Mengenal Sayyidi Al-Habib Taufiq Assegaf

 Mengenal Sayyidi Al-Habib Taufiq Assegaf

Apakah Hadis Ahad Bisa Dijadikan Sebagai Hujjah dalam Akidah?

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Pertama mendengar nama beliau, Sayyidi Al-Habib Taufiq Assegaf, tidak lain dan tidak bukan adalah dari KH. Miftahul Akhyar, Rais Am Nahdlatul Ulama, pemimpin tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama.

Pada saat itu sekitar tahun 2007-2008 dan kyai Miftah sudah berada di jajaran Suriah PWNU Jawa Timur.

Dalam sebuah pengajian Kiai Miftah menjadi penceramah bersama dengan Habib Taufiq.

Ceramah pertama didahului oleh Habib Taufiq dan rupanya Kiai Miftah mendengarkan dengan seksama terhadap ceramah beliau.

Di tengah-tengah itu Kiai Miftah berkata “Tumben ada Habib yang alim seperti ini.”

Sekali lagi ini pemimpin tertinggi kita telah memberi penilaian terhadap sosok Habib Taufiq, maka saya lebih percaya penilaian Kiai Miftahul Akhyar dari pada orang lain.

Di Pasuruan ada sebuah Masjid yang memiliki majelis ilmu, dahulunya majelis taklim ini diasuh oleh Kiai Hamid Pasuruan.

Sepeninggal beliau dan masa-masa berikutnya tidak bisa sembarangan orang menggantikan posisi majelis taklim itu.

Banyak kiai-kiai yang merasa tidak layak dan tidak pantas dan setelah munculnya sosok Habib Taufik inilah para kiai manahbiskan bahwa Habib Taufik yang layak untuk menduduki dan mengasuh majelis taklim tersebut yang di belakangnya tepat ada makam Kiai Hamid dan Habib yang lain.

Habib Taufiq sendiri mendirikan sebuah pesantren bernama Sunniyah Salafiyah.

Di pesantren ini ada banyak habib-habib muda belajar di sana juga beberapa putra kiai maupun kalangan umum.

Dari pesantren ini telah melahirkan banyak ulama-ulama muda yang telah menyebarkan ilmu, menyebarkan dakwah Islam dan manfaatnya sudah menjadi tonggak keberadaan Islam ahli sunnah wal jamaah.

Bahkan ada beberapa santri beliau yang melanjutkan ke Yaman, baik kuliah di Al Ahqaf sampai menjadi doktor ataukah Darul Musthofa, pesantren yang dibina oleh Habib Umar bin Hafidz.

Ada juga yang ke Mekah melanjutkan ke Rushaifah, sebuah pesantren yang didirikan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi dan sekarang diteruskan oleh Putra beliau Sayyid Ahmad.

Terkait dengan karya-karya beliau saya beberapa kali menjumpai murid-murid Habib Taufiq ini membawa kitab berbahasa Arab, kebetulan yang saya ketahui saat itu adalah tentang penguatan aliran ahlussunnah wal Jamaah dan firqoh-firqoh di dalam Islam.

Ini bukan kitab bagi pemula tetapi bekal bagi orang-orang yang kemudian akan menjadi penguat ahlussunnah wal Jamaah di berbagai daerah.

Pernah di Banyuwangi, setelah saya hadir di sebuah pengajian, ada seorang Habib muda yang memaksa saya harus datang ke rumahnya.

Beliau dengan penuh tawadhu meminta kepada saya: “Tolong beri doa keberkahan di rumah saya.”

Saya jawab: “Antum minasshabil barokah ya Habib. Kalau saya ke rumah antum justru saya yang bertabarruk kepada antum.”

Saya pun kemudian datang ke rumah beliau dan di tempat itu beliau bercerita bahwa di rumah ini sejak masa kakek beliau dilakukan khataman kita Ihya Ulumiddin meskipun tidak dimaknai secara pesantren tetapi dibaca lafadznya, karena tabarruk dengan ilmu dan kandungan yang terdapat di dalam kitab Ihya.

Kemudian beliau bercerita “Kalau saya ngaji di kampung-kampung seperti yang disampaikan tadi mungkin terlalu tinggi.

Bagi saya lebih mendahulukan yang wajib-wajib, soal istinja, soal air suci mensucikan soal yang wajib-wajib.”

Lalu Beliau menunjukkan sebuah kitab, saya bertanya “Karya siapa itu Bib?”

“Ini karya guru saya Habib Taufiq Assegaf,” jawab beliau.

Subhanallah saya kemudian merasa terkejut karena saya merasa lalai.

Saya ngaji hanya yang bersifat sunah atau mubah, sementara yang wajib-wajib dalam ibadah belum terlalu banyak saya abaikan.

Rupanya inilah yang dipegang dan telah dijaga betul oleh Habib Taufiq bersama dengan murid-muridnya.

Kalau ada yang berpendapat itu Habib Taufiq kan keras. Sebentar dulu, kalau belum nututi ilmunya habib jangan memvonis begitu.

Yang saya ketahui dari banyak kitab yang beliau sampaikan, yang beliau fatwakan yang beliau sampaikan adalah qaul atau pendapat yang paling kuat.

Justru beliau itulah yang mengamalkan Q.S, Az-Zumar ayat 18 berikut:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ ۝

Artinya:

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

Sementara kita sudah terlanjur enak-enakan mengikuti pendapat dhaif, pendapat second opinion.

Padahal posisi yang benar dalam hal ini adalah pendapat yang dipilih dan diamalkan oleh para habaib.

Apa buktinya? Di kediaman beliau dan di pesantrennya ada majelis ilmu setiap hari Rabu kajian fiqih beliau tidak sembarangan menerima orang-orang yang berilmu dan bisa mengajar di tempat itu kecuali satu orang yang bernama Gus Muhib.

Beliau ini kiai NU tulen lulusan Lirboyo, pakar di bidang Bahtsul Masail.

Tetapi bedanya Kiai Muhib dengan kita, beliau ini mengamalkan pendapat yang kuat di dalam mazhab.

Sehingga beliau diterima di kalangan habaib sementara kyai-kyai gus-gus ustad-ustad yang suka memilih pendapat yang ringan-ringan ya ngaca dulu lah untuk kemudian merasa layak berhadap-hadapan dengan Habaib yang konsisten memegang teguh pendapat terkuat di dalam mazhab Syafi’i.

أبقاه الله بالسلامة والعافية ونفعنا بعلومه

[]

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *