Mengenal Sosok Dua Sufi Perempuan, Guru Ibn ‘Arabi 

 Mengenal Sosok Dua Sufi Perempuan, Guru Ibn ‘Arabi 

Sosok Dua Sufi Perempuan Guru Ibn ‘Arabi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Mendengar nama Ibn ‘Arabi mungkin pikiran kita akan otomatis menuju pada paham wahdah al-wujud. Paham wahdah al-wujud menyatakan bahwa, “Yang Ada hanyalah Wujud Yang Satu, semua alam semesta ini adalah manifestasi dari Yang Satu tersebut. Wujud Yang Satu itu adalah Allah swt. Ia meliputi semua fenomena yang ada dan merupakan sumber daya akal yang memancar pada keseluruhan alam semesta”.

Paham tersebut sangat kontroversial, khususnya di kalangan fuqaha’ dan muhadditsin. Bahkan tak sedikit yang memberi cap pada Ibn ‘Arabi―selaku pencetus paham wahdah al-wujud―sebagai kafir. 

Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah al-Hatimi al-Tha’i. Ia dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M di Murcia, Spanyol. Perlu dicatat bahwa Ibn ‘Arabi dan Ibn al-‘Arabi adalah dua orang yang berbeda.

Ia adalah tokoh yang dimaksud di sini, pencetus paham wahdah al-wujud. Sementara itu, Ibn al-‘Arabi adalah seseorang yang pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Sevilla, Spanyol. Nama lengkapnya yakni Abu Bakr Ibn al-‘Arabi. 

Hal yang menarik untuk dibahas dari tokoh ini selain paham wahdah al-wujud-nya ialah laku intelektualnya. Dalam perjalannya mengarungi samudera ilmu, Ibn ‘Arabi ternyata memiliki dua guru perempuan yang merupakan sufi. Mereka berdua adalah Syaikhah Syams dan Fatimah binti al-Mutsanna. Berikut pemaparan lebih jelasnya. 

1. Syaikhah Syams 

Syaikhah Syams merupakan seorang sufi perempuan yang berasal dari Andalusia (sekarang Spanyol). Bila diterjemahkan secara harfiah, kata ‘syams’ bermakna matahari. Nama tersebut disematkan padanya karena ia mampu memberikan penerangan pada para muridnya yang ingin menuju Allah SWT.

Penerangan tersebut membuat para muridnya bisa terhindar dari belokan dan kesesatan. Beberapa orang―khususnya dari kalangan sufi―juga memanggilnya dengan Umm al-Fuqara’.

Secara sederhana panggilan Umm al-Fuqara’ bermakna ‘ibu dari kaum sufi’. Namun, perlu dicatat bahwa maksud ‘ibu’ tersebut bukan ibu kandung, melainkan ibu dalam arti guru bagi kaum sufi. 

Ibn ‘Arabi bertemu dengan Syaikhah Syams pada tahun 586 H/1190 M di kota Marchena, Spanyol. Saat itu usianya kurang-lebih 26 tahun. Ia mengungkapkan bahwa di antara banyak sufi yang telah ditemuinya, belum ada yang menandingi Syaikhah Syams dalam hal kesabaran dan kekuatan menahan cobaan.

Ia telah sampai pada tingkatan yang agung, maka tak heran bila ia banyak mendapat penyingkapan tabir ilahi. Ibn ‘Arabi juga menyaksikan bahwa Syaikhah Syams mampu menyeimbangkan laku syari’ah dengan tasawuf.

Tidak mudah menemukan kemampuan menyeimbangkan dua sisi tersebut di kalangan kaum sufi. Sayangnya tidak begitu banyak menceritakan sosok Syaikhah Syams ini. 

2. Fatimah binti al-Mutsanna 

Sama dengan Syaikhah Syams, Fatimah binti al-Mutsanna juga berasal dari Spanyol, tepatnya di kota Cordoba. Ibn ‘Arabi bertemu dengannya di Sevilla, usianya saat itu terbilang masih belia. Ia pernah melayani Fatimah binti al-Mutsanna dalam jangka waktu yang cukup lama, bertahun-tahun.

Ibn ‘Arabi begitu menyayangi dan menghormati gurunya tersebut. Ia pernah membangunkan rumah dari pohon tebu untuk Fatimah binti al-Mutsanna, dan gurunya itu sering menempatinya hingga menjelang akhir hayatnya. 

Fatimah binti al-Mutsanna pun ternyata juga menaruh kekaguman pada pribadi Ibn ‘Arabi. “Tidak ada di antara kalian yang datang kepadaku yang membuat bangga dan takjub selain dia”, ucap Fatimah binti al-Mutsanna sambil menunjuknya pada suatu kesempatan.

Musabab kekaguman Fatimah binti al-Mutsanna tersebut yakni ketulusan niatnya ketika datang beguru padanya. Hal yang diterima dia ketika bertemu dengan gurunya tersebut adalah ajaran perihal zuhud.

Menurut Fatimah binti al-Mutsanna, tingkatan zuhud yang paling rendah adalah menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat secara lahiriah. Sementara itu, tingkatan zuhud tertinggi adalah mempraktikannya secara batiniah. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara tidak memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. 

Ibn ‘Arabi bercerita bahwa gurunya tersebut pernah mendapat tawara dari Allah SWT. berupa kerajaan-Nya. Namun, Fatimah binti al-Mutsanna bergeming dengan tawaran tersebut.

Ia berkata, “Aku hanya menginginkan Engkau! Hanya Engkau, Allah! Segala sesuatu selain-Mu merupakan kehampaan bagiku”. Hal tersebut pernah direspons oleh seseorang yang kemudian mengatakan bahwa Fatimah binti al-Mutsanna adalah orang yang dungu karena menolak tawaran tersebut.

Mendengar hal tersebut guru Ibn ‘Arabi ini berucap, “Orang dungu ialah orang yang tidak mengetahui Tuhannya”. Kecintaan Fatimah binti al-Mutsanna pada Allah swt tersebut membuatnya menjadi pribadi yang penyayang bagi sesama manusia.

 

Sumber Rujukan :

Arif, Zulfan. 2019. Ibn ‘Arabi (Sebuah Biografi). Yogyakarta: Sociality.  

Rofi’ie, Abd Halim. “Wahdat Al Wujud dalam Pemikiran Ibnu Arabi”, Ulul Albab, vol. 13, no. 2. 2010. 

Mohammad Azharudin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ten − 3 =