Cancel Preloader

Nyai Ahmad

Mengenal Lebih Dekat Nyai Ahmad Dahlan: Pahlawan Pendidikan Perempuan

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Nyai Ahmad Dahlan merupakan sosok pengayom yang memiliki cita-cita luar biasa terhadap masa depan perempuan di sekitarnya. Hal ini membuat dirinya tidak pantang menyerah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan pada masanya.

Nyai Ahmad Dahlan terlahir sebagai perempuan yang taat agama. Pengetahuan yang luar biasa serta kepekaan sosial yang tinggi, menjadikan dirinya sebagai orang yang berdiri tegak. Terutama saat berdirinya organisasi perempuan di Muhammadiyah, yakni Aisyiyah.

Pada tahun 1971, Aisyiyah diresmikan oleh Presiden Soeharto. Nama Nyai Ahmad Dahlan terpampang menjadi salah satu Pahlawan Nasional yang berhasil berjuang memberdayakan perempuan melalui pendidikan.

Tokoh yang sering disebut sebagai Nyai Ahmad Dahlan ini memiliki nama asli Siti Walidah binti Kiyai Penghulu H. Muhammad Fadli bin Kiyai Penghulu H. Ibrahim bin Kiyai Muhammad Hassan Pengkol bin Kiyai Muhammad Ali Ngraden Pengkol.

Perempuan ini biasa dipanggil Nyai Walidah. Ia lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1872 ini tak lain adalah istri dari Kiai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

Tampil di Medan Juang

Dalam sejarah perjalanan panjang perjuangannya. Periode 1923-1946 menjadi fase yang benar menunjukkan Nyai Walidah untuk tampil di medan juang mengembangkan organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Sebab setelah suaminya meninggal, ia justru semakin bersemangat untuk mengembangkan organisasi tersebut hingga keduanya berkembang pesat.

Di masanya, Nyai Walidah benar-benar menunjukkan kepada masyarakat bahwa agama bukanlah menjadi latar belakang merosotnya pendidikan perempuan. Ruang gerak perempuan khususnya dalam bidang pendidikan menjadi ladang dakwah untuk terus mengasah diri serta menjadi modal utama sebagai pendidik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Bagi Nyai Walidah, pendidikan keperempuanan sangat penting. Serta menjadi hal fundamental dalam kebahagiaan hidup berumah tangga selalu dijiwai ajaran Agama Islam.

Perjuangan dalam pendidikan, tidak berhenti pada teori yang ia kemukakan dalam konsep pendidikan yang disebut “catur pusat”. Konsep ini merupakan suatu formula pendidikan yang menatukan empat komponen. Yakni:pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di dalam lingkungan sekolah, pendidikan di dalam lingkungan masyarakt dan pendidikan di dlaam lingkungan tempat ibadah.

Suatu formula lengkap, memadukan berbagai lingkungan yang dijalani oleh seseorang sehingga pendidikan tidak bermaknsa sempit yang terbatas pada pengajaran semata. Akan tetapi, konsep ini bisa dikatakan sebagai konsep belajar sepanjang masa. Sebab keempat lingkungan tersebut dilalui oleh seseorang dalam menempuh pendidikan.

Keteladanan Nyai Ahmad Dahlan dari Berbagai Aspek

Namun, banyak aspek dari pendidikan budi pekerti yang wajib kita teladani dari sosok Nyai  Walidah. Di antara berbagai aspek tersebut, yakni: menanamkan kejujuran dalam diri, tanggung jawab, sederhana, dan lain-lain harus kita miliki. Khususnya kepada perempuan. Sebab perempuan memiliki beban moral yang amat besar untuk berjuang bagi keluarga serta kepada masyarakat.

Organisasi yang semula menjadi gerak juang Nyai Walidah adalah Sopo Tresno yang berdiri pada tahun 1914. Dimana berbagai kegiatan dilakukan mulai dari mengasuh anak yatim, kegiatan sosial lainnya. Hingga akhirnya nama sopo tresno berubah menjadi organisasi Aisyiah pada tanggal 22 April 1917. Serta menjadi bagian dari Muhammadiyah pada tahun 1922.

Inilah deretan berbagai kesuksesan Nyai Walidah dalam memperjuang pendidikan bagi perempuan, berikut ruang gerak yang sudah dilakukan olehnya:

  • Diadakannya asrama-asrama putri dari berbagai daerah Indonesia

Orang tua mempercayakan dengan sepenuh hati kepada Nyai Walidah untuk didik sebagai manusia yang memiliki pengetahuan dan mempergunakan akal dengan penuh manfaat.

  • Nyai Walidah mendirikan pendidikan keperempuanan

Pendidikan keperempuanan ini didirikan melalui kursus dan mengadakan pengajian Agama Islam untuk perempuan. Tidak hanya itu, keterampilan bagi perempuan, seperti menjahit, berwirausaha, membuat kue dll diajarkan oleh Nyai Ahmad Dahlan untuk membentuk kemandirian kepada perempuan sebagai bekal di masa yang akan datang.

  • Ikut aktif membantu terselenggaranya sekolah-sekolah putri.

Ia bahkan menjadi peolopor untuk membrantas bagi kaum lanjut usia yang buta huruf.

  • Menyelenggarakan rumah-rumah anak orang miskin.
  • Memiliki perhatian yang besar terhadap anak yatim piatu.
  • Kiprahnya dalam mendirikan lembaga pendidikan menjadi ladang pengabdian dirinya, yakni: TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang disebut TK ABA.

Demikianlah Nyai Ahmad Dahlan atau Nyai Walidah. Ia merupakan pahlawan pendidikan bagi perempuan. Dengan keteladanan prestasi tersebut, semoga dapat diikuti oleh perempuan-perempuan muslim masa kini.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

15 − 8 =