Memprihatinkan, Muslim Jepang Kesulitan Tempat Pemakaman

 Memprihatinkan, Muslim Jepang Kesulitan Tempat Pemakaman

Memprihatinkan, Muslim Jepang Kesulitan Tempat Pemakaman


HIDAYATUNA.COM, Jepang – Sungguh memprihatinkan. Berbeda dengan di negara mayoritas penduduk muslim, muslim Jepang tengah mengalami masalah serius yakni mereka kesulitan tempat pemakaman.

Masalah tempat pemakaman ini menjadi masalah yang sudah sejak lama terjadi di negeri Sakura tersebut. Bagi umat muslim di sana tentu ini masalah yang sangat serius, pasalnya tidak mungkin jenazah muslim di sana ikut dikremasikan.

Krisis tempat pemakaman di Jepang ini dikarenakan mayoritas masyarakat di sana menggunakan sistem kremasi untuk jenazah. Itulah sebabnya Jepang tidak menyediakan tempat pemakaman.

Setidaknya hanya ada tujuh lokasi tempat pemakaman di negara tersebut. Dan ini menyulitkan umat Islam untuk menguburkan jenazah muslim.

Salah satu dari tujuh situs adalah pemakaman biasa di Hokkaido, terletak di daerah pesisir Yoichi. Namun Yoichi hanya menawarkan ruang yang sangat terbatas untuk penguburan.

Tahun 2018 lalu, terdata lebih dari 99 persen jenazah di Jepang dikremasi, dan tidak memiliki banyak lahan pemakaman.

Dalam hal ini Japan Islamic Trust mengatakan, Jepang sama sekali tidak memiliki situs pemakaman untuk Muslim di wilayah Tohoku timur laut atau di barat wilayah Chugoku.

“Jenazah seringkali harus dipindahkan ke kuburan yang jauh, yang dapat merusak jenazah atau mengakibatkan biaya transportasi yang tinggi,” kata Direktur Jenderal Kepercayaan, Qureshi Haroon dilansir dari Republika, Selasa (4/8/2020).

ketua Masyarakat Islam Hokkaido, Towfik Alam mengatakan, sebelumnya masyarakat Muslim telah merencanakan pembuatan pemakaman di Otaru, sesuai dengan protokol Hokkaido, setidaknya 110 meter dari daerah pemukiman. Namun proyek itu terhenti karena tidak adanya dukungan dari penduduk sekitar.

“Warga khawatir tentang kebersihan penguburan, dan aspek-aspek lain,” kata seorang juru bicara kota.

Hirofumi Tanada, seorang profesor di Universitas Waseda dengan pengetahuan luas tentang komunitas Muslim Jepang, mengatakan, mengakomodasi kebutuhan para praktisi bukan hanya Islam tetapi sejumlah tradisi keagamaan telah menjadi lebih penting sejak Jepang mengubah undang-undang imigrasi April lalu untuk menerima lebih banyak pekerja asing.

“Masalah tentang penguburan hanyalah satu contoh,” jelasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 − 2 =