Mengambil Pengalaman dari Pengalaman di Masa Lalu

 Mengambil Pengalaman dari Pengalaman di Masa Lalu

Banyak Orang yang Berilmu (‘Alim), Tapi Tidak Banyak Orang yang Bijak (Hakim) (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – PS Jagadeesh Kumar, seorang pengarang novel dari India pernah berkata:

“Mulailah harimu dengan pelajaran dari masa lalu dan akhiri harimu dengan pelajaran untuk masa depan.”

Kata-kata tersebut memberikan nuansa retoris tentang hakikat masa lalu sebagai pijakan besar untuk melangkah jauh menuju masa depan yang cerah.

Setiap dari kita pasti memiliki pengalaman baik secara empiris atau jasmani maupun spiritual atau rohani. Pengalaman ini yang menciptakan konstruksi pemikiran seseorang tentang kehidupan.

Sebagai ciptaan tuhan paling sempurna, manusia dianugerahi oleh Allah Ta’ala berupa akal pikiran sekaligus perasaan.

Dua aspek penting yang selalu menjadi energi sekaligus kompas apabila sewaktu-waktu seseorang tersesat ditengah jalan kehampaan.

Dua aspek tersebut juga sekaligus menjadi alat identifikasi tentang emosi yang melekat pada jiwa seseorang.

Ketika akal berfungsi sebagai penyimpan memori sekaligus navigator bagi seseorang untuk melangkah, maka disitulah hati nurani berposisi sebagai alat identifikasi rasa dan penilaian pada suatu peristiwa.

Dan melalui kedua aspek tersebut, kita mengetahui bahwa setiap dari kita pernah merasakan keindahan dan kepedihan yang telah berlalu.

Akan tetapi, sesuatu yang telah berlalu adalah sebuah kenangan yang apabila seseorang merasakan kepedihan, bisa jadi meninggalkan traumatik jangka panjang.

Sebaliknya, kenangan indah berkedudukan sebagai pelipur lara dikala seseorang merasakan gundah dan rindu akan suasana tersebut. Namun, seperti kata pepatah Arab berikut:

لَنْ تَرْجِعَ الأَيامُ الَّتِي مَضَتْ

Artinya: “Tidak akan kembali waktu yang telah berlalu.”

Masa lalu hanyalah sesuatu yang sudah terjadi dan sudah berlalu dari hadapan mata kita.

Tidak akan terulang kedua kali walaupun sewaktu-waktu kita merasakan apa yang kita sebut sebagai de javu, tapi tentu saja rasa yang pernah ada tidak akan terulang secara persis untuk kedua kalinya.

Bukan berarti kita harus sedih dengan keadaan yang telah terjadi, ataupun kecewa dan harus pasrah menerima kenyataan.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah, kita semua diharuskan hanya berpasrah, berharap dan berserah kepadanya. Dan kita harus percaya pada janji Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286:

لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ .

Artinya:

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.

Maka dari itu, berdamailah dengan masa lalu tanpa ada penyesalan dan kegundahan. Jadikan segala macam pengalaman yang telah kita lewati sebagai guru dalam menghadapi tantangan masalah yang akan datang.

Masa lalu yang telah terjadi adalah hikmah yang menyimpulkan bahwa masalah yang kita hadapi tidak akan lebih besar dari kita itu sendiri. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *