Memahami Perjalanan Hidup Lewat Tembang Jawa yang Sarat Nilai Islam

 Memahami Perjalanan Hidup Lewat Tembang Jawa yang Sarat Nilai Islam

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kehidupan manusia akan melewati perjalanan panjang yang penuh rintangan. Proses perjalanan manusia dimulai dari alam arwah hingga kembali kepada-Nya telah dijelaskan dalam firman Tuhan dan hadis Rasulullah Saw.

Sebagai upaya mendakwahkan tujuan hidup manusia di dunia, para wali terdahulu yang gigih menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa menggunakan sarana budaya dan sastra. Hal ini supaya Islam lebih mudah dipahami masyarakat setempat.

Sejarah mencatat para ulama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa menggunakan cara sinkretisme dan akulturasi. Dengan begitu, Islam mampu menjadi agama mayoritas yang dipeluk oleh masyarakat Indonesia secara sukarela. Salah satunya dalam bentuk sastra sebagai alat dakwah yang bijaksana.

Karya kesusastraan yang berhasil diciptakan oleh para wali dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa adalah dengan Tembang Macapat. Tembang Macapat merupakan karya sastra adiluhung yang memiliki filosofi mendalam tentang falsafah jawa yang dipadukan dengan nilai Islam.

Arti Tembang Macapat

Disebut Tembang Macapat karena manusia pasti melakukan perjalanan besar menuju Allah Swt. Maka manusia juga perlu memerhatikan atau membaca empat unsur nafsu di dalam dirinya atau disebut dengan maca papat, yang disingkat menjadi macapat.

Jadi, di dalam diri manusia terdapat empat unsur nafsu yaitu lawamah, supiyah, amarah, dan mutmainnah. Dalam perjalanan besar ini manusia harus mampu mengendalikan nafsu tersebut supaya ia bisa lolos dari jebakan dunia, dalam rangka perjalanan kembali kepada Allah Swt.

Hal ini perlu dilakukan supaya dirinya bisa menjadi pancer atau pusat pengendali dalam mengatur laku perjalanannya. Inilah maksud dari falsafah jawa sedulur papat lima pancer.

Ijtihad Kebudayaan Para Wali

Tembang-tembang macapat ini seringkali diatribusikan kepengarangannya kepada para wali Tanah Jawa. Di antaranya, tembang Durma yang diciptakan oleh Sunan Bonang dan Dhandhanggula diciptakan oleh Sunan Kalijaga.

Selain itu, tembang Mijil dan Megatruh merupakan buah karya Sunan Giri-Prapen serta Maskumambang diciptakan oleh Sunan Majagung. Secara keseluruhan tembang macapat ini berjumlah 11, yaitu maskumambang, mijil, sinom, kinanthi, asmaradan, gambuh, dhandhanggula, durma, pangkur, megatruh dan pucung.

Inti pokok dari semua tembang-tembang tersebut adalah petuah-petuah bahwa manusia sejak lahir di dunia akan menghadapi perjalanan yang panjang menuju kematian. Perjalanan itu berakhir kembali kepada Tuhan sehingga manusia perlu memiliki pedoman dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Perjalanan Manusia Sejak Lahir

Dalam perkembangan umur selama perjalanannya menuju Allah SWT., manusia akan menghadapi beragam rintangan dan jebakan yang membutuhkan pedoman untuk mengatasinya. Maskumambang memiliki arti bahwa manusia melewati alam kandungan saat masih bayi.

Kemudian Mijil, manusia dilahirkan ke dunia dan siap melakukan perjalanannya. Lalu tembang Sinom atau muda, di mana manusia masih memiliki nafsu yang membara untuk mencari jati dirinya.

Maka dari itu saat masih muda, manusia perlu ditemani dengan tembang Kinanthi, yaitu perkembangan ilmu moral dan spiritualnya dengan selalu menegakkan syariat. Hal ini dilakukan supaya manusia tidak kebablasan saat melakukan eksplorasi diri.

Lalu ada tembang Asmaradana, di mana manusia merasakan emosi berupa cinta dan kasih sayang kepada lawan jenisnya. Hingga akhirnya manusia gambuh atau menikah sebagai kawah candradimuka dalam rangka menundukkan egonya.

Hingga Terlepasnya Roh dari Jasad
Manusia akan diuji untuk sebuah tanggungjawab yang lebih besar dalam usaha mencari penghidupan. Ia akan berada dalam relasi masyarakat yang membuatnya merasakan Dhandhanggula atau proses jatuh bangun dalam menjalani kehidupan.

Hal ini akan membawa manusia kepada proses pendewasaan dirinya. Jika berhasil lolos dari proses manis pahitnya kehidupan, maka manusia bisa mendermakan (Durma) dirinya kepada masyarakat. Karena ia telah mampu menundukkan ego dan mengatasi pamrih dalam dirinya.

Lalu manusia akan memasuki masa Pangkur, di mana ia mundur dan menjauhkan diri dari gemerlapnya dunia. Meninggalkan sifat keduniawiannya dan memilih menempuh jalan sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Selanjutnya Megatruh, yaitu roh manusia akan terlepas dari raganya alias wafat. Saat wafat jasad manusia akan dibungkus dengan kain kafan atau dalam proses perjalanan disebut Pucung.

Tembang-tembang di atas merupakan sebuah proses perjalanan manusia sejak dalam kandungan hingga menuju kematian, yaitu sebuah lelaku dalam menjalani sangkan paraningdumadi.

Contoh Menjalani Hidup ala Rasulullah

Perjalanan besar manusia ini juga sudah dijelaskan dalam ajaran Islam. Di mana manusia akan melewati alam arwah, alam kandungan, alam dunia, alam kubur, alam akhirat, hingga berakhir di surga atau neraka.

Allah SWT. menciptakan manusia lengkap dengan seperangkat pedoman hidup supaya tidak tersesat yaitu Alquran dan Hadis. Namun lagi-lagi manusia belum mampu menundukkan ego di dalam dirinya, sehingga banyak orang menuruti nafsunya daripada petunjuk dari Alquran dan Hadis.

Apabila mau memahami, kehidupan manusia di dunia ini hanya sementara. Maka tidak ada waktu lagi bagi kita untuk menyia-nyiakannya.

Jika mau memanfaatkannya dengan bijak, maka sudah sepantasnya kita meningkatkan produktivitas dan selalu berbuat kebaikan. Meskipun banyak kesenangan di dunia, namun ingatlah bahwa dunia adalah tempatnya ujian.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw pernah memberikan contoh bagaimana menjalani hidup di dunia. Ibnu Mas’ud pernah menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidur di atas tikar.

Ketika bangun ada bekasnya (di tubuhnya). Maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah Saw, bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur?” Rasulullah Saw bersabda, “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti orang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Hadis Nabi Saw tersebut sama dengan pepatah Jawa urip iku mung mampir ngombe (hidup itu ibarat mampir sebentar untuk minum). Maka, mari kita ingat selalu bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat kekal adanya.

Arini Sa’adah

Freelance Writer

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × five =