Mengenal Sosok Kiai Aniq Muhammadun

 Mengenal Sosok Kiai Aniq Muhammadun

Gus Ulil (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta — Cendekiawan muslim, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menceritakan sosok Kiai Aniq Muhammadun yang tak lain merupakan salah satu gurunya. Gus Ulil mengaku setiap selesai Subuh ia mengaji Kitab Syarah Ibn ‘Aqil dengan Kiai Aniq Muhammadun. Kitab tersebut merupakan kitab yang amat populer di seluruh dunia Islam, tidak saja di Indonesia.

“Kitab yang merupakan syarah atau komentar/penjelasan atas kitab Alfiyyah Ibn Malik ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren tradisional NU di seluruh Jawa dan luar Jawa,” ungkap Gus Ulil melalui akun Facebook pribadinya dikutip (10/1/2022).

Gus Ulil menjelaskan Kiai Aniq Muhammadun merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Pakis, Tayu, Pati. Menurutnya, selain para santri yang jumlahnya ribuan, salah satu pewaris intelektual Kiai Muhammadun adalah Kiai Aniq, selain Kiai Abdullah Rifa’i, ayahnya sendiri yang saat ini sudah wafat.

“Ketika “ngaji” dengan Kiai Aniq secara online, saya meniatkannya sebagai cara untuk mengenang dan menghormati ayah saya. Sekaligus sebagai upaya saya untuk mengikatkan kembali dengan warisan Kiai Muhammadun,” kata Gus Ulil.

Kiai Aniq Muhammadun Aktif di NU dan di Masyarakat

Salah satu keunggulan ngaji dengan Kiai Aniq, lanjut Gus Ulil adalah penguasannya yang amat mendalam atas ilmu nahwu dan sharaf (Arabic grammar). Ini adalah takhassus atau spesialisasi yang merupakan warisan dari Kiai Muhammadun.

“Warisan ini juga diteruskan, dulu, oleh ayah saya, Kiai Abdullah Rifa’i. Kecintaan saya atas ilmu nahwu dan sharaf, dan bahasa Arab secara umum, saya peroleh dari ayah saya; ayah saya dari kakek saya. Yang menarik, baik kakek saya menimba keahlian dalam ilmu nahwu ini dari Kiai Kholil Kasingan, kakek dari Gus Mus. Memang, ilmu para kiai cenderung “muter-uwer-uwer” di sekitar sumber yang sama,” ujarnya.

Ia mengatakan Kiai Aniq dikenal sebagai kiai yang amat amat disiplin. Walau beliau sibuk di NU dan kegiatan sosial yang lain, beliau berusaha untuk tetap rutin ngaji setiap hari. Ngaji dan mengajar adalah “passion” dan dedikasi yang tiada bandingannya bagi Kiai Aniq.

“Sosok-sosok seperti Kiai Aniq Muhammadun inilah (umumnya mereka tinggal di kampung-kampung) yang memungkinkan NU dan tradisi Islam nusantara yang amat penuh rahmat itu tetap tegak. Mereka ini, bagi saya, juga tulang-punggung dan sekaligus soko-guru Indonesia. Melalui mereka inilah cinta tanah air dan NKRI disemai dengan adonan ajaran ahlussunnah wal jama’ah,” pungkasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

9 + four =