Membumikan Al-Qur’an Melalui Penguatan TPQ Masyarakat Muslim Indonesia

 Membumikan Al-Qur’an Melalui Penguatan TPQ Masyarakat Muslim Indonesia

 Inilah Perbedaan antara Membaca dan Melihat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) menjadi salah satu instrumen pendidikan yang penting dalam menggali makna pedoman hidup umat Islam tersebut di usia awal anak.

Bisa dibilang, mempelajari dan mengamalkan isi Al-Qur’an merupakan kewajiban bagi kita semua.

Dewasa ini, tanpa disadari masih begitu banyak masyarakat muslim yang belum bisa menulis dan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Seperti yang kita ketahui, bahwasanya, kemampuan menulis dan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu indikator kualitas kehidupan beragama seorang muslim, tetapi kenapa kebanyakan masih belum bisa? Sebenarnya, di manakah letak kesalahannya?

Entahlah, tapi sebenarnya ini memang menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.

Selanjutnya, untuk mengatasi dan meminimalisir persoalan di atas, marilah kita bersama-sama mengawalinya dengan menggerakkan, membumikan serta mengenalkan Al-Qur’an kepada anak-anak sejak usia dini.

Salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh yaitu dengan membuat dan melestarikan lembaga-lembaga non-formal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Dalam melancarkan cita-cita membumikan dan mencetak generasi qur’ani. Penulis di sini mengutip tulisan (Mansur, 2009), bahwasanya ada dua faktor yang meningkatkan ghirah  anak untuk belajar di TPQ yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, yaitu faktor yang tumbuh alami dari kepribadian dan pembawaan anak.

Anak yang lahir dalam lingkungan keluarga agamis dan telah didukung oleh lingkungan masyarakat yang agamis, maka di dalam diri anak tersebut cenderung agamis juga.

Sehingga anak itu senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang agamis, seperti semangat mengikuti pembelajaran Al-Qur’an di TPQ.

Pada dasarnya, semua manusia itu lahir sudah membawa ketauhidan, karena sejak dalam kandungan, manusia sudah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya.

Sehingga wajar kalau faktor pembawaan dalam diri anak dapat mempengaruhi keikutsertaan dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat agamis seperti mengikuti pengajian di TPQ tersebut.

 Sedangkan faktor eksternalnya yaitu faktor bagian luar yang dapat mempengaruhi anak untuk semangat dalam mengaji, seperti dukungan dari kedua orang tua, keluarga, masyarakat, serta metode kreatif ustadz-ustadzah dalam membimbing dan mengajar anak-anak TPQ yang membuat mereka selalu semangat mengaji.

Selain itu, dalam proses melanggengkan lembaga TPQ, kualitas sumber daya manusia dan pengelolanya sangat berpengaruh.

Semua lembaga pendidikan mencita-citakan adanya harapan atau hasil memuaskan bagi semua elemen terkait. Ada enam tips kunci sukses dalam melanggengkan lembaga TPQ.

Pertama, yaitu niat ikhlas dan tulus lillahi ta’ala dalam melaksanakan tugas sesuai dengan ide yang sudah ditetapkan.

Selalu niat melakukan kebaikan di atas prinsip pengabdian yang semata-mata hanya mengharapkan ridha-Nya.

Kedua, membuat rancangan ide yang jelas, yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan di dalam lembaga TPQ tersebut. 

Ketiga, berwawasan luas. Maksudnya yaitu mempunyai pengetahuan sesuai dengan bidang yang digelutinya sehingga dapat memunculkan dan mengembangkan ide-ide produktif dalam memajukan lembaga.

Usaha merealisasikan hal tersebut bisa dilakukan melalui bentuk keaktifan, seperti aktif membaca, berdialog, mengikuti berbagai seminar, lokakarya, pelatihan dan lain-lain.

Keempat, tata kelola administrasi dan manajemen TPQ yang rapi. Hal ini dapat membuat segala sesuatu terkait administrasi dalam lembaga tersebut menjadi transparan, terbuka, dapat diterima dan dipercaya oleh wali santri.

Kelima, figur pengelola atau pelaksana yang handal, seperti tokoh masyarakat setempat atau ustadz-ustadzah yang mampu, cakap, berwibawa, mampu berkomunikasi baik dengan masyarakat setempat serta dapat menjadi panutan.

Keenam, yaitu dukungan kuat dan kerjasama yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.

Karena TPQ merupakan pendidikan non formal yang pada umumnya bersumber dari lembaga swadaya masyarakat.

Maka sudah sepatutnya keberadaan TPQ hendaknya harus didukung penuh oleh masyarakat sekitar demi kelangsungan dan kelancaran lembaga TPQ tersebut.

Sebagai sebuah lembaga pembelajaran agama non-formal, tentu TPQ dapat menjadi salah satu penopang penting dalam fondasi pendidikan agama generasi bangsa.

Tanpa adanya dukungan yang kuat dari masyarakat, maka lembaga TPQ tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Semoga bermanfaat. []

Muhamad Imam Mutaqin

Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga. Menyukai obrolan, bacaan, belajar dan desain, sesekali ngopi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *