Cancel Preloader

Mendaku Islam, Tapi Kok gitu?

 Mendaku Islam, Tapi Kok gitu?

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Barangkali Islamophopia yang marak di dunia Barat lantaran melihat tindakan terorisme yang kerapkali mengatasnamakan Islam. Stigma negatif Barat yang menyatakan Islam agama kekerasan tidak lepas dan diperkuat dengan terjadinya konflik berkepanjangan. Terutama perihal peperangan dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah.

Di Indonesia saja sendiri, masih banyak ditemukan orang-orang yang rela mati dengan dalih jihad fi sabilillah, mati syahid, beroleh surga sebagai balasan. Tidak peduli berapa orang yang harus terenggut nyawanya, berbeda paham dihukumi kafir, ahlu bid’ah dan sebagainya.

Padahal Islam sendiri tidak pernah mengajarkan hal itu. Silakan cari di ayat manapun yang memerintahkan hal demikian yang menghalalkan darah karena berseberang paham. Sekalipun ada ayat-ayat perang, bukankah ayat-ayat rahmahnya lebih terbentang luas, seharusnya kita pahami konteks asbab-nuzul-nya.

Terkadang saya merenung dan bertanya, “jika begini citra Islam tercemar lantaran tindakan kita yang tidak mencermikan Islam yang memiliki arti damai dan keselamatan. Alih-alih membuat damai, sedikit berbeda paham saja berbuah kegaduhan. Sedikit-sedikit kafir, ke kanan dikit ahlu bid’ah, ke kiri dikit halal darahnya. Haruskah umat Islam ini seragam dengan apa yang diinginkan sesuai pahamnya?”

Seharusnya orang yang menyandang predikat muslim, sebagai subjek penebar damai dan keselamatan tidak gampang membuat kegaduhan. Apalagi sampai berbuat jauh hingga terjadi pembunuhan.

Menerapkan Islam Ramah

Membunuh sangat jelas menyalahi nilai-nilai universal kemanusiaan. Silakan cek mau apa pun agamanya, di berbagai belahan bumi manapun ia berpijak. Bahkan yang tidak percaya Tuhan sekalipun pasti akan menyatakan “membunuh adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan”. Demikian dengan Islam tidak pernah membenarkan hal itu, sekalipun dengan dalih membelanya , tidak pernah, sekalipun tidak pernah.

Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘Alamin yang tidak hanya bagi manusia bahkan alam pun turut serta mendapat rahmatNya dan menjadi perhatian.

Mari kita cek Surat al-Anbiya’ ayat 107: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) selain untuk menjadi rahmat bagi alam semesta ini.

Surat an-Naml ayat 77: “Dan sesungguhnya Alquran benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Banyak ayat dan hadits serupa lainnya yang menegaskan betapa Islam adalah agama kasih sayang. Tidak kah ini cukup bukti bahwa Islam laiknya samudera luas yang penuh kerahmatan dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Tidak pernah sedikit pun Islam menyuruh untuk membunuh dengan dalih apapun. Tidak mungkin Islam bertentangan dengan nilai-nilai universal, etos kemanusian dan nilai-nilai keislaman berjalan beriringan tanpa harus saling sikut sama lainnya.

Islam sebagai Agama Penuh Kasih

Jika di satu kesempatan terdapat ketertolak-belakangan antara Islam dan kemanusiaan, tafsiran atau pemahaman yang mendukung tindakan kekerasan, maka, harus segera dicek ulang barangkali ada cacat pemahaman di dalamnya.

Dalam Hadis Nabi SAW berbunyi: “إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق” dengan jelas bahwa nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak. Bukan untuk berlaku menyimpang.

Allah saja memperkenal diri-Nya sebagai Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang diletakkan di urutan pertama dalam Asma al-Husna-Nya, bukan dengan asma penghukum, pengazab, dan pembalas.

Dalam ummu al-kitab pun dimulai dengan “بسم الله الرحمن الرحيم”. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah lebih mendahulukan kedua sifat welas-asihNya daripada murkaNya, lebih menghampar luaskan ampunanNya daripada azabNya.

Walyatalathaf penggalan dari surah al-Kahfi ayat 18 menurut jumhur ulama sebagai pesan inti dari Alquran pun mengajarkan untuk bersikap lemah lembut terhadap orang lain yang berbeda sekalipun, tanpa harus adanya sekat ras, suku, agama, bangsa, dan negara, terlebih kepada mereka yang saudara seiman.

Membunuh bukan ajaran Islam, menghujat, dan menghakimi yang liyan salah hingga menuai perpecahan pun bukan ajaran Islam. Islam menjunjung persatuan, menghargai perbedaan karena perbedaan adalah niscaya.

Berbeda Itu Indah

Tidak pernah sekalipun Alquran menyuruh kita untuk bertikai, bahkan Rasul mengatakan perbedaan pendapat ummatnya adalah rahmat. Sejauh tidak memunggungi nilai yang terkandung dalam Islam maupun kemanusiaan. Ikhtilaf YES, iftiraq NO.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Gus Dur dalam Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi (2006:111) bahwa Para pelaku terorisme tidak mengerti bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskriminatif.

Maka dari itu aksi kekerasan dan terorisme sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan hanya kalau aqidah mereka terancam, atau mereka diusir dari tempat tinggalnya (idza ukhriju min diyarihim).

Jangan sampai Islam kehilangan kerahmatannya hanya karena tindakan terorisme yang mengatasnamakan Islam, jangan sampai hilang karena ulah tindakan kita yang semakin ke sini, semakin memunggungi syariat dan jauh dari keteladanan nabi Muhammad Saw.

Alih-alih membela dan Allah dan nabiNya sedang prilaku dan tindakan tidak mencerminkan keteladanan sikap dan prilaku rasulNya sebagaimana diajarkan. Bukan kah ini paradoks? Ketidak-singkron-an pemahaman atas nabi dengan tindakan yang ambil. Wallahu A’alam bi as-Shawab

Ali Yazid Hamdani

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 − eighteen =