Biografi Tokoh

Mengenal Syaikh Siraj Garut, Ulama Besar Makkah Asal Sunda


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam khazanah intelektual muslim di Arab pada masa lampau, para ulama Nusantara memiliki pengaruh besar dan peranan perting di Makkah. Sejumlah guru besar dan ulama-ulama besar di Makkah berasal dari Nusantara. Salah satunya adalah Syaikh Siraj Garut Makkah, yang merupakan ulama besar Makkah berdarah Sunda.

Dosen Magister Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta, A. Ginanjar Sya’ban menjelaskan sosok Syaikh Siraj Garut (Sirâj b. Muhammad b. Hasan Qârût al-Makkî, w. 1390 H/ 1970 M) adalah seorang ulama besar Makkah yang ahli ilmu qira’at.

Selain itu, sosok Syaikh Siraj Garut lanjut Ginanjar, juga menjadi pelantun al-Qur’an di Masjidil Haram dan stasiun radio al-Qur’an milik pemerintah Kerajaan Saudi Arabia.

“Syaikh Siraj Garut lahir di Makkah pada tahun 1313 H (1895 M) dari keluarga ulama asal Garut yang telah lama bermukim di Makkah,” ungkap Ginanjar Sya’ban dikutip dari catatan kecil di Facebooknya, dilansir Rabu (24/6/2020).

Ginanjar menjelaskan, ketika berusia 13 tahun (1908 M), Syaikh Siraj pergi ke kampung leluhurnya di Garut sekaligus belajar di beberapa pesantren di Tatar Sunda selama beberapa tahun lamanya.

Di antara pesantren yang sempat ia singgahi adalah pesantren Balong, pesantren Cimasuk dan pesantren Fauzan (ketiganya berada di Garut dan masih terhubung sebagai keluarga Syaikh Siraj).

“Pesantren-pesantren tersebut hingga saat ini pun masih ada,” jelas Ginanjar.

Setelah beberapa tahun berada di Nusantara, Siraj kemudian kembali ke Makkah dan melanjutkan pengembaraan intelektualnya di sana. Siraj lebih spesifik menekuni bidang ilmu Qira’ah al-Qur’an. Di Makkah, ia pun belajar pada Masyâyikh al-Qurrâ pada zamannya, seperti Syaikh al-Ghamrâwî, Syaikh Ma’mûn al-Bantanî al-Jâwî dan Syaikh Ahmad al-Tîjî.

Baca Juga :  Abu Ubaidah Ibnul bin Jarrah, Panglima kepercayan umat

“Syaikh Siraj mendapatkan lisensi (ijâzah) untuk mengajar ilmu Qira’ah di Masjid al-Haram dan di kediamannya yang terletak di distrik (hay) al-Qusyâsyiyyah. Beliau juga didaulat untuk menjadi muqrî (pelantun al-Qur’an) yang dilantik resmi oleh Kerajaan Saudi Arabia dan rutin melantunkan al-Qur’an di Masjid al-Haram setiap harinya,” ujarnya.

Pada tahun 1369 H (1949 M), lanjut Ginanjar, ketika Stasiun Radio Kerajaan Saudi Arabia didirikan, Syaikh Siraj pun diangkat menjadi Muqrî al-Qur’an. Lantunan bacaan al-Qur’annya yang tartil dan merdu pun direkam dan diputar berulang-ulang.

“Di sana beliau bersama-sama dengan Syaikh ‘Umar Arba’în, Syaikh Muhammad Nûr Abû al-Khair, Syaikh Zakî al-Daghastânî, Syaikh Musaddad Qârût (asal Garut, Jawa Barat), Syaikh Zainî Bawiyân (asal Bawean, Jawa Timur), Syaikh Jamîl Âsyî (asal Aceh), dan lain-lain,” tandasnya. (MK/Hidayatuna)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close