Membangun Peradaban Islam: Membaca Malek Bennabi dan Fazlur Rahman

 Membangun Peradaban Islam: Membaca Malek Bennabi dan Fazlur Rahman

Membangun Peradaban Islam (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Memperbincangkan tema peradaban Islam, ada dua pemikiran menarik yang dapat kita korelasikan menjadi kebangunan teori dan implementasi. Satu berasal dari Malek Bennabi dan satunya dari Fazlur Rahman. Keduanya merupakan pemikir dan filosof muslim modern yang telah memberikan sumbangan intelektual luar biasa dalam dunia Islam.

Malek Bennabi mempunyai rumus peradaban―yang sebenarnya berangkat dari pemikiran Ibn Khaldun―mengenai bagaimana peradaban itu bisa terbentuk melalui tiga hal atau syarat. Di antara yang tiga itu berurut, yakni manusia, tanah, dan waktu.

Dengan tiga perangkat inilah maka terwujudlah peradaban, dengan manusia sebagai titik sentralnya. Manusia dituntut untuk mampu mengolah tanah (materi yang ada di muka bumi) dengan baik dan optimal, serta menguasai atau memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin―artinya tidak menyia-nyiakan. Jika yang dua ini mampu dikelola dengan baik oleh manusia, maka terciptalah peradaban yang baik pula.

Tantangannya kemudian adalah menciptakan manusia yang mampu mengoptimalkan pengolahan dua unsur tersebut. Menciptakan manusia yang ideal sebagai basis pembangun peradaban memang bukan hal yang mudah.

Tahapan Perkembangan Individu

Untuk menuju ‘masa ide’ sebagaimana gagasan Malek Bennabi sendiri tentang perkembangan individu, harus melewati ‘masa benda’ dan ‘masa tokoh’. Keduanya merupakan tingkat rendah yang ada pada manusia.

Ketika sudah berhasil menginjak masa ide, barulah manusia akan beranjak menuju pemikiran-pemikiran yang maju untuk memanfaatkan potensi yang ada. Mengolah segala sesuatu dengan baik sehingga kemjuan peradaban sedikit demi sedikit akan dicapai.

Pada ‘masa ide’ itu pula-lah masyarakat beradab atau mujtama’ al-mutahaddir sebagaimana dalam pandangan Bennabi tentang perkembangan masyarakat, akan muncul. Masyarakat beradab yang dimaksud adalah yang peradabannya maju dengan segala kemampuan yang dimiliki.

Seperti halnya kejayaan Islam di era Bani Umayyah dan Abbasiyah beberapa abad lalu. Masyarakat Islam di zaman itu jelas adalah masyarakat yang sudah maju cara berpikirnya sehingga mampu mengolah ‘tanah’ dan ‘waktu’ dengan sangat baik.

Siklus Peradaban

Tidak semua peradaban yang maju dapat bertahan. Setelah menjalani masa mujtama’ al-mutahaddir, kemajuan peradaban akan mengalami kemunduran (mujtama’ ba’da al-hadarah).

Kemudian kembali lagi kepada yang awal menjadi peradaban yang tidak maju, yang belum menguasi peradaban (mujtama’ qabla al-hadarah). Hal semacam ini seperti siklus alamiah, sebab pada realitas sejarahnya memang tidak ada kemajuan peradaban suatu kaum yang bertahan terus menerus.

Semua berlangsung dengan diawali tidak menguasai peradaban, beradab, mengalami kemunduran, dan kembali tidak menguasai peradaban sebagaimana semula. Begitu pun peradaban Islam yang pernah mengalami kemajuan, kemudian mengalami kemunduran, dan saat ini tengah dalam fase kurang menguasai peradaban.

Peradaban Islam runtuh kemudian diganti oleh kemajuan peradaban Barat yang bertahan hingga sekarang. Namun, bukan tidak mungkin peradaban Barat yang maju luar biasa ini akan mengalami kemunduran sebagaimana dulu.

Lalu diganti peradaban lain yang bakal menguasai. Mungkin berapa abad lagi atau entah, yang jelas jika kembali pada gagasan yang dibangun Bennabi pasti akan berakhir, akan mengalami kemunduran.

Gerakan Ganda

Zaman saat ini menjadi tantangan bagi masyarakat Islam untuk mengembalikan kemajuan peradaban yang pernah diraih bahkan berabad-abad lamanya. Dengan diawali kesadaran bahwa sebenarnya kita tertinggal jauh, kemudian bangkit bersama-sama dengan spirit membangun kembali peradaban yang maju, tidak ada kemustahilan untuk berhasil.

Sebagaimana Barat dulu yang sadar untuk bersatu dan meninggalkan perpecahan akibat perselisihan teologis. Kemudian bangkit menjadi bangsa yang manguasai peradaban. Namun, sekali lagi, memang dikata sulit.

Apalagi sampai saat ini sebagian umat Islam masih gemar dengan perdebatan-perdebatan yang kadang bahkan berbuntut perpecahan. Semua ini bermula sejak abad ke-18 sebagaimana disebutkan oleh para sarjana di mana dunia Islam mengalami kemunduran dan krisis yang akut.

Terutama awal abad ke-19 di saat gerakan pemurnian Islam yang oleh Fazlur Rahman disebut gerakan revivalisme pramodern seperti Wahabisme di Jazirah Arab muncul. Kemunculan mereka menurut sebagian besar analisis semakin memperparah kemunduran dunia Islam karena kejumudan cara berpikir yang dibawanya.

Membaca Gagasan Fazlur Rahman dan Malek Bennabi

Banyak sebenarnya gagasan yang sudah muncul dari para pemikir muslim sejak awal abad modern tentang bagaimana Islam harus bangkit kembali membangun spirit kemajuan. Namun, dari sekian gagasan yang telah dihasilkan oleh para cendekiawan muslim itu, Fazlur Rahman-lah yang menarik perhatian saya.

Jika dirangkai dengan pemikiran filsafat peradabannya Malek Bennabi yang sudah dibahas di awal, maka akan membentuk satu rangkaian menarik. Dari Bennabi kita belajar rumus peradaban, sementara dari Rahman kita menemukan sebuah metodologi yang selanjutnya bisa dijadikan patokan aksi.

Teori yang digagas Fazlur Rahman itu dinamakan double movement (gerakan ganda). Teori ini sebenarnya merupakan metodologi pembaruan pemikiran Islam yang kemudian juga dikenal dalam hermeneutika alqurannya.

Hemat saya, metodologi ini selain dapat digunakan untuk bidang keilmuan, juga bisa diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Termasuk dalam konteks peradaban ini, jelas relevan karena munculnya teori ini memang sebagai kelanjutan atas gagasan neomodernisme yang dibangun oleh Rahman sendiri.

Teori Neomoderisme Fazlur Rahman

Secara garis besar, jika langsung kita terapkan, teori ini berarti berangkat dari masa sekarang ke masa lalu, kemudian kembali ke masa sekarang. Titik tolaknya adalah situasi zaman sekarang, kemudian bergerak kembali ke masa lalu untuk melihat konteks historisnya.

Dari situasi masa lalu, selanjutnya kembali ke masa sekarang untuk mengontekstualisasikan lagi sesuai dengan situasi zaman. Hasilnya adalah reaktualisasi prinsip-prinsip atau nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar historis.

Di situlah yang dimaksud Rahman dengan neomodernisme, yang berbeda dari tiga gerakan sebelumnya yang secara umum mempunyai kelemahan. Tiga gerakan tersebut di antaranya, pertama, revivalisasi pramodern, yaitu gerakan yang muncul abad ke-18 dan 19 yang membawa misi pemurnian agama seperti Wahabi di Arab dan Sanusiyah di Afrika.

Kedua, modernisme klasik, gerakan ini muncul di masa modern dengan mengusung spirit pembaruan dengan memperluas cakupan ijtihad. Tokoh-tokoh yang terkenal di antaranya seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh.

Ketiga, neorevivalisme atau revivalisme pascamodern, gerakan ini lahir sebagai reaksi dari ketidaksetujuan kepada modernisme klasik. Berbeda dengan revivalisme, gerakan ini mengambil bentuk yang lebih radikal dan ekstrem. Contoh dari gerakan ini adalah kelompok seperti al-Qaeda dan ISIS.

Metodologi Double Movement

Gerakan pertama dan ketiga secara garis besar menutup diri dalam lingkaran ortodoksi dengan menolak pandangan-pandangan yang bersifat eksternal, anti Barat. Sementara gerakan kedua justru berlindung dalam objektivitas ilmiah, parsial, dan tidak holistik dalam memahami Islam sehingga kehilangan esensi spiritualitas, serta lebih menfokuskan diri pada masalah-masalah yang berasal dari Barat.

Dari sinilah gerakan neomodernisme muncul dengan metodologi double movement sebagai sintesis dari ketiganya, yang secara garis besar berarti tidak anti Barat. Tetapi juga tidak menafikannya sama sekali.

Melalui teori Fazlur Rahman inilah kita berangkat membaca peradaban. Kita melihat ke masa lalu pada kejayaan peradaban Islam bahkan ke situsi zaman Islam awal, sebagai patokan historis untuk mengambil nilai-nilai dan spirit kemajuan.

***

Selanjutnya kita bawa kembali ke zaman sekarang, dengan melihat situasi terlebih dahulu. Kemudian mereaktualisasikan sesuai konteksnya sehingga, dengan demikian kita bisa membangun kemajuan tanpa harus kehilangan nilai-nilai yang sudah tertanam sejak awal.

Konsekuensinya, kita tinggalkan ketegangan akibat perbedaan pandangan dan mulai membuka perpektif luas tentang segala hal. Mengambil sesuatu dari Barat sebagai unsur luar tidak akan membuat wajah Islam kabur.

Sebaliknya, melalui elan modernismenya kita akan bangkit perlahan membangun peradaban Islam yang dicita-citakan. Bukankah waktu itu Islam maju berkat mengadopsi dari luar, lewat penerjemahan besar-besaran karya-karya Yunani dan Barat?

Rofiki Asral

Penikmat kopi hitam, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two + twenty =