Menggunduli Rambut Setelah Taubat

 Menggunduli Rambut Setelah Taubat

Bertaubat dengan sungguh-sungguh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Seseorang yang baru saja taubat dari kejahiliyahan biasanya akan banyak mengubah penampilannya. Mulai dari menggunduli rambut bagi kaum adam, dan mengubah gaya busananya baik lelaki maupun perempuan.

Dalam Islam, tidak masalah bagi seseorang merubah penampilannya, terutama menggunduli rambutnya setelah taubat. Apalagi jika hal itu dilakukan oleh seorang syaikh atau guru yang membimbing dirinya untuk bertaubat. 

Meski dibolehkan, namun perlu diketahui bahwa mencukur atau menggunduli rambut bukan termasuk bagian dari rukun atau syarat taubat. Seseorang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi perbuatan dosanya lagi, maka taubatnya sudah dinilai sah meskipun dia tidak mencukur atau menggunduli rambutnya. 

Ini sebagaimana disebutkan dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah berikut; 

أما القص فهو على وفق ما كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم، فإن فعله الشيخ بالتائب كان مساعداً له على أمر كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم، وليس ذلك ركناً من أركان التوبة، ولا شرطاً من شروطها 

Terjemahan :

“Adapun memotong rambut, maka hal itu termasuk perkara yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Jika seorang syaikh atau guru melakukan potong rambut pada orang yang bertaubat, maka ia telah membantu orang tersebut untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Meski demikian, hal itu bukan bagian dari rukun-rukun taubat, dan bukan pula bagian dari syarat-syarat taubat.”

Meski mencukur atau menggunduli rambut boleh dilakukan oleh orang yang menyatakan diri bertaubat. Namun ada amalan yang lebih penting untuk dikerjakan dibanding oleh dirinya, yaitu mandi taubat dan melakukan salat taubat.

Kedua hal ini lebih penting untuk dikerjakan oleh orang yang menyatakan diri bertaubat. Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Tirmidzi, dari Abu Bakar Al-Shiddiq, dia berkata; 

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَهَذِهِ الْآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِم وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اللهُ 

“Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa, kemudian ia berdiri bersuci dan salat. Lalu ia meminta ampun kepada Allah kecuali Allah pasti akan mengampuninya. Kemudian beliau membaca ayat ini; Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa mereka kecuali Allah.”

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 − seven =