Mengapa Nabi Muhammad Tidak Boleh Digambar?

 Mengapa Nabi Muhammad Tidak Boleh Digambar?

Nabi Muhammad

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Kecaman umat Islam datang bertubi-tubi ditujukan kepada Prancis menyusul penerbitan karikatur Nabi Muhammad. Hal ini dikarenakan menggambar Nabi merupakan hal yang dilarang.

Mengapa Nabi Muhammad tidak boleh digambar? Ulama ahli tafsir al-Qur’an Quraish Shihab menjelaskan bahwa larangan menggambar Nabi Muhammad karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Banyak sekali riwayat yang mengatakan tentang Nabi. Nabi sendiri pernah mengatakan, kalau mau dilukis bisa. Tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka dilarang dilukis dan dilarang ditampilkan di film-film. Padahal riwayat diri-Nya (ciri fisik Nabi) sangatlah kompleks,” kata Quraish Shihab dalam video YouTube resmi Najwa Shihab bertajuk ‘Mengenal Sosok dan Pribadi Nabi Muhammad SAW’ dikutip Selasa (3/11/2020).

Selain itu larangan menggambar Nabi Muhammad adalah untuk mencegah tindakan ‘memberhalakan’ Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Bukhori, Nabi bersabda:

“Janganlah kalian menyanjungku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani menyanjung Putra Maryam, karena aku hanya hamba-Nya dan Rasul utusan-Nya,” (HR. Ahmad dan Al-Bukhori).

Rasulullah Melarang Mengkultuskan Orang Shalih

Rasulullah sendiri tidak suka dengan perbuatan orang-orang ahli kitab yang mengkultuskan orang-orang shalih mereka dengan membuat gambar-gambarnya agar dikagumi lalu dipuja. Untuk itu Rasulullah melarang menyerupai mereka.

Itulah sebab utama kenapa Umat Islam bersikeras melarang melukis Rasulullah, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian aqidah tauhid. Masih banyak sebab yang lainnya dari larangan Rasulullah. Di antaranya penggambaran diri Rasulullah akan membuka peluang untuk perbuatan penistaan terhadap pribadi beliau.

Sebagaimana seseorang yang benci kepada orang lain, namun karena tidak mampu melampiaskan kebenciannya secara langsung, mereka lantas membuat serentetan penistaan terhadap gambar atau foto orang yang dia benci.

Apakah akan dia ludahi atau dia injak-injak atau dia sobek-sobek atau dia bakar atau dibikin karikatur yang bernuansa pelecahan, dan sebagainya. Dengan tidak dilukisnya gambar Nabi Muhammad, maka tidak mungkin seseorang mampu membuat gambaran wajah Rasulullah, karena hanya orang-orang yang benar imannya saja yang bisa melihat beliau.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa tahun 1988 tentang Penggambaran Sosok Nabi Muhammad baik dalam bentuk gambar, patung, maupun seni peran dalam teater dan film. Dewan Pimpinan MUI yang saat itu diketuai KH Hasan Basri memutuskan menolak penggambaran Nabi Muhammad dalam bentuk apa pun baik gambar maupun film.

Apabila ada gambar atau film yang menampilkan Nabi Muhammad dan keluarganya, hendaknya pemerintah melarang gambar dan film semacam itu.

Dalam mengambil keputusan tersebut, MUI mendasarkan pada sebuah riwayat pada Fath Makkah, Rasulullah memerintahkan untuk menghancurkan gambar dan patung para nabi terdahulu yang terpajang di Ka’bah. Para ulama juga telah mengambil ijma’ sukuti tentang dilarangnya melukis nabi dan Rasul.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 5 =