Mengenal Tanda-Tanda Meninggal Husnul Khatimah

 Mengenal Tanda-Tanda Meninggal Husnul Khatimah

Meninggal Khusnul Khatimah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap umat muslim. Lantas siapakah mereka yang tergolong mati dalam keadaan husnul khatimah? Bagaimanakah tanda-tandanya?

Ahmad Zacky El-Shafa dalam bukunya berjudul “Jangan Takut Mati Bila Husnul Khatimah” menjelaskan bahwa para ulama memberikan gambaran mengenai hal itu.

Di antara tanda-tanda meninggal dalam keadaan husnul khatimah yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat ketika wafat. Ia menjelaskan bahwa Imam Ghazali dalam “Minhaj Al-Abidin” menurunkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Syabramah.

Ia berkata, “Aku pernah menjenguk seseorang yang sedang sakit bernama asy-Sya’bi. Di dekat orang tersebut ada orang lain yang mengajarinya bacaan “La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu” lalu asy-Sya’bi berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kalimat tersebut, baik kamu ajarkan kepadaku maupun tidak.” Lantas ia membaca firman Allah, “…Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Fath: 26).

Tanda Istimewa

Kedua, ketika wafat dahinya berkeringat. Ini berdasarkan hadis dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan.

Ia menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya saudaranya itu telah wafat dan terlihat pada dahinya berkeringat.

Kemudian ia berkata, “Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya.” (HR. Ahmad, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hikam dan Ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud).

Ketiga, wafat pada malam Jumat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jumat atau pada malam Jumat kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur.” (HR. Ahmad)

Keempat, mati syahid dalam medan perang melawan kezaliman. Kelima, Perempuan yang mati karena melahirkan.

Dari Ubadah bin Shamit ra. bahwa Rasulullah SAW menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya, “Tahukah kalian siapa syuhada dari umatku?”

Orang-orang ada yang menjawab, “Muslim yang mati terbunuh!” beliau bersabda, “Kalau hanya itu para syuhada dari umatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid.” (HR. Ahmad, Darimi dan Ath-Thayalusi).

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × one =