Mengenal Profil Pesantren Sidogiri Yang Berusia 274 Tahun (1745-2019)

 Mengenal Profil Pesantren Sidogiri Yang Berusia 274 Tahun (1745-2019)
Digiqole ad

Sejarah Singkat

Desa Sidogiri pertama kali dibabat oleh Sayyid Sulaiman yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah seorang keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban. Ayahnya adalah seorang perantau dari negeri Hadramaut, Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah adalah putri Sultan Hasanuddin bin Gunung Jati.

Sayyid Sulaiman membabat dan membangun Sidogiri dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri Sayyid Sulaiman yang sekaligus menantunya. Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang banyak dihuni makhluk halus. Sidogiri dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini bahwa tanahnya baik dan berkah.

Tahun berdirinya pondok pesantren Sidogiri memiliki dua versi pada awalnya, yaitu tahun 1718 dan 1745, namun pada akhirnya tahun berdirinya Pesantren Sidogiri adalah tahun 1745. Ini berdasarkan pada surat yang ditandatangani oleh K.A Sa’doellah Nawawi pada 1971. Tertulis pada tahun tersebut bahwa pesantren Sidogiri berulang tahun yang ke-226. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Pesantren Sidogiri berdiri pada 1745.

 Panca Warga

Selama beberapa periode, Pesantren Sidogiri dipimpin oleh seorang Kiai yang juga mengasuh para santri. Kemudian, pada masa K.H Cholil Nawawie, adaiknya yg bernama Hasan Nawawie mengusulkan agar dibentuk wadah permusyawaratan keluarga, maka dibentuklah satu wadah, bernama Panca Warga. Anggotanya adalah lima putra KH. Nawawie bin Noerhasan.

  1. KH. Noerhasan Nawawie (wafat 1967)
  2. KH. Cholil  Nawawie (wafat 1978)
  3. KH. Siradj Nawawie (wafat 1988)
  4. K.A Sa’doellah Nawawie (wafat 1972)
  5. KH. Hasani Nawawie (wafat 2001)

Dalam pernyataan bersamanya, kelima putra Kiai Nawawie ini berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri, dan bertanggungjawab untuk mempertahankan asas dan ideologi Pondok Pesantren Sidogiri.

Sistem Pendidikan Madrasah dan Pengajian

Selama kurang lebih 193 tahun, pesantren ini hanya menggunakan sistem pengajian langsung kepada kiai atau pengasuh. Baru pada masa kepengasuhan K.H. Abdul Djalil, sejak 15 april 1938, Pesantren Sidogiri resmi menerapkan sistem pendidikan Ma’hadiyah dan Madrasiyah. Sistem madrasiyah diwujudkan dengan mendirikan Madrasah Miftahul Ulum, sedangkan sistem ma’hadiyah berupa kegiatan pendidikan dan pengajian santri pada siang dan malam hari. 

  1. Madrasah Miftahul Ulum

Sistem madrasiyah dibentuk sebagai persiapan bagi mereka yang belum mampu mengikuti sistem ma’hadiyah. Seiring bertambahnya murid, secara bertahap MMU mulai berkembang, hingga saat ini terdapat empat jenjang di MMU yaitu : I’dadiyah, Istidadiyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah.

I’dadiyah, adalah program yang idperuntukkan anak usia dini. Program ini dilaksanakan secara klasikal dengan menggunakan metode buatan sendiri, yaitu al-Miftah lil-Ulum. Target dari metode ini adalah kemmapuan anak-anak dalam membaca al-Qur’an namun belum bisa membaca kitab klasik.

Istidadiyah, didirikan sebagi kelas persiapan dengan tujuan agar murid baru memiliki tingkat kemampuan yang tidak berbeda terlalu jauh. Karena itulah mata pelajaran yang diajarkan hanya materi-materi dasar yang mengarah kepada pembekalan, uatamanya baca kitab. Dimasa awal berdirinya, Mmu Istidadiyah diberi nama Mustami’ (penyimak). Penamaan ini dikarenakan para murid cukup menyimak penjelasan dari staf pengajar tanpa menulis ataupun memaknai kitab seperti format KBM di kelas-kelas Ibtidadiyah dan lainnya.

