Mengenal Imam Hafs bin Ibrahim Al-Kufi, Sang Ahli Qira’at dari Baghdad

 Mengenal Imam Hafs bin Ibrahim Al-Kufi, Sang Ahli Qira’at dari Baghdad

Mengenal Imam Hafs bin Ibrahim Al-Kufi, Sang Ahli Qira’at dari Baghdad (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Imam Hafs bin Ibrahim Al-kufi adalah salah satu ulama dalam bidang qiraat.

Nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafsh bin Sulaiman bin Al-Mughirah Al-Asadi Al-Kufi. la belajar ilmu qiraatnya kepada Ashim, baik secara pelantunan ataupun pemeriksaan dalam ketepatan cara membacanya. Imam Hafs lahir di Baghdad pada tahun 706 Masehi.

lmam Hafs dididik cukup keras oleh gurunya itu, karena ia sudah dianggap sebagai anak sendiri, walaupun pada hakikatnya ia hanyalah anak tiri (anak yang dibawa oleh istri Ashim dari pernikahan sebelumnya).

Imam Hafsh lah yang membawa qiraat dari Ashim kepada masyarakat luas hingga dikenal di seantero kota Kufah dan Baghdad.

Lalu setelah itu, ia juga membawa qiraat itu ke kota Mekkah untuk diajarkan kepada penduduk di sana. Banyak sekali para ulama yang melontarkan pujian atas periwayatan qiraat tersebut olehnya dari  Imam Ashim.

Yahya bin Ma’in mengatakan,

“Riwayat qiraat yang benar adalah qiraat Ashim yang diriwayatkan oleh Abu Umar Hafsh bin Sulaiman.” Sementara Abu Hisyam Ar-Rifa’i mengatakan, “Hafsh adalah orang yang paling tahu tentang qiraat yang diajarkan oleh Ashim.”

Setelah beberapa kali mendengarkan qiraat yang diajarkan oleh Ashim kepada dirinya, Imam Hafsh kemudian menyadari ada perbedaan antara qiraat tersebut dengan qiraat yang diajarkan kepada teman seperguruannya, Imam Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy.

Lalu ia pun menanyakan hal itu kepada gurunya, “Qiraat Abu Bakar berbeda dengan qiraatku?” ia menjawab, “Qiraat yang aku ajarkan kepadamu adalah qiraat yang aku pelajari dari Abu Abdurrahman As-Sulami, yang ia pelajari dari All.

Sedangkan qiraat yang aku ajarkan kepada Abu Bakar bin Ayyasy adalah qiraat yang aku pelajari dari Zirr bin Hubaisy, yang ia pelajari dar iImam  Ibnu Mas’ud.”

Setelah menerima ilmu yang cukup dari gurunya, ia pun mulai mengajarkan apa yang ia dapatkan itu kepada orang lain, agar bisa menjadi orang yang baik, sebagaimana disabdakan oleh Baginda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. AI- Bukhari).

Iman Hafs menghabiskan waktunya dan mengerahkan seluruh usahanya untuk mengajarkan ilmunya, hingga terlahirlah dari tangannya ulama-ulama besar dari generasi penerusnya.

Di antara mereka adalah, Husein bin Muhammad Al-Marrudzi, Hamzah bin Al-Qasim Al-Ahwal, Sulaiman bin Dawud Az-Zahrani, Hamdan bin Abi Utsman Ad-Diqaq, Al-Abbas bin Al-Fadhl Ash-Shafar, dan masih banyak lagi yang lainnya. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *