Memahami Sisi-sisi Kehidupan Nabi Muhammad: Tidak Semua Sunah

 Memahami Sisi-sisi Kehidupan Nabi Muhammad: Tidak Semua Sunah

Memahami Kehidupan Nabi Muhammad (Ilust/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Nabi Muhammad adalah panutan bagi umat Islam, semua perilakunya sangat baik dan sudah dijamin oleh Tuhan tidak akan berbuat salah. Kalaupun Nabi berbuat salah dalam satu tindakan, maka Tuhan akan segera memperingatkannya, dan kemudian Nabi bertaubat.

Banyak orang yang memahami semua perilaku dari Nabi adalah sebuah sunah sehingga, bagi umatnya akan mendapatkan pahala ketika mengikuti Sunnah Nabi tersebut. Tetapi sebenarnya, dalam mengambil hukum-hukum Islam para ulama membedakan perilaku Nabi. Maksudnya Nabi Muhammad sebagai utusan dari Tuhan memiliki sisi kemanusiaan, sama seperti manusia biasa.

Ketika Nabi sedang berbicara sebagai manusia biasa maka pembicaraan Nabi tersebut bukanlah sebuah hadis (sunah) sehingga pada posisi ini, sebenarnya seluruh perkataan dari bukanlah sebuah hadis. Kita sebagai umatnya tidak disunnahkan untuk mengikutinya. Oleh karena itulah kita perlu memahami berbagai sisi dari kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Dari Manusia Biasa Hingga Politisi

Muhammad sebagai manusia biasa tidak hanya mengemban tugas sebagai Nabi, tetapi ada berbagai fungsi lainnya. Seperti Muhammad sebagai politisi bisa dilihat dari kebijakannya membuat piagam Madinah dan juga perjanjian Hudaibiyah. Muhammad sebagai Jendral militer, maka bisa dilihat pola kepemimpinannya dan juga strateginya dalam berbagai pertempuran.

Pola-pola pemahaman seperti itulah yang perlu kita pahami, bahwa tugas Muhammad bukan hanya sebatas nabi. Akan tetapi meliputi juga pada bidang politik, kemiliteran, kebudayaan, dan juga kemanusiaan.

Dalam bidang politik, mungkin Muhammad adalah pemimpin pertama yang menerapkan kebebasan dalam beragama. Di dalam piagam Madinah umat Yahudi tidak diharuskan untuk menjadi Muslim, mereka bebas untuk beribadah sesuai keyakinan mereka.

Dengan adanya piagam Madinah, Kota Madinah semakin maju dan tidak saling berperang antar sukunya. Semua itu saya pahami akibat dari kebijakan yang diambil oleh Muhammad sebagai tokoh politik.

Jiwa Militer Nabi Muhammad Terasah dalam Perang Uhud

Sedangkan untuk sisi kehidupan Nabi sebagai pemimpin militer terlihat ketika Perang Uhud. Pembacaanya terkait strategi militer sungguh melampaui para jendral perang pada masa itu.

Salah satu contohnya adalah ketika perang Uhud, pada waktu itu Muhammad melihat posisi gunung uhud bisa menguntungkan pasukan yang menguasainya. Beliau pun memerintahkan para pemanah untuk berdiam di puncak uhud.

Strategi ini berhasil, tetapi karena para pemanah tidak disiplin sehingga mereka turun untuk mengambil harta rampasan perang. Lantas umat muslim terdesak oleh kaum Quraisy.

Selain itu, pemahaman Muhammad dalam bidang kemiliteran juga bisa dilihat dalam berbagai perang yang beliau lakukan. Dalam bidang budaya ada satu contoh menarik dari beliau.

Ketika hijrah ke Madinah, dan saat sampai di Madinah, seluruh penduduk Madinah menyambut Muhammad dengan nyanyian-nyanyian. Muhammad tidak menolak sambutan itu, artinya budaya yang tidak bertentangan dalam Islam sebenarnya boleh-boleh saja untuk diikuti.

Muhammad juga mengajarkan kita untuk saling memahami dan menghargai manusia lainya. Hal ini terlihat ketika Muhammad memberikan makan pada orang buta dipinggiran pasar Madinah, Muhammad tetap memberikan makanan walau tahu orang buta tersebut menjelek-jelekkan Nabi dan ajarannya.

Menghindari Fanatisme yang Tak Berdasar

Lalu apa pentingnya untuk memahami sisi kehidupan Muhammad sebagai manusia biasa? Pertama, dengan memahami semua perilaku Nabi Muhammad, maka kita akan paham tentang perbedaan dan tidak membabi buta mengenai permasalahan sunah.

Ada satu contoh yang sangat menarik ketika berbicara sunah tersebut, yakni perkara menumbuhkan jenggot. Menurut sebagian orang, memahami jika menumbuhkan jenggot adalah permasalahan sunah.

Apakah demikian adanya? Jika belajar pada sejarah, menumbuhkan jenggot lazim dilakukan oleh seluruh masyarakat Arab.

Jadi, jenggot bukan sunah agama melainkan budaya dari bangsa Arab. Semua orang Arab pada masa itu menumbuhkan jenggot sebagai identitas bahwa mereka adalah laki-laki yang sudah tumbuh dewasa.

Dengan paham tentang sisi kehidupan Nabi Muhammad dari segala sisinya, maka kita akan bisa menerima budaya dengan mudah. Tidak akan membabi buta menerima semua dari Muhammad adalah sunah, seperti jenggot, cara berpakaian, dan lainnya yang tidak berhubungan dengan posisi kenabian Muhammad.

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

six + eight =