Mengapa Anak Muda Penting Membangun Perdamaian dan Kesetaraan?

 Mengapa Anak Muda Penting Membangun Perdamaian dan Kesetaraan?

Ngobrolin Soal Overthinking dan Kegalauan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Indonesia di tahun 2030-2040 mendatang, diperkirakan mengalami bonus demografi, di mana penduduk usia produktif akan lebih banyak dibandingkan penduduk usia nonproduktif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, mencatat mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan Milenial.

Generasi Z yang lahir pada tahun 1997-2012, mendominasi sebanyak 27,94% dari total populasi. Sedangkan Generasi Milenial, lahir pada tahun 1981-1996, mendominasi sebanyak 25,87%.

Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat memberikan dampak besar bagi Indonesia.

Di samping memberikan harapan besar bagi kemajuan Indonesia, bonus demografi juga menjadi tantangan tersendiri karena karakter anak muda tergolong dalam kelompok rentan.

Menurut ahli psikologi, Erik H. Erikson, mengatakan bahwa anak muda rentan mengalami krisis identitas atau identity crisis.

Fase transisi dalam pertumbuhan menuju dewasa yang dialami pemuda, tak jarang membuat mereka kehilangan arah, makna dan tujuan hidup, hingga seringkali terpapar paham dan gerakan ekstremisme dan kekerasan, bahkan di lingkup lembaga pendidikan.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Jakarta di tahun 2017 menemukan bahwa, 51,1% responden siswa dan mahasiswa cenderung menunjukkan sikap intoleran, bahkan sangat intoleran, terhadap sesama muslim yang berbeda aliran.

Terlebih, 86,55% dari mereka setuju jika pemerintah melarang keberadaan kelompok-kelompok minoritas yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Pemahaman dan sikap intoleran di kalangan anak muda ini berpotensi menimbulkan konflik dan memecah belah bangsa.

Alih-alih menjadi harapan kemajuan negara, bonus demografi seakan menjadi ancaman persatuan bangsa.

Oleh karenanya, pertumbuhan usia produktif yang signifikan ini harus didorong dan diarahkan pada pelibatan aktif anak muda dalam pembangunan perdamaian.

Meskipun anak muda termasuk kelompok rentan, mereka memiliki potensi yang besar dan peran yang strategis di masyarakat, khususnya dalam membangun perdamaian.

Dikutip dari Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) dalam policy brief yang dibuat AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia, anak muda dianggap sebagai kelompok strategis yang berperan aktif dalam pembangunan perdamaian.

Potensi besar anak muda dalam pembangunan perdamaian juga telah diakui oleh dunia internasional melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Pada Desember 2015, terbentuk Resolusi 2250 tentang Pemuda, Perdamaian dan Keamanan atau Youth, Peace and Security (YPS).

Resolusi ini memberikan dorongan dan momentum bagi anak muda untuk memperkuat peran dalam pembangunan perdamaian dengan bertumpu pada lima pilar utama, yakni partisipasi, perlindungan, pencegahan, kemitraan serta pemisahan dan reintegrasi.

Implementasi dari lima pilar ini tidak hanya memberikan dampak perubahan positif bagi individu saja, tetapi juga dapat berdampak bagi banyak orang, termasuk para pengambil keputusan.

Bahkan, perubahan yang dihasilkan dapat berdampak pada sistem, prinsip serta nilai sosial, budaya atau politik, sehingga dapat mengubah lingkungan masyarakat dan kebijakan yang berlaku.

Hal ini telah dibuktikan oleh komunitas anak muda yang menyuarakan isu perdamaian dan kesetraan gender, Peace Leader Indonesia (PLI).

Berangkat dari pemahaman bahwa keragaman adalah sebuah keniscayaan, dan sikap toleransi adalah solusi agar bisa merayakan perbedaan, Peace Leader Indonesia mampu berkontribusi dalam menangkal radikalisme dan deradikalisme.

Melalui salah satu programnya, Peace Goes to School (PGS), PLI memberikan edukasi damai melalui permainan, sosialisasi dan pelatihan, penampilan seni, mewarnai buku, dan lain sebagainya. Dengan pendekatan berupa kegiatan kreatif tersebut, PLI menanamkan nilai perdamaian dan toleransi kepada siswa-siswa di sekolah.

Selain menyasar pada siswa, PLI juga menargetkan mahasiswa untuk terlibat dalam menyuarakan perdamaian dan kesetaraan melalui program Peace Goes to Campus.

Salah satu program ini berupa seminar kebangsaan, yang mana menjadi ruang dialog anak muda untuk membahas isu keberagaman, sehingga dapat saling memahami dan menghormati pandangan atau pendapat yang berbeda.

Tak hanya itu, PLI juga memberikan kesempatan bagi anak muda untuk belajar langsung tentang keberagaman, melalui program Peace Service.

Program ini berupa kegiatan bersih-bersih rumah ibadah, dimana PLI membuka ruang perjumpaan bagi anak muda untuk berinteraksi antar umat beragama.

Dengan berpegang teguh pada visi dan misi, serta prinsip-prinsip PLI, yakni; inklusif, toleransi, kesetaraan gender, keterbukaan, solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, integritas, keberlanjutan dan kerelawanan, PLI berkomitmen untuk membangun tidak hanya perdamaian, tetapi juga kesetaraan gender untuk Indonesia yang damai, inklusif dan ramah terhadap perempuan.

Delapan tahun perjalanan PLI membangun perdamaian di tingkat daerah maupun nasional. Kerja-kerja perdamaian dan kesetaraan gender yang diinisiasi kaum muda ini akan terus berdampak, masif, dan berkelanjutan.

Gerakan anak muda di PLI dapat menjadi solusi efektif untuk menghadapi tantangan bonus demografi. Karena kalau bukan anak muda, siapa lagi? []

Yuyun Khairun Nisa

Perempuan kelahiran Indramayu, yang ingin berteman baik dengan buku. Bagian dari Puan Menulis dan Peace Leader Indonesia.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *