Menikah Bukan Tentang Siapa yang Lebih Dominan

 Menikah Bukan Tentang Siapa yang Lebih Dominan

Berciuman Batalkan Puasa (Ilustrasi/Hidaytuna)

HIDAYATUNA.COM – Menikah merupakan sebuah fase baru dari perjalanan hidup, fase mengakhiri masa lajang. Kita tidak lagi hidup secara mandiri, namun sudah memiliki pasangan yang akan menjalani setiap momen berumah tangga.

Di dalam rumah tangga itulah, tentunya ada banyak hal yang berubah. Kita akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersama pasangan. Keterbukaan satu sama lain menjadi hal yang penting untuk bisa saling memahami. Begitu pun ketika memiliki suatu permasalahan rumah tangga, maka bukan lagi menjadi tanggung jawab secara individu, melainkan tanggung jawab kedua insan tersebut.

Di sinilah yang biasanya selalu mengandalkan kata “aku”, maka saat hidup berumah tangga akan lebih dominan dengan kata “kita”. Sebab sebagian besar akan lebih banyak melibatkan partisipasi keduanya daripada diurus secara sendiri-sendiri.

Para sahabat di zaman Nabi saw pun sudah mencontohkannya. Salah satunya adalah sahabat Ali bin Abi Thalib yang diketahui sangatlah menyayangi istrinya Fatimah. Ali menunjukkan rasa perhatiannya kepada Fatimah yang tampak sangat kelelahan ketika sedang mengurus pekerjaan rumah tangga.

Ali pun mendatangi Nabi saw untuk meminta pelayan agar bisa membantu istrinya. Dan saat itu Nabi saw tidak mengabulkan permintaan Ali. Maka Ali bin Abi Thalib pun segera membantu Fatimah mengurus pekerjaan rumah.

Bahkan Nabi saw sendiri juga melakukan tugas-tugas rumah, seperti belanja ke pasar, menjahit bajunya yang robek, dan memperbaiki sepatunya yang sudah rusak. Hal tersebut dilakukan Nabi saw tanpa harus menunggu istrinya yang bertindak dan mengerjakan tugas itu.

Memiliki Peranan Setara Adalah Kunci Keluarga Harmonis

Setiap keluarga tentu mengharapkan agar hubungannya selalu dalam kondisi yang harmonis. Hal ini tidak hanya membuat keluarga tersebut nyaman dalam melalui kehidupan sehari-hari, tetapi juga orang lain yang melihat pun bisa menjadikannya sebagai inspirasi.

Untuk mencapai keluarga yang harmonis, setiap orang memiliki caranya masing-masing. Salah satunya bisa dengan memiliki peranan yang setara di dalam rumah tangga.

Peranan ini memang membutuhkan kesadaran dari dalam hatinya, sehingga bisa dilaksanakan tanpa rasa terpaksa. Karena di dalam hidup berumah tangga penting sekali untuk memiliki kepekaan. Ketika salah satu sedang mengalami kendala yang tidak bisa menjalankan tugasnya, maka pasanganlah yang akan tanggap untuk menggantikan peran tersebut.

Seperti halnya ketika istri sedang sakit dan tidak bisa mengurus anak, maka peran seorang suami dibutuhkan untuk siap siaga menggantikannya. Begitu juga ketika dirasa penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka istri pun juga bisa turut bekerja.

Bukan berarti karena selama ini suami dikenal sebagai penopang ekonomi keluarga, lalu ketika dalam kondisi perekonomian yang sempit, suami akan disalah-salahkan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga, kerja sama keduanya sangatlah penting untuk menghindari konflik dan menciptakan keharmonisan.

Rumah Tangga Bukan Ajang Menampilkan Siapa yang Dominan

Di dalam hidup berumah tangga bukanlah sebuah area untuk menunjukkan siapa yang lebih dominan. Meskipun suami dianggap sebagai kepala keluarga, namun di dalam pelaksanaannya tetaplah ada gotong royong dari kedua belah pihak.

Tanpa keterlibatan keduanya, maka setiap keputusan rumah tangga yang diambil hanya akan mengandalkan pendapat individu dan tidak ada kesepakatan bersama. Bisa saja keputusan tersebut tidak diterima oleh pasangan dan memicu tumbuhnya benih-benih perselisihan.

Oleh karena itu, sebuah rumah tangga haruslah diurus secara bersama oleh suami dan istri. Di mana suatu waktu suami bisa menjalankan peran sebagai istri kecuali hamil, melahirkan, dan menyusui. Serta istri suatu waktu bisa menjalankan peran sebagai suami.

Sehingga, tidak ada sikap untuk mengunggulkan ego masing-masing dan merasa paling berkuasa serta merasa tidak berkewajiban untuk menjalankan peran pasangannya. Karena ini adalah rumah tangga yang dibangun bersama dan sudah seharusnya dijalankan secara bersama juga.

Dengan begitu, bagi setiap orang yang memutuskan untuk menikah, maka pastinya sudah memiliki komitmen yang dipegang erat serta mau untuk serasa dan sepenanggungan. Karena dalam membina hidup berumah tangga, kerja sama menjadi hal utama dan bukannya ingin mendapat posisi yang lebih dominan.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × two =