Cancel Preloader

Mendoakan Kebaikan Untuk Orang yang Hidup dan Telah Wafat

 Mendoakan Kebaikan Untuk Orang yang Hidup dan Telah Wafat

Ilustrasi/Hidaytauna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Ketika Maaher At-Thuwailibi yang dikenal keras dalam mengomentari orang wafat belum lama ini. Saya kemudian mendoakan semoga diampuni dosanya, eh! ada yang bilang saya wahabi. Bilang saya membela wahabi atau mendukung gaya bicara kotor almarhum sewaktu hidup.

Saya juga berdoa semoga Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat, tokoh Syiah) yang wafat diampuni dosanya. Eh, ada yang bilang saya syiah atau membela syiah.

Ketika seseorang masih hidup melakukan kesalahan, maka kita lawan kesalahannya. Kita kritik kesalahannya. Ketika orangnya sudah meninggal, kesalahannya sudah menjadi urusan malaikat yang menantinya di alam kubur.

Orang tersebut sudah berakhir masanya di dunia dan harus menghadapi fase barzakh dan fase akhirat kelak. Sesuai amalnya masing-masing.

Perlu dicatat, ketika dia masih wafat sebagai orang islam, maka doa untuknya yang diajarkan oleh Nabi Muhammad adalah:

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه…

“Ya Allah, ampunilah dia, kasihi dia, selamatkan dia dan maafkan dia… ”

Nabi Tidak Mengajarkan Mendoakan Keburukan Orang

Sadar atau tidak, bahwa yang didoakan begitu itu dalam salat jenazah adalah orang yang macam-macam tindakannya selama masih hidup? Ada yang salih dan baik, tapi banyak juga yang ahli maksiat. Mulai dari penjahat, koruptor, maling, pembunuh, tukang fitnah, ahli bid’ah, munafik dan semua jenis manusia.

Meski demikian, tak ada satu pun redaksi salat jenazah yang misalnya, “Rasain lo! Mampus lo! Alhamdulillah lo, sudah mati, kami istirahat sejak lo mati,” dan sebagainya.

Tentu saja jangan sampai ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad mendukung amal buruk. Terutama ketika mengajarkan satu jenis doa saja, yakni yang baik-baik saja pada jenazah seorang muslim.

Inilah akhlak sesama muslim pada muslim lain yang meninggal. Urusan nanti doa baik kita tidak diterima apa tidak.

Orang yang bersangkutan juga tetap diadili amal buruknya di alam kubur dan di akhirat atau tidak. Itu urusan yang bersangkutan dengan Allah.

Jangan Buru-Buru Mengkafirkan

Soal hukum kafir pada aliran sesat, sejak dulu saya pernah bilang bahwa saya meninggalkan pendapat yang demikian. Silakan cari tulisan saya dengan judul “Pendapat ulama yang sengaja saya tinggalkan” untuk tahu pendapat ulama mana saja yang sengaja tidak saya pakai.

Vonis sesat atau ahli bid’ah itu sudah berat. Ada pun vonis kafir, maka itu seyogyanya sebisa mungkin dihindari dan dicari takwilannya.

Tidak boleh gegabah memvonis orang yang masih bersyahadat, salat, puasa, zakat dan haji dengan vonis kekal di neraka. Bisa-bisa balik ke diri kita sendiri seperti dijelaskan dalam hadis Nabi.

Semoga bermanfaat.

___________________

*NB: Ada ajaran redaksi doa laknat untuk jenazah muslim yang dianggap buruk, tapi ini dalam tradisi syiah saja. Ketika mensalati jenazah yang dianggap pembenci syiah, dan karena saya bukan syiah, maka tentu saya tak sepakat dengan doa buruk semacam itu.

 

Sumber : https://www.facebook.com/wahabjember/posts/10208495968512928

Abdul Wahab Ahmad

Abdul Wahab Ahmad

Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − twelve =