Ibtidaiyah,adalah pendidikan klasikal pertama yang ada di Pondok Pesantren Sidogiri sebelum adanya MMU Tsanawiyah, Istidadiyah dan Aliyah. Target pendidikan pada jenjang Ibtidaiyah ini adalah murid mampu membaca dan emmahami kitab yang menjadi pelajaran di madrasah. Oelh karena itu, selain penyelenggaraan musyawarah setiap malam Ahad dan Rabu, pihak MMU Ibtidaiyah juga menyelenggarakan pembinaan membaca kitab kepada para murid.

Tsanawiyah, MMU Tsanawiyah didirikan pada Juli 1957 pada masa kepengasuhan KH Cholil Nawawie sebagai jenjang lanjutan dari Ibtidaiyah. Berdirinya MMU Tsanawiyah merupakan upaya pendalaman akidah pendalaman kreatifitas murid yang berfokus pada akidah ahlusunnah wal jamaah. Sejak tahun 1961, lulusan Tsanawiyah berkewajiban melaksanakan tugas sebagai guru tugas di beberapa daerah di Indonesia selama satu tahun untuk emndapatkan ijazah kelulusan.

Aliyah, merupakan jenjang lanjutan MMU Tsanawiyah. Berdiri pada 21 Oktober 1982, jenjang ini ditempuh selama 3 tahun. Pendirinya adalah KH Sidrajul Millah Waddin bin Nawawie, KH Hasani bin Nawawie, dan KH Abd. Alim bin Abd. Djalil. Tujuannya adalah mencetak tenaga pengajar yang memiliki akhlak yang baik dan menguasai ilmu fikih dan ilmu terkait.    

  • Ma’hadiyah

Kegiatan ma’hadiyah (nonakademik) lebih komplek karena dipadukan dengan kehidupan sehari-hari para santri di dalam pondok. Kegiatannya ma’hadiyah meliputi sholat lima waktu berjamaah, shalat tahajud, witir dan sholat dhuha secara berjamaah. Lalu ada juga hafalan, pengajian kitab kuning bersama pengasuh maupun pengurus, musyawarah ma’hadiyah, pendidikan baca Al-Qur’an. Kegiatan pembacaan wacam-macam wirid meliputi istighfar, shalawat, burdah, istighasah, dll.

Selain itu, ada juga pengajian Ihya’ ‘Ulumiddîn, Fathul-WahhabShahih BukhariHasyiyah al-Bannani, dan kitab-kitab lain langsung ke pengasuh untuk tingkatan tsanawiyah dan kuliah syariah. Setiap bulannya digelar forum-forum kajian dan diskusi ilmiah di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI).

Pondok Pesantren Sidogiri adalah pesantren yang menggunaka sistem salaf dalam pengajarannya dan tidak mendirikan sekolah formal, tetapi pesantren ini banyak emnghasilkan lulusan yang mumpuni. Madrasahnya pun telah mendapat status muadalah (persamaan), sehingga ijazahnya dapat digunakan untuk kuliah. 

Tradisi Kepenulisan

Tradisi kepenulisan semakin marak di pesantren tertua di Indonesia ini, bahkan mereka mendiirkan BPP (Badan Pres Pesantren) yang bertugas mengawasi, mengkoordinir dan mengarahkan media-media. Ketekunan santri dalam mempelajari kitab-kitab yang dipadukan dengan musyawarah dan pengajian kepada guru dan kiai menghasilkan alumni yang memiliki dasar akidah ahlusunnah wal jamaah yang kuat. 

Salah satu alumninya adalah Ustadz Muhammad Idrus Ramli, yang semakin terkenal namanya dalam perannya menentang Wahabi. Selain itu, banyak buku-buku karya santri Sidogiri yang patut diperhitungkan. Misalnya buku Menelaah Pemikiran Agus Musthofa karya A. Qusyairi Ismail dan Moh. Achyat Ahmad yang dengan cerdas membantah pemikiran-pemikiran Agus Musthofa yang dipandang menyimpang.

Di era perang pemikiran ini, kaum santri dituntut untuk mempertahankan corak keislaman Aswaja Indonesia dan menyebarkannya untuk mengimbangi. Bahkan melawan corak islam Wahabi maupun Syiah. Hingga saat ini telah lebih dari seratus judul buku telah diterbitkan oleh BPS dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia. Pesantren ini aktif menerbitkan buku-buku agama terutama pembelaan terhadap faham aswaja yang dianut NU.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + fourteen =