Kabar UnggulanSantripreneur

Meneladani Jejak Karir Istri-Istri Rasulullah Saw

Oleh : Heri Kurniawan

HIDAYATUNA.COM – Sebagian orang mungkin masih ada yang berpendapat bahwa hakikat peran perempuan dalam rumah tangga hanya terletak pada wilayah domestik.

Ungkapan Jawa mengatakan bahwa tugas perempuan hanya macak (berdandan), manak (beranak) dan masak (memasak). Padahal tidak ada dalil yang secara gamblang menyatakan perempuan tidak boleh beraktivitas atau berkarir di luar rumah.

Bahkan beberapa istri Rasullullah saw pun telah sukses dengan karirnya. Namun tetap saja sebagian orang menganggap perempuan tidak boleh memiliki karir tertentu.

Inilah yang kerap kali ditentang oleh pengusung ideologi kesetaraan gender karena menurut pengusung ideologi kesetaraan, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban masing-masing.

Jika kewajiban wanita seputar dapur, kasur dan sumur sudah mereka laksanakan maka tidak salah mereka mendapatkan hak karirnya.

Pada zaman Rasulullah Saw banyak sekali perempuan yang memiliki karir-karir tertentu. Mulai dari menjadi pedagang atau pengusaha, petani, peternak, perawat sampai akademisi atau ulama’.

Di antara perempuan-perempuan karir pada zaman Nabi Saw tersebut sebagian adalah istri-istri Rasulullah Saw, mereka adalah sebagai berikut:

Khadijah binti Khuwailid (Pengusaha eksportir)

Khadijah adalah anak dari pengusaha eksportir terhormat suku Quraisy, yaitu Khuwailid bin Asad bin Abd al-Uzza bin Qusay. Setelah ayahnya meninggal pada tahun 585 M ia mengambil alih usaha ayahnya.

Berkat ketekunan, ketelitian dan kecerdasannya, bisnisnya berkembang pesat. Ia mematahkan opini masyarakat yang memandangnya kaya karena warisan.

Ia juga dikenal memiliki jiwa sosial tinggi. Ia sering membantu fakir miskin, anak yatim piatu dan orang-orang cacat. Dia juga membiayai pernikahan gadis kurang mampu.

Saat terjadi embargo ekonomi dan sosial terhadap umat Islam dalam sebuah lembah (Syi’b Abu Thalib), Khadijah membagi-bagikan kepingan emas kepada pemuda yang berani menyusup ke kota dan kembali membawa pasokan air.

Baca Juga :  Penyerangan Syekh Ali Jaber, Muhammadiyah: Itu Perbuatan Jahiliah

Dalam sebuah riwayat, akibat pengasingan tersebut kekayaan khadijah ludes habis.

Zainab binti Jahsy (Pengusaha Qirbah)

Zainab merupakan istri Rasulullah Saw yang pernah menjadi istri anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah. Pernikahan yang dilakukan Nabi Saw terhadap Zainab sekaligus mematahkan tradisi saat itu bahwa anak angkat tidak seperti anak sendiri, yang mantan istrinya tidak boleh dinikahi.

Dalam sejarah bisnis perempuan Arab, nama Zainab binti Jahsy tercatat aktif berbisnis barang-barang dari kulit binatang. Zainab mengembangkan bisnis rumah tangga berupa qirbah, sejenis tempat air yang terbuat dari kulit hewan.

Hasil dari bisnisnya ia gunakan sebagian untuk membantu masyarakat kurang mampu. Diantara istri-istri Nabi Saw (selain Khadijah), ia dikenal paling banyak sedekahnya. Bahkan Nabi Saw ketika sedang berkumpul dengan istri-istrinya bersabda:

“Diantara kalian yang paling cepat bertemu denganku (setelah Nabi Saw wafat) adalah yang paling panjang tangannya (rajin bersedekah)”. Terbukti Zainab menjadi istri Rasulullah Saw yang pertama wafat menyusul beliau, pada usia 53 tahun, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a.

Aisyah binti Abu Bakar (Dokter hebat)

Aisyah adalah putri Abu Bakar dari istri kedua. Ia diperistri Rasulullah Saw pada usia 6 tahun, dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Di mata para sahabat Aisyah adalah sosok yang cerdas, menguasai berbagai bidang keilmuwan.

Bahkan dia juga menguasai ilmu kedokteran yang membuat para sahabat heran darimana dia mempelajarinya. Hingga suatu saat Urwah bin Zubair berkata kepada Aisyah:

“Ibu, saya tidak heran jika engkau ahli hukum Islam karena engkau istri Rasulullah. Saya juga tidak heran jika engkau ahli syair dan sejarah karena engkau putri Abu Bakar. Akan tetapi saya heran engkau pandai dalam ilmu kedokteran, bagaimana dan dari mana engkau mempelajarinya?”. Aisyah lalu menjawab: “setiap kabilah dari berbagai daerah datang untuk mengobati Rasulullah Saw di akhir hayatnya, aku mengamati dan belajar dari mereka dan mengobati dengan ilmu yang ku pelajari”.

Baca Juga :  Sikapi Corona, Gus Baha Ajak Perbanyak Istighfar

Demikian bukti yang menunjukkan bahwa seorang muslimah pun bisa menjadi seorang entrepreneur. Jiwa entrepreneur muslimah tersebut bisa diteladani dari sosok-sosok istri Nabi Saw sebagaimana dikisahkan di atas.

Tentu masih banyak perempuan-perempuan karir pada masa awal Islam lainnya, seperti Ummu Kultsum binti Ali yang menjadi bidan; Rufaidah binti Sa’ad yang menjadi perawat; Al-Syifa binti Abdullah yang menjadi spesialis penyakit namlah, dan seterusnya.

Mereka semua adalah sosok-sosok entrepeneur Islam yang sejati, yakni entrepreneur yang memiliki efek sosial. Mereka memiliki peran terhadap kemaslahatan umat. Sangat penting bagi perempuan zaman sekarang meneladani mereka, agar perempuan juga bisa mengambil andil pembangunan ekonomi umat.

Dengan menjadi entreprenur, muslimah-muslimah bisa setidaknya membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya, disaat PHK efek pandemi terjadi dimana-mana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close