Mengenal Nenek Moyang Muslim Tionghoa, Laksamana Cheng Ho

 Mengenal Nenek Moyang Muslim Tionghoa, Laksamana Cheng Ho
Digiqole ad

“Pemimpin ekspedisi pelayaran terbesar dalam sejarah dunia, yang namanya melegenda hingga ke tingkat dunia”

HIDAYATUNA.COM – Ketika Cina berada di bawah kekuasaan Dinasti Ming (1368-1644), diutuslah sejumlah delegasi Cina yang diutus unutk menjalin hubungan persahabtan dengan negara-negara lain. Salah seorang utusan sekaligus pembesar dari pemerintah Dinasti Ming yang paling terkenal adalah Laksamana Cheng Ho atau Zheng He.

Cheng Ho lahir pada tahun 1380 di wilayah Zheijing, ia berasal dari suku Hui, suatu suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han. Sumber lain menyebutkan bahwa ia lahir pada 1371 di Kunming, Yunnan. Cheng Ho tidak lahir dalam keluarga Islam, Ia memeluk Islam atas kemauannya sendiri. Setelah masuk Islam, ia mendalami ajaran-ajaran agama Islam serta bahasa Arab dan Persia. Ia juga mempunyai nama muslim, yaitu Haji Mahmud Shams atau Muhammad Ma Ho. 

Laksamana Cheng Ho merupakan orang kepercayaan Kaisar Yongle ( berkuasa 1403-1424), yang merupakan kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Dengan pasukan dan armada kapalnya, Cheng Ho mengarungi lautan luas, mengelilingi dunia, serta mengnjungi berbagai negara di berbagai belahan dunia. Laksamana Cheng Ho merupakan pelaut yang cakap dan hebat. Ia mengabdikan sebagian besar hidupnya di lautan. Selama perjalanan ekspedisinya, Cheng Ho telah memimpin 7 ekspedisi pelayaran. 

Laksamana Cheng Ho memulai pelayarannya pada tahun 1405. Pelayaran pertama dimulai dengan tujuan meliputi Asia Tenggara dan India. Ekspedisi tersebut berlangsung selama 2 tahun dengan membawa 62 buah kapal dan 27.800 awak kapal. Pelayaran berikutnya dilaksanakan 1409 dengan tujuan Sri Langka. Pada pelayaran ketiga, tahun 1411 armada Cheng Ho berlabuh di Teluk Persia. Ketika perjalanan balik, mereka singgah di Aceh. 

Dua tahun setelah perjalanan ketiganya, tepatnya pada tahun 1413 hingga 1416, pelayaran keempat dilakukan dengan tujuan mengunjungi makkah, Aden, Djaffa dan Mesir. Di Makkah, Laksamana Cheng Ho menunaikan ibadah haji dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke pantai timur Afrika. Ia mengunjungi beberapa negara, diantaranya Brava, Malinda, dan Mozambique. Dalam perjalanan pulang, Cheng Ho dan rombongannya singgah di Asia Tenggara dan menjalin hubungan Diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di sana. 

Pada tahun 1417 hingga 1419, Laksamanan Cheng Ho menempuh ekspedisi yang kelima, dengan mengunjungi kembali negara-negara Arab dan Afrika Timur. Pada kesempatan tersebut, untuk kedua kalinya Laksaman Cheng Ho menunaikan ibadah Haji. Sumber lain menyebutkan, pada masa pelayarannya yang kelima, wilayah yang dikunjungi antara lain Campa, Pahang, Jawa, Malaka, Sumatra, Lambiri, Mogadhisu dan Aden. Sedangkan negara-negara di Jazirah Arab, Afrika Timur dan Hormuz merupakan wilayah tujuan dari ekspedisi Cheng Ho yang keenam (1419-1422).

Pada tahun 1430, laksamana Cheng Ho memimpin kembali perjalanan lautnya yang meliputi tiga benua, yaitu Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Selang dua tahun setelah ekspedisinya yang ketujuh ini, yaitu pada tahun 1433, tokoh penjelajah dunia ini meninggal dunia. 

Peta ekspedisi Cheng Ho

Kekuatan Armada dan Awak Kapal 

Replika kapal Laksamana Cheng Ho 

Dalam ekspedisinya, Laksmana Cheng Ho pernah memimpin ratusan armada kapal laut yang terdiri dari kapal besar dan kecil. Dari mulai kapal bertiang layar tiga hingga kapal bertiang layar sembilan. Panjang kapal terbesar sekitar 400 kaki atau 120 meter, sementara lebarnya 160 kaki atau 50 meter. Armada tersebut membawa sekitar 27.000 anak buah kapal. 

Setiap kali perjalanan hendak dilakukan, semua hal mulai dari batang bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal hingga kain sutra untuk dijual dipersiapkan sebaik mungkin. Begitu pula dengan perbekalan makanan. Bahkan mereka pun mempersiapkan hewan ternak, seperti sapi, ayam dan kambing, yang nantinya disembelih untuk konsumsi para anak buah kapal selama di perjalanan. 

Berdasarkan catatan sejarah dunia hingga kini, Laksamana Cheng Ho merupakan satu-satunya penjelajah yang memimpin armada kapal terbesar (terbanyak). Sebuah sumber mencatat bahwa armada yang dipimpin Cheng Ho pernah mencapai 307 kapal. Kemampuan Laksamana Cheng Ho memimpin armada yang sangat besar telah membuktikan kepemimpinannya yang tinggi. Ia telah mengangkat martabat umat Islam di sisi Dinasti Ming. 

Pelayaran Laksamana Cheng Ho juga telah meninggalkan banyak hal positif di bidang sosial, ekonomi, politik dan dakwah. Pelayaran laksamana Cheng Ho dapat dijadikan sebagai bukti bahwa umat Islam dapat melaksanakan tugas dan peran yang diberikan kepadanya dengan baik. Ia adalah pemimpin yang arif dan bijaksana. Hal ini telah dibuktikan dengan besarnya pasukan dan kuarnya armada kapal lautnya.  Namun, meskipun memiliki armada yang besar, Cheng Ho tak pernah menggunakannya untuk menindas ataupun menjajah sebuah negara di mana ia merapat. 

Padahal di masa tersebut, tidak sedikit para pelaut Eropa yang sengaja membawa misi untuk mencari kekayaan, termasuk mengeksploitasi dan merampas hasil bumi suatu negeri yang disinggahinya. Sebaliknya, laksamana Cheng Ho membawa misi persahabatan dengan negeri-negeri yang dikunjunginya. Keislaman Laksamana Cheng Ho membawa kebaikan bagi para pemimpin dan negeri yang dikunjunginya.

Selama tujuh kali berlayar ke Samudra Barat (1405-1433) misalnya, Cheng Ho selalu singgah di Kepulauan Indonesia. Ia aktif menyebarkan Islam di Jawa dan tempat lain yang disinggahinya, sekaligus mendorong perkembangan komunitas muslim Tionghoa setempat. Dalam tulisannya yang berjudul “Cheng Ho” di Star Weekly, Buya Hamka menganjurkan agar kita meneropong kembali sosok Cheng Ho. Penelitian sejarah yang lebih mendalam tentang hal ini berguna untuk mengungkap betapa besar pengaruh Cheng Ho bagi perkembangan Indonesia. 

Kepulangan : Penghargaan dan Prestasi

Ekspedisi yang dipimpin Laksamana Cheng Ho menorehkan catatan penting. Diantaranya, mereka pulang membawa lebih dari 30 pembesar dan utusan dari kerajaan lain. Salah seorang yang pernah ikut dalam rombongan itu adalah Raja Alagonakara dari Sri Langka, yang datang ke Cina secara khusus untuk meminta maaf kepada Kaisar Dinasti Ming. Ini dikarenakan sebelumnya, Raja Alagonakara menyerang pasukan Cheng Ho, namun perlawanannya dapat dikalahkan. Cheng Ho hanya melakukan penyerangan terhadap mereka yang menghalangi dan mengganggu kegiatan perdagangan. 

Armada kapal Cheng Ho memang dipenuhi oleh barang-barang berharga, antara lain kulit dan getah pohon kemenyan, batu permata seperti ruby dan emerald serta beberapa orang Afrika, India sebagai bukti perjalanannya. Di sebutkan bahwa beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah yang merupakan hadiah dari salah satu raja di Afrika yang juga dibawanya. 

Semasa kunjungannya di India, termasuk Kalkuta, sejumlah prajurit Cina bawahan Cheng Ho pun berhasil mempelajari dan membawa keterampilan bela diri lokal yang bernama kallary payatt. Konon, seni bela diri ini ikut berperan dalam pengembangan seni bela diri kungfu. 

Perjalanan Cheng Ho juga membawa manfaat bagi pemetaan jalur perjalanan. Bahkan “Peta Navigasi Cheng Ho” mampu mengubha peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Disebutkan terdapat 2 peta navigasi tentang arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Sebuah media komunikasi massa pernah menempatkan Cheng Ho sebagai salah satu orang terpenting dalam milenium terakhir. 

Satu hal yang jarang diungkapkan adalah mengenai keterlibatanya dan sumbangannya terhadap penyebaran Islam dan usaha-usaha dakwah Islamiyah di kawasan yang dilewatinya, termasuk Asia Tenggara. Sumbangan Laksamana Cheng Ho dalam dakwah sebenarnya sangat besar. Ia telah meninggalkan para pegikutnya yang muslim di beberapa tempat yang pernah dilewati, seperti di Semarang dan Malaka. Untuk berperan dalam penyebaran syiar Islam. 

Sumbangan Cheng Ho memang tidak begitu kentara karena dirinya hanya singgah dari satu tempat ke tempat lain, mengingat dia pun harus mengemban tugas kenegaraan terhadap penguasa wilayah yang dikunjunginya. Bersama Laksamana Cheng Ho, dikenal pula tokoh muslim lainya, yaitu Fei Xin dan Ma Huan, yang mana keduanya menguasai beberapa bahasa sehingga bertindak pula sebagai penerjemah. 

Tujuan dan Misi Pelayaran Cheng Ho  

Kemunculan Cina sebagai negara adidaya maritim pada permulaan abad ke-15 memiliki peran sangat penting. Tujuh ekspedisi besar Cheng Ho ke Samudra Barat sejak tahun 1405 hingga 1433 mengubah secara radikal lanskap politik dan agama di Asia Tenggara. Ekspedisi Cheng Ho dan armadanya memiliki lima tujuan pokok dari misi-misinya, yaitu : 

Pertama,pelayaran yang bermotif politik. Kaisar Yongle sangat memperhatikan keabsahan takhtanya. Dia berambisi meraih kejayaan besar yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Cina sebelumnya. Sejak Dinasti Ming berdiri, Kaisar Hongwu, pendiri dinasti ini, mulai menjalin persahabatan dengan penguasa negeri-negeri asing. Cheng Ho sudah dipercaya sebagai orang yang bisa menjalankan perintah Zhu. 

Kedua,terkadang Cheng Ho bertindak menjalankan misi perdamaian, ia tercatat pernah menumpas bajak laut Chen Zuyi di Palembang guna mengamankan jalur perdagangan. Ia pun menjadi penengah dalam perselisihan antarnegara ini, misalhnya Siam dengan Malaka dan Malaka dengan Kukang (Palembang). Laksamana Cheng Ho berperan dalam menjaga hukum dan ketertiban di Asia Tenggara. 

Ketiga,memajukan perdagangan luar negeri. Cheng Ho mendirikan basis-basis perdagangan di berbagai pusat niaga, seperti di Sumatra dan Malaka. Keduanya terletak di lokasi yang sangat strategis karena berada di pintu masuk utara dan selatan menuju Selat Malaka. 

Keempat,memperkenalkan budaya Cina dan memajukan pertukaran budaya antara Cina dan bangsa-bangsa Afrika dan Asia. Cheng Ho pun ikut memperkaya khazanah budaya setempat, misalnya dalam hal busana, adat istiadat, kalender, almanak dan gaya hidup. Melalui perdagangan, Cheng Ho memperkenalkan teknologi Cina dalam pembuatan keramik, metalurgi, penenunan, pembuatan kapal, konstruksi bangunan, perikanan, pertanian, dan pengobatan. Di saat itu pula dirinya membawa pulang produk-produk dan budaya asing yang pada gilirannya memperkaya budaya Cina. 

Kelima,mempelajari dunia maritim yang belum terpetakan. Cheng Ho terbukti mampu membuka jalur laut international dari Cina hingga Afrika melalui Asia. The Cheng Ho Navigation Map, yang diakui memuat sejumlah informasi navigasional yang sangat komprehensif, merupakan cermin dari standar pencapaian ekspedisi-ekspedisinya yang sangat tinggi dalam bidang teknologi navigasi. 

Misi-misi Cheng Ho yang berhasil ia lakukan telah memperluas kontak Ming Cina dengan dunia, mulai dari Asia hingga Afrika. Pada masa tersebut, Ming Cina merupakan satu-satunya adikuasa di dunia dan penjaga perdamaian dunia. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 + seven =