Mengenal Perawi Hadis Terbaik, Imam Bukhari

 Mengenal Perawi Hadis Terbaik, Imam Bukhari

Mengenal Imam Hafs bin Ibrahim Al-Kufi, Sang Ahli Qira’at dari Baghdad (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Muhammad bin Ismail atau lebih familiar disebut Imam Bukhari merupakan ulama perawi hadis yang berjasa besar dalam perangkum hadis-hadis yang dianggap paling otoritatif hingga saat ini.

Ia dilahirkan di kota Bukhara, Uzbekistan pada tahun 13 Syawal 194 H dan wafat di Khartank, 1 Syawal 256 H.

Muhammad Razi dalam buku “50 Ilmuwan Muslim Populer” mengungkapkan bahwa Imam Bukhari bersama Imam Muslim, terkenal memuat hadis-hadis yang memiliki tingkat validitas tinggi.

“Bukunya diberi judul Shahih Bukhari (shahih adalah klasifikasi dari suatu hadis yang otentik karena hadis itu memiliki kontinuitas mata rantai [isnad] yang terjaga, tidak bertentangan dengan penutur lain, dan tidak ada cacat yang tersembunyi di dalamnya),” tulis Muhammad Razi, dikutip Kamis (22/12).

Kebiasaan berkutat di antara hadis-hadis memang telah melekat di keluarganya. Ayahnya adalah ilmuwan hadis yang mempelajari materi ini dari tokoh terkemuka seperti Malik Bin Anas.

Menurut Muhammad Razi, semenjak usia belia, Imam Bukhari telah diperkenalkan pula tentang studi hadis.

“Otak yang encer telah membuat Imam Bukhari di usia belasan tahun berhasil menghafal matan (ungkapan atau informasi nyata yang dinisbahkan kepada Nabi) hadis dan buku ulama sebelum zamannya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Imam Bukhari telah mengenal betul kisah hidup para perawi yang mengambil bagian dan penukilan sejumlah hadis, data tanggal lahir, meninggal, tempat lahir, dan sebagainya.

Ia terus-menerus mempelajari hadis. Di usia enam betas tahun, beliau pergi menunaikan ibadah haji.

Di kedua kota suci, Mekkah dan Madinah, Imam Bukhari gigih menghadiri perkuliahan yang diisi oleh para ulama atau ilmuwan terkemuka yang ada pada saat itu

Imam Bukhari memiliki beberapa syarat yang ditegaskannya untuk menentukan apakah suatu hadis itu dapat dimasukkan ke dalam kategori shahih atau tidak.

Di antaranya adalah perawi harus memenuhi tingkat kriteria yang paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuan, dan standar akademis.

Selain itu, harus ada informasi positif tentang para perawi yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka, dan para murid belajar langsung dari syaikh hadisnya. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *