Membaca dan Menghafal Alquran Dinilai Baik untuk Kesehatan Otak

 Membaca dan Menghafal Alquran Dinilai Baik untuk Kesehatan Otak

Membaca Alquran bukan bodoh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta — Sepanjang sejarah, banyak peradaban telah membuat kemajuan yang signifikan melalui penggunaan otak yang tepat dalam dunia sains dan berbagai bidang lainnya. Namun, peradaban Islam melampauinya dalam mencapai kemajuan baik menggunakan materialisme maupun idealisme.

Seorang profesor non-Muslim, ahli sejarah sains, pernah berkata, “Jika bukan karena masalah politik dan pertempuran terus-menerus antara satu sama lain. Umat Islam akan berada di bulan pada tahun 1400-an,” katanya dikutip dari About Islam, Senin (14/02/2022).

Apakah Muslim unggul dalam sains karena mereka menyembunyikan apa yang tidak dimiliki orang lain? Mencari di dalam sistem pendidikan peradaban Islam akan membawa Anda ke Alquran. Sistem pendidikan peradaban Islam kuno berpusat pada hafalan, pembacaan dan pemahaman Alquran.

Jadi, bagaimana membaca Kitab Allah memiliki dampak abadi pada fungsi organ tubuh manusia yang paling kompleks? Jawabannya terletak pada berbagai komponen otak yang dirangsang dan diaktifkan ketika ayat-ayat Alquran dibacakan.

Proses membaca Alquran dianalogikan dengan seorang atlet yang sedang berlatih lari marathon. Dalam persiapan lari marathon, seorang atlet melakukan persiapan dengan lari jarak jauh. Kemudian mengonsumsi makanan yang sehat, mengembangkan daya tahan, dan pembinaan otot.

Demikian juga, menghafal Alquran memiliki efek yang sama pada otak seseorang. Pembacaan ayat-ayat yang terus-menerus dengan pengucapan yang tepat (Tajwid). Mengarah pada aktivasi area tertentu dari otak yang memudahkan tindakan pemahaman, pemrosesan dan retensi di bawah semua kapasitas.

Aktivitas Otak

Tidak hanya realitas spiritual dalam menghafal dan membaca Alquran, melainkan realitas materialistis yang terbentuk di otak. Bagian utama otak yang diaktifkan dari pembacaan Alquran adalah tiga lobus Cerebral Cortex; lobus frontal, lobus parietal, dan lobus temporal.

Korteks serebral adalah bagian terbesar dari otak manusia, terkait dengan fungsi otak yang lebih tinggi seperti berpikir dan bertindak. Tindakan mendengarkan Alquran dan mengucapkannya secara akurat selama menghafal menyebabkan stimulasi Lobus Temporal. Stimulus ini berisi Hippocampus yang merupakan pusat memori otak.

Pengaktifan wilayah ini secara konsisten melalui penghafalan Alquran, yang dilakukan secara rutin setiap hari hingga lebih dari 6.000 Ayat Alquran dihafal, menyebabkan peningkatan retensi memori.

Mendengarkan Alquran Setara dengan Musik

Demikian juga, lobus parietal kiri dan kanan, yang memproses membaca, menulis, berbicara, hubungan logika visuospasial dan pemahaman ekspresi wajah. Pun, secara konsisten dirangsang yang mengarah pada peningkatan keterampilan logika dan matematika dan keterampilan visuospasial yang lebih kuat. Hal ini dapat menjelaskan keberhasilan peradaban Muslim dalam astronomi dan matematika.

Oleh karena mendengarkan Alquran setara dengan mendengarkan musik, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ini mengarah pada pelepasan dopamin, neurotransmitter. Keduanya merupakan zat kimia yang dilepaskan oleh neuron (sel saraf) untuk mengirim sinyal ke sel saraf lainnya.

Dopamin memainkan peran utama dalam perilaku yang dimotivasi oleh penghargaan. Ini juga mengarah pada pengurangan rasa sakit dan membantu individu pulih dari stroke atau cedera lainnya.

Hal ini juga membantu dalam peningkatan keterampilan kognitif serta meningkatkan daya tahan dan gejala demensia.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *