Mencari Ilmu Harus Diniatkan Ikhlas Karena Allah

 Mencari Ilmu Harus Diniatkan Ikhlas Karena Allah

Prioritas Amal bagi Orang Berilmu (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Kalau tujuan kuliah di STAIN, IAIN, UIN atau Perguruan Tinggi Islam swasta adalah untuk mencari ridha Allah, maka ridha Allah mudah didapat oleh setiap penuntut ilmu.

Kalau tujuan mencari ilmu karena ingin cari duit atau ingin jadi rujukan masyarakat, maka ini repot sebab tak semua orang bisa mendapat itu dengan kuliah jurusan agama.

Ujung-ujungnya ketika gagal malah merasa ilmunya tak berguna dan hanya membuang waktu. Akhirnya ketika dirinya kecewa tujuannya tak tercapai, pelampiasannya adalah nyinyir ke orang-orang yang ilmunya laku di masyarakat dan bisa ngajar ilmu agama.

Maunya mengesankan ilmu agama tidak bermanfaat dan kalah jauh dari ilmu sains, padahal dia pun tak punya sumbangsih dan kemampuan di bidang sains.

Begitu pula kalau tujuan kuliah di bidang sains adalah mencari ridha Allah dengan cara berusaha memberi sumbangsih pada kemajuan umat manusia, maka usaha mencapai itu pun sudah besar pahalanya meskipun goal-nya belum tercapai.

Tapi kalau tujuannya ingin jadi saintis terkenal, punya penemuan yang hebat, dapat nobel dan sebagainya, maka itu repot sebab tak semua orang bisa mendapat itu dengan kuliah sains.

Ketika gagal, akhirnya pelajar di bidang ilmu agama yang tak berhubungan dengannya yang dikambing hitamkan seolah menjadi penyebab ketidakmajuan. Padahal tak ada hubungannya antara kedua ilmu tersebut.
Bukti bahwa orang yang sukanya hanya nyinyir pada ilmu agama adalah orang yang tidak cerdas dan cuma orang putus asa sebab tak laku dan gagal mencapai impian adalah inkonsistensi yang dia pamerkan.

Kalau konsisten, harusnya dia nyinyir pada semua bidang ilmu lain juga. Harusnya dia bilang ke dokter gigi, “orang lain sudah ke bulan kamu kok cuma bersihin karang gigi orang melulu.”

Bilang juga ke arsitek, “orang lain sudah ke bulan kamu kok cuma ngajarin nyusun batu bata.”

Bilang juga ke desainer busana, “orang lain sudah ke bulan, kamu kok cuma menggambar baju.”

Jangan lupa, bilang juga ke koki di rumah makan, “orang lain sudah ke bulan tapi kamu kok cuma masak tiap hari.”

InsyaAllah kalau konsistensi ini dilakukan maka akan menjadi orang stres yang kaffah. Dunia ini makin ruwet karena banyak orang stres yang setengah-setengah.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *