Tokoh Muslim

Mengenal Lebih Dekat 2 Ulama Hebat Ahli Tafsir Lintas Zaman, Ibn Katsīr Dan Al-Alûsî

HIDAYATUNA.COM – Ibn Katsīr memiliki nama lengkap Imam ad-Dīn Abu al-Fida’ Ismail bin al-Khatib Syihab ad-Din Abi Hafsah Umar bin Katsir al-Quraisy Asy-Syafi’i. Sejak umur tujuh tahun (ada juga pendapat yang menyebut tiga tahun) Ibnu Katsir sudah ditinggal oleh ayahnya yang meninggal dunia. Sejak saat itu, ia diasuh oleh kakaknya (Kamal al-Din Abd Wahhab) di Damaskus.

Dari sinilah Ibnu Katsir memulai pengembaraan keilmuannya dengan banyak bertemu dengan para ulama-ulama besar pada saat itu, termasuk Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, dan juga Baha al-Dīn al-Qasimy bin Asakir (w. 723), Ishaq bin Yahya al-Amidi (w. 728). Ibnu Katsīr juga banyak mendalami ilmu-ilmu keislaman lainnya, selain dalam bidang tafsir Ibnu Katsir juga sangat menguasai bidang hadis, fiqih, dan sejarah. Hal itu dibuktikan dengan banyak karya-karyanya yang berkaitan dengan hal tersebut. Maka dari itu, sangat wajar jika dia diberi gelar sebagai mufassir, muhaddits, faqīh, dan muarrikh.

Karir intelektual Ibn Katsīr mulai menanjak setelah ia banyak menduduki jabatan-jabatan penting sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Misalnya dalam bidang hadis, pada tahun 748 H/1348 M, Ibn Katsīr menggantikan gurunya Muhammad Ibn Muhammad al-Zahabi (1284-1348 M) di Turba Umm Salih (lembaga Pendidikan), dan pada tahun 756 H/1355 M diangkat menjadi kepala Dar al-Hadis al-Asyrafiyah (lembaga pendidikan Hadis) setelah meninggalnya Hakim Taqiyuddin al-Subki (683-756 H/1284-1355 M). kemudian tahun 768 H/1366 M diangkat menjadi guru besar oleh Gubernur Mankali Buga di Masjid Umayah Damaskus.7 Dan pada akhirnya pada tahun 774 H di usia 74 tahun, Ibn Katsīr meninggal dunia dan dimakamkan disamping Ibnu Taimiyah (gurunya).

Mengenai penulisan kitab tafsirnya yang berjudul Tafsīr al-Qur’ān al-Adzīm, awalnya tafsir yang ditulis oleh Ibnu Katsīr ini belum ada kepastian mengenai judulnya. Karena nampaknya Ibn Katsīr tidak pernah menyebut secara khusus nama kitab tafsirnya, seperti yang biasa dilakukan oleh penulis-penulis klasik lainnya yang menulis judul kitabnya pada bagian mukaddimah, akan tetapi, Ali al-Shabuny berpandangan bahwa nama tafsir itu adalah pemberian dari Ibnu Katsir sendiri.

Baca Juga :  GUS ASY’ARI MELAWAN PKI DENGAN MUSIK GAMBUS

Oleh karena itu, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi bahwa bisa jadi nama tafsirnya dibuat oleh ulama-ulama setelahnya, yang tentunya judul tersebut bisa menggambarkan tentang isi dari kitab tafsir itu. Dan bisa jadi juga tafsīr al-Qur’ānu al-Adzīm ditulis oleh Ibn Katsīr sendiri (selanjutnya dikenal dengan nama Tafsir Ibn Katsīr). Terlepas dari kesimpangsiuran tersebut, karena tidak adanya bukti secara empirik tentang nama kitab tafsir ini, dan tidak adanya akses untuk bisa meneliti lebih jauh.

Adapun mengenai al- Alûsî, ia memiliki nama lengkap Abû Sanâ’ Syihâb al-Dîn al-Sayyid Mahmûd Afandi al-Alûsi al- Baghdadî. Al-Alûsi lahir pada tahun 1217 H di daerah dekat Kurkh, Irak. Ayahnya adalah seorang ulama yang sangat terkenal di Irak. Sedari dini al-Alusi belajar agama langsung dari ayahnya dan juga belajar tasawuf dari guru sufi yaitu Shaikh Khalid al-Naqshabandi.

Sebagai anak dari seorang ulama ternama, al-Alûsî tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia 13 tahun saja, al-Alûsî sudah menjadi salah satu pengajar di universitas di daerah Rasafah. Adapun mazhab yang diikuti oleh al-Alûsî adalah aliran Sunni-Maturidiah dalam bidang aqidah, al-Alûsî. Sedangkan dalam bidang fiqh, awalnya ia bermadzhab Syafi’i. Namun kemudian saat menjabat sebagai ketua badan perwakafan lembaga pendidikan al-Marjaniyyah pada tahun 1248 H, al-Alûsî berpindah mengikuti mazhab Hanafi.

Namun kemudian saat menjabat sebagai ketua badan perwakafan lembaga pendidikan al-Marjaniyyah pada tahun 1248 H, al-Alûsî berpindah mengikuti mazhab Hanafi.

Pada usia 30 tahun, al-Alûsî diangkat sebagai mufti Baghdad. Namun, keinginan yang kuat untuk Menyusun sebuah kitab tafsir untuk memecahkan berbagai persoalan-persoalan yang terjadi pada waktu itu. Kesibukannya sebagai mufti mengganggu konsentrasinya, sehingga  al-Alûsî menanggalkan jabatanya untuk konsentrasi menyusun kitab.

Baca Juga :  "Tantangan Mbah Wahab" Menjadi Lecutan KH. Tholchah Mansoer

Ada sepenggal kisah mengapa akhirnya al-Alûsî semangat untuk menulis kitab tafasir. Berawal dari sebuah mimpi, dimana dalam mimpi tersebut al-Alusi diperintah melipat langit dan bumi dengan mengangkat satu tangan ke arah langit dan satu tangan ke tempat mata air. Mimpi tersebut akhirnya disimpulkan adalah isyarat bahwa dia diperintahkan untuk menulis sebuah kitab tafsir. Dia pun mulai menulisnya berusia 34 tahun.

Pasca menulis kitab tafsir tersebut, al- Alûsî pergi ke Konstatinopel (Pusat Kesultanan Ottoman), dan sempat tinggal selama dua tahun di sana. Dia menunjukkan karyanya itu kepada Sultan yang berkuasa saat itu, yaitu Abdul Majid Khan untuk mendapatkan pengakuan dan kritik.  Kemudian kitab yang ia susun oleh Perdana Menteri Ali Ridho Pasha diberi judul  “Rûh al-Ma’ânî Fî Tafsîr Al-Qurân al-‘Aẓîm wa al-Sab’ al-Masânî”. Alasannya nama itu sesuai dengan tujuan awal penulisannya, yaitu “semangat makna dalam tafsir Alquran yang agung dan sab’ul mastanî”, dan al- Alusi pun menyetujuinya. Selain itu, Sultan memberinya hadiah berupa emas seberat timbangan kitab tersebut sebagai bentuk apresiasi atas karyanya.

Usia al-Alusi tidak berumur panjang. Pada tanggal 25 Zulhijjah 1270 H. beliau wafat dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Ma’ruf al-Karakhi, salah seorang tokoh sufi yang sangt terkenal di kota Kurkh.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close