Mengakui Kesalahan Butuh Keberanian

 Mengakui Kesalahan Butuh Keberanian

 Inilah Perbedaan antara Membaca dan Melihat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Baru-baru ini diadakan sebuah musabaqah syair bertema Amir Syu’ara` (Pangeran Para Penyair) di negara Emirat Arab.

Seorang penyair muda dari Libia bernama Abdussalam Buhajar ikut dalam ajang lomba itu.

Setelah menyampaikan syairnya, salah seorang juri mempertanyakan i’rab dari bait syairnya yang terakhir:

وَيُعْجِبُنِي فىِ الذِّكْرَيَاتِ سَخَاءُهَا

Artinya:

“Kenapa ia membaca hamzah dengan dhammah (سَخَاءُ). Dijawab oleh penyair muda, karena ia adalah fa’il dari fi’il يُعْجِبُنِي .”

Maf’ul-nya adalah ya mutakallim yang didahului oleh nun wiqayah.

Anehnya, juri membantah itu. Menurutnya, bacaan yang benar adalah سَخَاءَ dengan fathah pada hamzah sebagai maf’ul. Dua juri yang lain ikut mendukung pendapatnya.

Penyair muda hanya tersenyum. Bahkan ketika juri memintanya merubah pendapatnya, ia hanya merespon dengan senyuman.

Video ini segera menyebar dan mendapat tanggapan yang beragam dari netizen Arab. Hampir semua menyalahkan juri.

Mereka menyayangkan bagaimana mungkin juri perlombaan syair bisa salah dalam hal yang sejelas itu.

Tak sedikit yang mem-bully para juri. Bukan sekedar salah, mereka sepakat dalam kesalahan dan bahkan terkesan ‘mengolok’ peserta tersebut.

Sebenarnya yang sangat disayangkan banyak pihak adalah juri itu kemudian menyadari kesalahannya.

Tapi ia menulis di akun media sosialnya bahwa ia hanya menguji sang penyair muda.

Padahal, orang yang menyaksikan acara itu bisa menangkap dengan jelas bahwa itu bukanlah sebuah tes.

Sebenarnya akan lebih baik kalau sang juri mengakui kesalahannya. Karena memang tidak ada manusia yang tidak bersalah.

Tapi mengakui kesalahan memang butuh keberanian. []

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *