KH. Maimoen atau yang sering disapa ‘mbah moen’ lahir di Sarang, Rembang pada 28 Oktober 1928, Wafat di Makkah, Arab Saudi ketika sedang melakukan ibadah Haji pada tanggal 6 Agustus 2019.
Kiai sepuh ini salah satu ulama Kharismatik yang merupakan seorang Alim, Faqih (ahli Fikih) sekaligus muharrik (penggerak). Selama ini beliau merupakan rujukan ulama Indonesia, dalam bidang fiqih. Hal ini, karena Mbah Moen mengusai secara mendalam ilmu Fiqih dan Ushul Fikih.
Pada usia mudanya sekitar 17tahunan, KH Maimoen Zubair sudah hafal kitab-kitab Nadzam, diantaranya Al- Jurumiyah, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah Fill Faroid. Ia lahir dari keluarga yang memilki latar belakang agama Islam yang sangat kuat. Ayahnya merupakan seorang ulama yang pernah berguru dengan Syekh Said Al-Yamani dan Syekh Hasan Al-Yamani Al-Makky.
Sejak Usia kecil, beliau di bimbing oleh orang tuanya dengan ilmu agama yang kuat. Ia belajar agama dari ayahnya dan juga dari para ulama diserang, Banten. Dalam riwayat pendidikan KH Maimoen Zubair diketahui Bahwa ia pada tahun 1945, Beliau menimba Ilmu ke pesantren lirboyo yang berada dikediri, Jawa Timur hingga pada tahun 1949. Setelah itu kemudian kembali ke kampungnya untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh di pesantren ke masyarakat.
Ketika Mba Moen beranjak usia 21 Tahun pada tahun 1950, Mbah Moen melakukan perjalanan untuk melanjutkan, menuntut ilmu ke Makkah, ditemani oleh kakeknya sendri KH Ahmad Bin Syu’aib. Di Makkah, KH. Maimoen Zubair mengaji kepada Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syekh Yasin Isa Al-Fadani, Syekh Abdul Qodir Al-Mandaly dan beberapa ulama lainya. Tak lupa Mba Moen Juga meluangkan waktunya untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, diantaranya KH. Baidhowi, KH. Ma’shum Lasem, KH Bisri Mustofa (rembang), KH. Wahab Chasbullah, KH Muslih Mranggen (Demak), KH. Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban), dan bebarapa ulama kiai sepuh lainnya.
Selepas kembali dari Makkah dan mengaji dengan beberapa Kiai ulama Sepuh. Selama KH. Maimoen Zubair belajar, ia menyusun kitab-kitab yang kemudian dijadikan rujukan untuk para santri seperti kitab Al-ulama Al-mujaddidun. Kemudian mengabdikan diri untuk mengajar di sarang, di tanah kelahirannya.
Pada tahun 1965, KH. Maimoen kemudian istiqomah mengembangkan Pesantren Al-Anwar Sarang. Pada tahun 1967, KH Maimoen Zubair mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang. Sekitar 2008, beliau kembali mendirikan pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian diserahkan pengasuhnya kepada anak putranya bernama KH Ubab Maimoen. Pesantren Al-Anwar yang berada di kampong Karangmangu Sarang, Jawa Tengah, ini mulanya berdiri kelompok pengajian yang dirintis oleh KH Ahmad Syu’aib dan KH Zubair Dahlan (ayahanda KH Maimoen Zubair). Pesantren ini, kemudian menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turarts secara komprehensif.
KH. Maimoen Zubair adalah Tokoh Nahdatul Ulama (Ulama) yang berpengaruh dan Politikus Indonesia. Mbah Moen juga dikenal aktif dalam organisasi Nahdatul Ulama yang didirikan Oleh KH. Hasyim Asyari. Dalam biografi KH. Maimoen Zubair diketahui bahwa ia pernah menjabat sebagai Ketua Syariah NU Provinsi Jawa Tengah dari tahun 1985 hingga 1990. Selain itu beliau juga aktif dalam organisasi partai politik seperti menjadi Ketua MPP Parta Persatuan Pembangunan dari tahun 1995 hingga 1999.
Kemudian di dunia poltik, KH Maimoen Zubair pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan sejak 2004 hingga beliau pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 Tahun. Politik menurut dalam diri KH. Maimoen Zubair bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan islam dalm kebangsaan. Setelah berakhirnya masa tugas di dunia politik, Beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. KH. Maimoen Zubair merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang.
Diketahui bahwa beliau menikah dengan Nyai HJ. Fatimah yang merupakan anak dari KH. Baidhowi Lasem. Istrinya HJ. Fatimah meninggal dunia pada tanggal 18 Oktober 2011. Dari pernikahnya ini, ia dikaruniai tujuh orang anak. Namun empat diantaranya meninggal ketika masih kecil, sedangkan tiga orang anaknya yang lain diketahui bernama KH. Abdullah Ubab, KH. Muhammad Najih dan Neng Shobibah. KH. Maimoen Zubair juga diketahui menikah dengan wanita bernama Nyai Masthia’ah, anak dari KH Idris asal Cepu. Dari pernikahnya ini, ia dikaruniai delapan orang anak, yakni, KH. Majid Kamil, Gus Ghofur, Gus Ro’uf. Gus Wafi, Gus Yasin, Neng Shobihah (meninggal), serta neng Rodhiyah. Ia juga menikah dengan seorang wanita bernama Nyai Maryam.
Silsilah Nasab Dari Jalur Nenek ibu Nyai Hasanah, yaitu:
• Mbah Kyai Maulana (Mbah Lanah), bangsawan Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro
• Mbah Kyai Ghozali bin Mbah Kyai Maulana
• Hajjah Sa’idah binti Mbah Kyai Ghozali yang menikah dengan Kyai Syu’aib, kyai Syu’aib adalah penerus perkembangan pesantren yang dirintih mbah Maulana dan Mbah Ghozali
• Nyai Hasanah binti Kyai Syu’aib
• Nyai Hasanah menikah dengan Kyai Dahlan
• Kyai Zubair bin Kyai Dahlan
• Kyai Maimun Zubair
Dari Jalur Kakek sampai dengan Sunan Giri, yaitu:
• Mbah Maimun bin
• Kyai Zubair bin
• Kyai Dahlan bin
• Mbah Carik Waridjo bin
• Mbah Munandar bin
• Kyai Puteh Podang (desa Lajo Singgahan Tuban) bin
• Kyai Imam Qomaruddin (dari Blongsong Baureno Bojonegoro) bin
• Kyai Muhammad (Macan Putih Gresik) bin
• Kyai Ali bin
• Kyai Husen (desa Mentaras Dukun Gresik) bin
• Kyai Abdulloh (desa Karang Jarak Gresik) bin
• Pangeran Pakabunan bin
• Panembahan Kulon bin
• Sunan Giri

Baca Juga :  KH Zainal Mustafa, Ulama dan Pejuang Kemerdekan

Sosok KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) sangat dihormati oleh masyarakat. Pendidikan ilmu agama Mbah Moen yang didapat olehnya bukanlah dari pendidikan formal namun kebanyakan melalui nonformal seperti pesantren dan belajar langsung dari ulama-ulama sepuh. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras.

Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu.
Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun. (*)