau adalah cucu pahlawan Mekkah yaitu Abdul Muththalib.

Selain berdarah biru, Nabi Muhammad secara pribadi memang sosok yang humble, berakhlak mulia, jujur, amanah dan dipercaya.

Tanpa diminta pun semua sepakat memberinya gelar sebagai orang yang paling dipercaya alias Al-Amin.

Apalagi Nabi Muhammad menikahi Khadijah yang termasuk jajaran jetset orang-orang kaya Mekkah. Maka posisi Nabi SAW ini sangat-sangat potensial. Semua dia punya.

Maka ketika diangkat jadi rasul, sebenarnya punya posisinya sudah strategis sekali, yaitu berada pada hegemoni tertinggi untuk menyebarkan dakwah di tengah beragam suku-suku Arab.

Setidaknya begitulah teorinya di atas kertas. Namun faktanya di lapangan berbeda. Ternyata suku Quraisy sendiri yang menentang dakwah Nabi Muhammad.

Mereka tidak bisa menerima konsep agama samawi. Tidak ada ruang dalam batok kepala orang Quraisy yang bisa menerima logika bahwa Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa itu menitipkan perintah agama lewat seorang manusia.

Mereka menolak konsep kenabian, konsep malaikat dan konsep kitab suci.

Selain itu akal mereka tidak bisa menerima paham bahwa semua orang mati akan hidup lagi. Karena faktanya belum pernah ada orang mati dikubur jadi tanah, terus tanahnya kembali lagi jadi manusia dan hidup.

Intinya mereka tidak bisa terima logika adanya hari akhir yang jadi rukun dasar dalam aqidah agama samawi.

Maka Nabi Muhammad pun digebugi ramai-ramai oleh seluruh anggota sukunya sendiri. Dari yang awalnya dielu-elukan, dipuja-puja dan dibanggakan, tiba-tiba dihabisi ramai-ramai dibantai oleh orang-orang dari sukunya sendiri.

Hidup itu memang kejam, Jenderal.

Jadi ribut-ributnya Nabi SAW itu bukan dengan suku lain, juga bukan dengan bangsa Arab lain.

Tetapi ributnya ribut internal, yaitu justru dengan para pemuka suku Quraisy sendiri.

Para pemuka Quraisy memang kalap sehingga sampai hati mau membunuh salah satu putera terbaiknya sendiri.

Dan parahnya lagi, pemuka Quraisy bahkan mengumumkan kepada seluruh bangsa Arab bahwa status Muhammad SAW adalah DPO alias daftar pencarian orang.

Ketemu dimana pun silahkan dibunuh saja. Tidak akan ada yang menuntut dari pihak sukunya sendiri.

Itulah kenapa penduduk Thaif jadi kurang ajar kepada Nabi SAW, sampai berani-beraninya melempari batu kepada Nabi SAW ketika mendatangi mereka.

Rupanya para pemuka Quraisy sudah lebih dulu menghasud penduduk Thaif untuk membunuh Nabi SAW kalau sampai datang kesana.

Jadi di masa itu, yang jadi lawan dan musuh besar Nabi SAW bukan siapa-siapa, tetapi justru dari sukunya sendiri, yaitu suku Quraisy.

Di bagian akhir kisah Nabi SAW, ternyata semua pemimpin Quraisy masuk Islam juga. Walaupun pakai drama Korea dulu, pakai acara ribut bahkan perang beberapa kali. Dan sebagiannya sudah mati dalam perang.

Akhirnya setelah suku Quraisy berhasil ditaklukkan, mudah sekali bagi Nabi SAW untuk menyebarkan dakwah ke seluruh jazirah Arabia.

Suku-suku Arab itu cenderung manut kepada Quraisy. Pokoknya pasrah bongkokan, ikut apa kata Quraisy.

Makanya ketika Nabi SAW wafat, empat Khalifah berikutnya tetap harus dari suku Quraisy. Memang demikian sabda Nabi Muhammad:

الأئمة من قريش

Artinya:

“Yang patut jadi pemimpin itu orang Quraisy.”

Secara logika, karena mereka lah yang punya kekuatan ekonomi sekaligus punya kekuatan religius bangsa Arab. Dan itu sudah turun temurun ribuan tahun lamanya. []

Ahmad Sarwat

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *