Menilik Kiprah dan Kontribusi KH Sholeh Darat 

 Menilik Kiprah dan Kontribusi KH Sholeh Darat 

KH Sholeh Darat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di negeri ini ada banyak ulama yang hidup di masa silam yang memiliki kontribusi sampai hari ini masih terasa di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah KH Sholeh Darat, ulama asal pesisir utara pulau Jawa ini memiliki kiprah yang cukup signifikan.

Selain belajar dan membuat Kitab Tafsir Faidl al-Rahman, ia juga merupakan seorang guru yang muridnya memiliki reputasi sampai pada level nasional: KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul ‘Ulama, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, KH Mahfud Tremas, KH Muhammad Moenawir, dan lain-lain. 

KH Sholeh Darat sendiri memiliki nama lengkap Muhammad Sholeh Ibnu Umar. Ia lahir di Desa Kedung Jemblung, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara sekitar tahun 1820 M. Di tahun tersebut, dunia tengah mengalami derita karena adanya wabah kolera. Wabah yang bermuasal dari India ini dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tercatat di masa itu, Semarang dan daerah sekitarnya mengalami korban kisaran 1.200 jiwa. KH Sholeh Darat yang masih belia dapat selamat, tumbuh, berkembang, dan menyumbangkan pemikirannya di kemudian hari. 

Seperti halnya para alim di masa lalu, gerbang pertama pendidikan yang diperoleh berasal dari keluarga. Pertama-tama KH Sholeh Darat belajar dengan ayahnya, Kiai Umar. Di situ ia peroleh sekian pengetahuan dasar tentang ilmu agama Islam yang kelak menjadi bekal ketika ia naik haji dan belajar di Makkah.

***

Di masa itu, Makkah memang menjadi tujuan bagi umat Islam untuk memperdalam ilmu agama Islam, khususnya muslim nusantara. Bahkan Snouck Hugronje dalam bukunya Mekka in The Latter Part of 19th Century (1931) memberi pernyataan bahwa, di Makkah muncul koloni orang-orang Jawa.

Di situ menjadi jantung yang dapat memompa dengan cepat pengetahuan Islam ke seluruh penduduk muslim di Indonesia untuk melawan kolonial. Termasuk KH Sholeh Darat. Sepulangnya dari Makkah ia melakukan perlawan sosio-kultural dengan menulis sejumlah literatur kitab untuk meneguhkan identitasnya sebagai orang Jawa.

Ia emoh berkompromi dan mengikuti instruksi kolonial. Seperti misal ia kekeh menerjemahkan dan memberi tafsir ayat-ayat di kitab suci Alquran dengan bahasa Jawa berhuruf Arab-pegon yang akrab dikenal dan dikaji dengan Tafsir Faidl al-Rahman. Selain itu ada sekian kitab yang ditulis oleh KH Sholeh Darat semasa hidupnya.

Tercatat terdapat sekurang-kurangnya 10 kitab, selain Tafsir Faidl al-Rahman yang menjadi magnum opus di bidang keilmuan tafsir Alquran: Kitab Majmu’ah asy-Syariah al-Kafiyah li al-‘AwammKitab MunjiyatKitab Matn al-HikamKitab Latha’if at-Thaharah Wa Asrar al-ShalahKitab Manasik al-Hajj wal ‘Umrah wa Adab Ziyarah li Sayyidina al-MursalinKitab PasholatanTarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauharah at-Tauhidal-Mursyid al-WajizMinhaj al-Atqiya’, dan Kitab Hadis al-Mi’raj. 

Dari nama kitab di atas, saya rasa KH Sholeh Darat memiliki orientasi selain melawan kolonial dari sisi sosio-kultural, juga hendak memberi jalan temu pada dua pengetahuan besar dalam sejarah Islam yang kerap berpolemik: tasawuf dan fikih. Bagi KH Sholeh Darat, dua pengetahuan itu dapat dielaborasi tanpa harus saling menegasi. Keduanya penting ditulis dan terbaca masyarakat sebagai bagian dari syiar Islam sekaligus meneguhkan identitas keislaman.

***

Abdul Mustaqim di bukunya berjudul Tafsir Jawa; Eksposisi Nalar Shufi-Isyari Kiai Sholeh Darat, Kajian Atas Surah Al-Fatihah dalam Kitab Faidl al-Rahman (2018) mencatat, setidaknya ada empat kontribusi dari KH Sholeh Darat kepada generasi yang datang setelahnya.  

Pertama, kontribusinya sebagai penulis pertama kitab tafsir berbahasa Jawa. Sebelumnya ada nama Syekh Abdur Ro’uf al-Sinkili yang menulis kitab Tafsir Tarjumanul Mustafidl pada paruh abad 17 M dalam bahasa Melayu. Namun setelahnya baru ada nama KH Sholeh Darat yang menerjemahkan dan memberi tafsir Alquran pada akhir abad 19 M. Meskipun penulisan tafsirnya belum khatam. 

Kedua, KH Sholeh Darat dapat dijadikan sebagai representasi dari seorang muslim yang alim dan taat, namun tidak meninggalkan identitas lokalnya sebagai orang Jawa. Di masa kolonial Jawa dan Islam kerap dihadap-hadapkan sebagai lawan. Mereka yang mengaku muslim tapi masih nguri-nguri budaya Jawa dinilai keislamannya tidak otentik. 

Ketiga, KH Sholeh Darat dinilai sebagai figur muslim moderat di masa silam. Hal ini ditengarahi oleh sekian kitab yang ditulis melulu mencari mencari jalan tengah antara ajaran tasawuf dengan fikih, baik secara ekplisit maupun implisit. 

Keempat, kitab Tafsir Faidl al-Rahman yang ditulis KH Sholeh Darat merupakan satu-satunya tafsir Jawa yang mengusung corak epistemologi irfani. Artinya hampir setiap tafsir yang ditulis KH Sholeh Darat melibatkan makna isyari atau makna batin, di samping makna zahirnya. 

Maka saya rasa wajar ketika kita melihat KH Sholeh Darat dari kontribusinya sampai memiliki sekian murid yang sampai hari ini memberi kerangka keberislaman di negeri ini. Bahwa KH Sholeh Darat secara fisik sudah dikebumikan, memang iya. Namun kiprah dan kontribusinya jauh melampui ustaz-ustaz yang hari ini kerap muncul di layar kaca. Begitu. 

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve − 6 =